Jumat, 24 Juli 2020

TUGAS GERONTIK (HIPERTENSI)


 ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN
DENGAN KASUS HIPERTENSI

Oleh kelompok I

MUH HIDAYATULLAH J                         S.0017.P.024
AFISAH MULYA RAHMA                        S.0017.P.001
ASMIANTI                                                   S.0017.P.004
CITRA                                                           S.0017.P.012
INDAHYANTI HUDIN                               S.0017.P.018
TINI WAHIYUNI                                        S.0017.P.038
SINDY SETYANI                                        S.0017.P.033

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
KARYA KESEHATAN
PRODI S1 KEPERAWATAN
KENDARI
2020


DAFTAR ISI


Table of Content


 

Daftar tabel


Nomor
Judul
           halaman
Tabel 1                                   Klasifikasi hipertensi                               5
Tabel 2                                   Analisa data                                            
tabel   3                                   Rencana asuhan keperawatan
Tabel 4                                   Implementasi dan evaluasi


BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar belakang

Hipertensi merupakan suatu gangguan pada pembuluh darah yang mengakibatkan suplai oksigen dan nutrisi yang dibawa oleh darah terhambat sampai ke jaringan tubuh yang membutuhkan(1). Hipertensi merupakan penyakit yang sangat berbahaya, karena tidak ada gejala atau tanda khas sebagai peringatan dini. Kebanyakan orang merasa sehat dan energik walaupun hipertensi(2). Hipertensi telah lama diketahui sebagai penyakit yang melibatkan banyak faktor baik faktor internal seperti jenis kelamin, umur, genetik dan faktor eksternal seperti pola makan, kebiasaan olahraga dan lain-lain.(3) penyakit ini dikenal sebagai "silent killer" karena tidak memiliki gejala awal tetapi dapat menyebabkan penyakit jangka panjang dan komplikasi yang berakibat fatal(4).
Menurut WHO secara global hampir mencapai satu milyar orang memiliki tekanan darah tinggi (hipertensi). Sepertiga dari populasi orang dewasa di Asia Tenggara termasuk Indonesia memiliki tekanan darah tinggi. Hipertensi penyebab kematian nomor 3 setelah stroke dan tuberkulosis, yakni mencapai 6,7% dari populasi kematian pada semua umur di Indonesia (2). Di Indonesia, angka kejadian hipertensi berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskedas) Departemen Kesehatan tahun 2013 mencapai sekitar 25,8%.(5). Berdasarkan hasil utama riskesdas 2018 prevalensi hipertensi berdasarkan hasil pengukuran pada penduduk umur ≥ 18 tahun menurut provinsi mulai dari tahun 2007 sampai tahun 2018 dengan kalimantan selatan dengan kasus terbanyak hingga 44,1% dan meningkat disetiap tahunnya dan provinsi Papua dengan kasus terendah yaitu 22,2%. Sedangkan Sultra pada tahun 2007 mengalami peningkatan kemudian mengalami penurunan drastis pada tahun 2013 lalu kemudian naik lagi pada tahun 2018 walaupun tidak setinggi pada tahun 2007(6).
Faktor resiko hipertensi dapat dibedakan atas faktor yang tidak dapat dikontrol (seperti keturunan, jenis kelamin, dan umur) dan yang dapat dikontrol (seperti kegemukan, kurang olahraga, merokok, serta konsumsi alkohol dan garam). Hipertensi juga dipengaruhi oleh faktor risiko ganda, baik yang bersifat endogen seperti neurotransmitter, hormon dan genetik, maupun yang bersifat eksogen seperti rokok, nutrisi dan stres(2)
Komplikasi pembuluh darah yang disebabkan hipertensi dapat menyebabkan penyakit jantung koroner, infark (kerusakan jaringan) jantung, stroke, dan gagal ginjal (Calhoun et al., 2008)(5), Akibat lain yang ditimbulkan tekanan darah yang selalu tinggi adalah pendarahan selaput bening, pecahnya pembuluh darah di otak serta kelumpuhan. Jika tekanan darah semakin tinggi maka semakin berat pula kerja jantung dan jika tidak segera diobati jantung akan menjadi lemah untuk melaksanakan beban tambahan. Hal tersebut memungkinkan terjadinnya penyempitan pembuluh darah dan gagal jantung dengan gejala seperti kelelahan, napas pendek, serta kemungkinan terjadi pembengkakan pada kaki (Sutanto, 2010)(7).
Penatalaksanaan hipertensi terdiri dari terapi farmakologis dan non farmakologis (8) Pemberian terapi non farmakologis relatif praktis, efisien dan dapat menekan pengeluaran. Beberapa jenis terapi non farmakologis diantaranya akupresure, terapi jus, pijat, yoga, pengobatan herbal, pernafasan dan relaksasi, relaksasi otot progresif merupakan salah satu teknik relaksasi (Bulecheck, dkk 2013 dalam Erwanto, dkk 2017).(7)




B.     Tujuan penulisan

1.      Mahasiswa mengetahui proses terjadinya hipertensi
2.      Mahasiswa mengetahui proses mencegah dan mengurangi faktor resiko hipertensi
3.      Mahasiswa mampu merumuskan rencana asuhan keperawatan untuk kasus hipertensi

C.    Manfaat penulisan

1.      Bagi mahasiswa, makalah ini dapat dijadikan sebagai bahan reverensi untuk kasus hipertensi
2.      Bagi masyarakat, makalah ini dapat memberikan edukasi serta menambah wawasan agar lebih mengetahui apa yang dimaksud dengan hipertensi dan sebagainya.
3.      Bagi ilmu keperawatan, makalah ini dapat dijadikan salah satu update referensi mengenai kasus hipertensi










BAB II

TINJAUAN TEORI

A.    Definisi

Hipertensi didefinisikan sebagai elevasi persisten dari tekanan darah sistolok (TDS) pada level 140 mmHg atau lebih dan tekanan darah diastolik(TDD) pada level 90 mmHg atau lebih.(9)
Hipertensi merupakan salah satu penyakit yang banyak dijumpai di masyarakat. Hipertensi bukanlah penyakit menular, namun penyakit ini merupakan penyakit kronik menahun yang banyak mempengaruhi kualitas hidup serta produktivitas (5).

B.     Etiologi

Penyebab hipertensi belum diketahui secara pasti, tetapi ada beberapa faktor risiko yang dapat menjadi pemicu terjadinya hipertensi mulai dari faktor yang tidak dapat diubah dan faktor yang dapat diubah(9).
1.      Faktor-faktor risiko yang tidak dapat diubah
a.       Riwayat keluarga
Hipertensi dianggap polenik dan multifaktorial yaitu, pada seseorang dengan riwayat hipertensi keluarga, beberapa gen mungkin berinteraksi dengan yang lainnya dan juga lingkungan yang dapat menyebabkan tekanan darah naik dari waktu kewaktu. Kecenderungan genentis yang membuat keluarga tertentu lebih rentan terhadap hipertensi mungkin berhubungan dengan peningkatan kadar natrium intraselular dan penurunan rasio kalsium-natrium, yang lebih sering ditemukan pada orang berkulit hitam. klien dengan orang tua yang memiliki hipertensi berada pada risiko hipertensi yang lebih tinggi pada usia muda.

b.      Usia
Hipertensi primer biasanya muncul antara usia 30-50 tahun. Peristiwa hipertensi meningkat dengan usia 50-60% klien yang berumur lebih dari 60 tahun memiliki tekanan darah lebih dari 140/90 mmHg. Penelitian epidimologi, bagaimanapun juga, telah menunjukan prognosis yang lebih buruk pada klien yang hipertensinya mulai pada usia muda. Hipertensi sistolik terisolasi umumnya terjadi pada orang yang berusia 50 tahun, dengan hampir 24% dari semua orang terkena pada usia 80 tahun.
c.       Jenis kelamin
Pada keseluruhan insiden, hipertensi lebih banyak terjadi pada pria dibandingkan wanita sampai kira-kira usia 55 tahun. Risiko pada pria dan wanita hampir sama antara usia 55 sampai 74 tahun; kemudian, setelah usia 74 tahun, wanita brisiko lebih besar.
d.      Etnis
Statistik moralitas mengindikasikan bahwa angka kematian pada wanita berkulit putih dewasa dengan hipertensi lebih rendah pada angka 4,7%; pria berkulit putih pada tingkat pada tingkat terendah berikutnya yaitu 6,3% dan pria berkulit hitam pada tingkat terendah berikutnya yaitu 22,5%; angka kematian tertinggi pada wanita berkulit hitam pada angka 29,3%. Alasan peningkatan prevalensi hipertensi di antara orang berkulit hitam tidaklah jelas, akan tetapi penignkatanya dikaitkan dengan kadar renin yang lebih rendah, sensitivitas yang lebih besar terhadap vasoprenin, tinggianya asupan garam, dan tingginya stres lingkungan.
2.      Faktor-faktor risiko yang dapat diubah
a.       Diabetes
hipertensi telah terbukti terjadi lebih dari dua kali lipat pada klien diabetes menurut beberapa studi penelitian terkini, diabetes mempercepat aterosklerosis dan menyebabkan hipertensi karena kerusakan pada pembuluh darah besar. Oleh karena itu hipertensi akan menjadi diagnosis yang lazim pada diabetes, meskipun dibetesnya didiagnosis dengan hipertensi, keputusan pengobatan dan perawatan tindak lanjut harus benar-benar individual dan agresif.
b.      Stres
Stres meningkatkan resistansi vaskular perifer dan curah jantung serta menstimulasi aktivitas sistem saraf simpatis. Dari waktu ke waktu hipertensi dapat berkembang. Stresor bisa banyak hal, mulai dari suara, infeksi, peradangan, nyeri, berkurangnya suplai oksigen, panas, dingin, trauma, pengerahan tenaga berkepanjangan, respons pada peristiwa kehidupan, obesitas usia tua, obat-obatan, penyakit pembedahan dan pengobatan medis dapat memicu respons stres.
c.       Obesitas
Obesitas terutama pada tubuh bagian atas (tubuh berbentuk “apel”), dengan meningkatnya jumlah lemak sekitar diafragma, pinggang, dan perut, dihubungkan dengan pengembangan hipertensi. Orang dengan kelebihan berat badan tetapi mempunyai kelebihan paling banyak dipantat, pinggul, dan paha (tubuh berbentuk “pear”) berada pada risiko jauh lebih sedikit untuk pengembangan hipetensi sekunder dari pada peningkatan berat badan saja. Kombinasi obesitas dengan faktor-faktor lain dapat ditandai dengan sindrom metabolis, yang juga meningkatkan risiko hipertensi.




d.      Nutrisi
Konsumsi natrium bisa menjadi faktor penting dalam perkembangan hipertensi esensial. Paling tidak 40% dari klien yang terkena hipertensi akan sensitif terhadap garam dan kelebihan garam mungkin menjadi penyebab pencetus hipertensi pada individu ini. Diet tinggi garam mungkin menyebabkan pelepasan hormon natriuetik yang berlebihan, yang mungkin secara tidak langsung meningkatkan tekanan darah. Muatan natrium juga menstimulasi mekanisme vasopresor di dalam sistem saraf (SSP). Penelitian juga menunjukan bahwa asupan diet rendah kalsium dan magnesium dapat berkontribusi dakam pengembangan hipertensi.
e.       Penyalahgunaan obat
Merokok iogaret, menkonsumsi banyak alkohol dan beberapa pengguaan obat terlarang merupakan faktor-faktor risiko hipertensi. Pada dosis tertentu nikoton dalam rokok sigaret serta obat serta obat seperti kokain dapat menyebabkan naiknya tekanan darah secara langsung. Namun bagaimanapun juga, kebiasaan memakai zat ini telah turut meningkatkan kejadian hipertensi dari waktu ke waktu. Kejadian hipertensi juga tinggi di antara orang yang minum 3 ons etanol perhari. Pengaruh dari kafein yang kontroversional. Kafein meningkatkan tekanan darah akut tidak mnghasilkan efek berkelanjutan.

C.    Patofisiologi

1.      Hipertensi primer (esensial)
Hipertensi primer kemungkinan besar terjadi karena kerusakan atau malfungsi pada beberapa atau semua sistem ini; sistem baroreseptor dan kemoreseptor arteri, pengaturan volume cairan tubuh, sistem renin angiostensin,autoregulasi vaskular, agaknya bukan kerusakan tunggal yang menyebabkan hipertensi esensial pada semua orang yang terkena.
Baroreseptor dan kemoresptor arteri bekerja secara refleks untuk mengontrol tekanan darah. Baroreseptor, reseptro pemegang utama, ditemukan pada sinus karotis, aorta, dan dinding bilik jantung kiri. Mereka memonitor tingkat tekanan darah dan mengatasi melalui vasodilastasi dan memperlambat denyut jantung melalui saraf vagus. Kemoreseptor, berada di medula dan tubuh konsentrasi oksigen, karbon dioksida, dan ion hidrogen (pH) dalam darah. Penurunan konsetrasi oksigen arteri atau pH menyebabkan kenaikan refleksif pada tekanan, sementara kenaikan konsentrasi karbon dioksida menyebabkan penurunan tekanan darah. Perubahan-perubahan pada volume cairan memperngaruhi tekanan arteri sistemik. Dengan demikian kelainan dalam transpor natrium dalam tubulus ginjal mungkin menyebabkan hipertensi esensial. Ketika kadar natrium dan air berlebih, volume total darah meningkat dengan demikian meningkatkan tekanan darah. Perubahan-perubahan patologis yang mengubah ambang tekanan darah sistemik. Selain itu, produksi hormon penahan natrium yang berlebihan menyebabkan hipetensi.
Renin dan angiostensin memainkan peran dalam  pengaturan tekanan darah. Renin adalah enzim yang diproduksi oleh ginjal yang mengatasi substratprotein plasma untuk memisahkan angiostensin I yang dihilangkan eolh enzim pengubah ke paru-paru untuk membentuk angiostensin II dan kemudian angiostensin III. Angiostensin II dan III bertindak sebagai vasokonstriktor dan juga merangsang pelepasan aldosteron. Dengan meningkatkan aktivitas sistem saraf simpatik, angiostensin II dan III tampaknya juga menghambat ekskresi natrium, yang menghasilkan naiknya tekanan darah. Sekresi renin yang bertambah telh diteliti sebagai penyebab meningkatnya resisten vaskular periferal pada hipertensi primer(9).
Sel endotel vaskular terbukti penting dalam hipertensi. Sel endotel memproduksi nitrat oksida yang mendilatasi arteriol dan endotelium yang mengontriksikannya. Disfungsi endotelium telah berimplikasi pada hipertensi esensial manusia(9).

2.      Hipertensi sekunder
Banyak masalah ginjal, vaskular, neurologis, dan obat dan makanan yang secara langsung atau tidak langsung berpengaruh negatif terhadaf ginjal dapat mengakibatkan gangguan serius pada organ-organ ini yang mengganggu ekskresi natrium, perfusi renal, atau mekanisme renin-angiostensin-aldosteron, yang mengakibatkan naiknya tekanan darah dari waktu ke waktu(9).
Glomerulonefritis dan stenosis arteri renal kronis adalah penyebab yang paling umum dari hipertensi sekunder. Juga, kelenjar adrenal dapat mengakibatkan hipertensi sekunder jika ia memproduksi aldosteron, kortisol, dan katekolamin berlebih. Kelebihan aldosteron mengakibatkan renal menyimpan natrium dan air, memperbanyak volume darah, dan menaikkan tekanan darah. Feokromositoma, tumor kecil di medula adrenal, dapat mengakibatkan hipertensi dramatis karena pelepasan jumpa epinefrin dan norepinofrin (disebut-katekolamin) yang berlebihan. Permasalahan adrenokorsikal lainya dapat mengakibatkan produksi kortisol yang berlebihan( sindrom chusing). Klien dengan sindrom chusing memiliki 80% risiko pengembangan hipertensi. Kortisol meningkatkan tekanan darah dengan meningkatnya simpanan natrium renal, kadar angiotensin II, dan reaktivitas vaskular  terhadap norepinefrin. Stres kronis meningkatkan kadar katekolamin, aldosteron, dan kortisol dalam darah(9).

3.      Perubahan pembuluh
Pada awal perjalanan perkembaangan hipertensi, tidak ada perubahan patologis nyata pada pembukuh darah dan organ darah yang dapat dilihat selain dari elevasi intermiten tekanan darah(hipertensi labil). Dengan perlahan, penyebaran perubahan patologis terjadi baik dalam pembuluh darah kecil dan kecil dan di jantung, ginjal, dan otak(9).
Pembuluh besar, seperti aorta, arteri koroner, arteri basilaris ke otak, dan pembuluh darah perifer pada organ tubuh, menjadi sklerosis, berkelok, dan lemah. Luminanya sempit, dengan hasil menurunnya aliran darah ke jantung, otak, dan ekstremitas bawah. Oleh karena kerusakan berlanjut,pembuluh besar mungkin menjadi tersumbat dan mungkin menjadi perdarahan, yang menyebabkan infark jaringan yang disuplai oleh pembuluh yang dengan tiba-tiba tekah diambil suplay darahnya(9).
Kerusakan pembuluh kecil, sama berbahayanya, mengakibatkan perubahan struktur jantung, ginjal, dan otak. Elevasi TDD merusak lapisan intima pembuluh kecil. Oleh karena kerusakan intima, fibrin terakumulasi dipembuluh, edema lokal berkembang, dan menggumpalan  intravasular mungkin terjadi. Hasil akhir dari perubahan ini adalah:
a.       penuruan suplai darah ke jaringan jantung, otak, ginjal, dan retina.
b.      gangguan fungsional progresif organ-organ ini.
c.       dan akhirnya, sebagai konsekuensi iskemia kronis, infrak jaringan yang disuplai oleh pembuluh ini, berasal dari banyak cara yang sama seperti oklusi pembuluh besar.



D.    Kriteria

                                      Tabel 1. Kriteria hipertensi(10).

E.     Pathway hipertensi

F.     Manifestasi klinik

Pada tahap awal perkembangan hipertensi, tidak ada manifestasi yang dicatat oleh klien atau praktisi kesehatan. Pada akhirnya tekanan darah akan naik, jika dan jika keadaan ini tidak “terdeteksi” selama pemeriksaan rutin, klien akan tetap tidak sadar bahwa tekanan darahnya naik. jika keadaan ini dibiarkan tidak terdiagnosis, tekanan darah akan terus naik, manifestasi klinik akan menjadi jelas, dan klien akhirnyaakan datang ke rumah sakit dan mengeluhkan sakit kepala terus menerus, kelelahan, pusing, berdebar-debar, sesak, pandangan kabur atau penglihatan ganda, atau mimisan(9).

G.    Komplikasi

Hipertensi merupakan masalah kesehatan yang potensial. Bila dibiarkan tidak diobati, keadaan ini akan menimbulkan berbagai macam komplikasi(3), Komplikasi pembuluh darah yang disebabkan hipertensi dapat menyebabkan penyakit jantung koroner, infark (kerusakan jaringan) jantung, stroke, dan gagal ginjal (Calhoun et al., 2008)(5), yang tidak jarang berujung pada kematian(3).

H.    Pemeriksaan penunjang

1.      Pemeriksaan Laboratorium; Hb/Ht: untuk mengkaji hubungan dari sel-sel terhadap volume cairan(viskositas) dan dapat mengindikasikan faktor resiko seperti: hipokoagulabilitas, anemia. BUN/ kreatinin: memberikan informasi tentang perfusi/fungsi ginjal. Glukosa: Hiperglikemi (DM adalah pencetus hipertensi) dapatdiakibatkan oleh pengeluaran kadar ketokolamin. Urinalisa: darah, protein, glukosa, mengisyaratkan disfungsi ginjal dan ada DM.
2.      CT Scan: mengkaji adanya tumor cerebral, encelopati.
3.      EKG: dapat menunjukan pola regangan, di mana luas, peninggian gelombang P adalah salah satu tanda dini penyakit jantung hipertensi
4.      IU: mengidentifikasikan penyebab hipertensi seperti: batu ginjal, perbaikan ginjal.
5.      Poto dada: menunjukkan destruksi kalsifikasi pada area katup, pembesaran jantung(11).

I.       Penatalaksanaan

Penatalaksanaan hipertensi terdiri dari terapi farmakologis dan non farmakologis (8) Pemberian terapi non farmakologis relatif praktis, efisien dan dapat menekan pengeluaran. Beberapa jenis terapi non farmakologis diantaranya akupresure, terapi jus, pijat, yoga, pengobatan herbal, pernafasan dan relaksasi, relaksasi otot progresif merupakan salah satu teknik relaksasi (Bulecheck, dkk 2013 dalam Erwanto, dkk 2017)(7).












 


BAB III

KONSEP KEPERAWATAN

A.    Pengkajian

1.      Riwayat atau adanya faktor-faktor resiko, antara lain:
kegemukan, riwaya keluarga positif, peningkatan kadar lipid serum, merokok sigaret berat, penyakit ginjal, terapi hormon kronis, gagal jantung, kehamilan.
2.      Aktivitas/ Istirahat, gejala:
kelemahan, letih, nafas pendek, gaya hidup monoton. Tanda: frekuensi jantung meningkat, perubahan irama jantung, takipnea.
3.      Sirkulasi, gejala:
riwayat hipertensi, aterosklerosis, penyakit jantung koroner/katup dan penyakit cebrocaskuler, episode palpitasi. Tanda: kenaikan TD, nadi denyutan jelas dari karotis, jugularis, radialis, takikardi, murmur stenosis valvular, distensi vena jugularis, kulit pucat, sianosis, suhu dingin (vasokontriksi perifer) pengisian kapiler mungkin lambat/ bertunda.
4.      Integritas Ego, gejala:
riwayat perubahan kepribadian, ansietas, faktor stress multiple (hubungan, keuangan, yang berkaitan dengan pekerjaan). Tanda: letupan suasana hati, gelisah, penyempitan continue perhatian,tangisan meledak, otot muka tegang, pernafasan menghela, peningkatan pola bicara.
5.      Eliminasi, gejala:
gangguan ginjal saat ini atau (seperti obstruksi atau riwayat penyakit ginjal pada masa yang lalu).
6.      Makanan/cairan, gejala:
makanan yang disukai yang mencakup makanan tinggi garam, lemak serta kolesterol, mual, muntah dan perubahan BB akhir - akhir ini (meningkat/turun) dan riwayat penggunaan diuretik. Tanda: berat badan normal atau obesitas, adanya edema, glikosuria.
7.      Neurosensori, gejala:
keluhan pening pening/pusing, berdenyut, sakit kepala, sub oksipital (terjadi saat bangun dan menghilangkan secara spontan setelah beberapa jam), gangguan penglihatan (diplobia, penglihatan kabur,epistakis). Tanda: status mental, perubahan keterjagaan, orientasi, pola/isi bicara, efek, proses pikir, penurunan kekuatan genggaman tangan.
8.      Nyeri/ketidaknyamanan, gejala:
angina (penyakit arteri koroner/ keterlibatan jantung), sakit kepala.
9.      Pernafasan, gejala:
dispnea yang berkaitan dari kativitas/kerja takipnea, ortopnea, dispnea, batuk dengan/tanpa pembentukan sputum, riwayat merokok. Tanda: distres pernafasan/penggunaan otot aksesori pernafasan bunyi nafas tambahan. (krakties/mengi), sianosis.
10.  Keamanan, gejala:
gangguan koordinasi/cara berjalan, hipotensi postural.(11)

B.     Diagnosa

1.      Intoleransi aktivitas b.d ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen (Kode: 00092 )
2.      Nyeri akut b.d agens cedera biologis (Kode: 00132)
3.      Hambatan rasa nyaman b.d sumber daya tidak adekuat (00214)
4.      Risiko teridakefektifan perfusi jaringan dengan faktor risiko asupan garam tinggi, merokok(Kode: 00228)




C.    Kriteria Hasil

1.      Intoleransi aktivitas b.d ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen (Kode: 00092 )
Toleransi terhadap aktivitas (0005):: kemudahan dalam aktivitas hidup harian, tekanan darah diastolik ketika beraktivitas, tekanan darah sistolik ketika beraktivias.
2.      Nyeri akut b.d agens cedera biologis (Kode: 00132)
Kontrol nyeri (1605): mengenali kapan nyeri terjadi, menggunakan tindakan pencegahan, menggunakan analgesik yang direkomendasikan
3.      Hambatan rasa nyaman b.d sumber daya tidak adekuat (00214)
Status kenyaman fisik(2010): relaksasi otot, kesejateraan fisik, tingkat energi.
4.      Risiko teridakefektifan perfusi jaringan dengan faktor risiko asupan garam tinggi, merokok (Kode: 00228)
Perfusi jaringan (0407): aliran darah melalui pembuluh darah jantung, aliran darah melalui pembuluh perifer.

D.    Intervensi

1.       Intoleransi aktivitas b.d ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen(Kode: 00092 )
Terapi  aktivitas(4310)
a.       Pertimbangkan kemampuan klien dalam berpartisipasi melalui aktivitas fisik.
b.      Bantu pasien menjadwalkan waktu-waktu spesifik terkait dengan aktivitas harian.
c.       Bantu klien untuk mengidentifikasi aktivitas yang dinginkan
d.      Bantu klien untuk mengidentifikasi aktivitas yang bermakna


2.      Nyeri akut b.d agens cedera biologis (Kode: 00132)
Manajemen nyeri(1400)
a.       Lakukan pengkajian nyeri komprehensif yang meliputi lokasi, karakterisiktik, onset/durasi, frekuensi, kualitas, intensitas atau beratnya nyeri dan faktor pencetus.
b.      Gunakan komunikasi terapeutik untuk mengetahui pengalaman nyeri dan sampaikan penerimaan pasien terhadap nyeri.
c.       Kurangi atau eliminasi faktor-faktor yang dapat mencetuskan atau meningkatkan nyeri.
d.      Dukung istrahat/tidur yang adekuat untuk membantu penurunan nyeri.
3.      Hambatan rasa nyaman b.d sumber daya tidak adekuat.
Terapi relaksasi (5360):
a.       Gambarkan resonalisasi dan manfaat relaksasi serta jenis relaksasi yang tersedia
b.      Tentukan apakah ada intervensi relakasasi dimasa lalu yang sudah memberikan manfaat.
c.       Berikan deskripsi detail tentang terkait intervensi relakasasi yang dipilih.
d.      Tunjukkan dan praktikkan teknik relaksasi pada klien.
e.       Dorong pengulangan teknik praktik-praktik tertentu secara berkala.
4.      Risiko teridakefektifan perfusi jaringan dengan faktor risiko asupan garam tinggi, merokok. (Kode: 00228)
Pengajaran proses penyakit(5602):
a.       kaji tingkat pengetahuan pasien terkait dengan proses penyakit yang spesifik.
b.      Jelaskan patofisiologi penyakit dan bagaimana hubungannya dengan anatomi dan fisiologi sesuai kebutuhan.
c.       Jelaskan tanda dan gejala umum dari penyakit, sesuai kebutuhan
d.      Berikan informasi pada pasien mengenai kondisinya, sesuai kebutuhan.
e.       Diskusikan perubahan gaya hidup yang mungkin diperlukan untuk mencegah komplikasi dimasa yang akan datang dan/atau mengontrol proses penyakit.












BAB IV

ASUHAN KEPERAWATAN

A.    Kasus

Seorang pasien bernama Tn. M dengan usia 50 tahun, datang kerumah sakit dengan keluhan sakit kepala dan merasa tengang pada area belakang dan pundak. keluarga pasien yang mengantarkan Tn. M, mengakatakan pasien mengeluh sakit kepala dan tegang pada leher setelah memakan daging dan kepiting saat sedang di tempat pesta, tetapi klien mengeluh setelah pulang dari tempat pesta, dan langsung diantarkan dirumah sakit.

B.     Penkajian

1.      Identitas pasien.
a.       Nama                           : Tn. M
b.      Umur                           : 50 tahun
c.       Jenis kelamin               : Laki-laki
d.      Tempat tanggal lahir   : Motui 19 Mei 1970
e.       Alamat                        : Desa motui, Kec. Motui
f.       Pekerjaan                     : PNS
g.      Agama                         : islam
h.      Suku bangsa/ras          : tolaki
i.        Pendidikan terakhir     : Strata 1
j.        Diagnosa medis           : hipertensi derajat 1
2.      Identitas keluarga/wali
a.       Nama                                       : Tn. S
b.      Jenis kelamin                           : Laki-laki
c.       Usia                                         : 25 Tahun
d.      Alamat                                    : Desa motui, Kec. motui
e.       Hubungan dengan pasien        : Anak pasien
3.      Riwayat kesehatanm
a.       Keluhan Utama saat MRS : sakit kepala dan merasa tengang pada area belakang dan pundak.
b.      Keluhan utama saat pengkajian : sakit kepala dan merasa tengang pada area belakang dan pundak.
c.       Riwayat keluhan utama : merasa sakit kepala dan tegang dileher serta   pundak setelah memakan daging dan kepiting. Klien mengatakan cepat lelah saat berkativitas
d.      Riwayat kesehatan sekarang : klien mengatakan pusing, dan seluruh  badan terasa lemas. Klien nampak terbaring lemah, Klien nampak meringis, dan memijit belakang lehernya.
e.       Riwayat kesehatan keluarga


G1: kakek dan nenek klien telah meninggal dan tidak mempunyai penyakit yang sama dengan klien
G2: Ayah dan ibu klien telah meninggal dan tidak mempunyai riwayat penyakit yang sama dengan klien
G3: klien adalah anak ketiga dari lima bersaudara dan saudaranya tidak mempunyai riwayat penyakit yang sama dengan klien
f.       Riwayat penyakit terdahulu    : -
g.      Riwayat alergi                          : -
h.      Riwayat kehamilan                  : -
i.        Kebiasaan                                 : merokok
4.      Keadaan umum dan tanda-tanda vital
a.       Keadaan umum : GCS 15 (composmentis)
b.      TD                     : 150/90 mmHg
c.       N                       : 125 X/menit
d.      S                        : 37 ° C
e.       R                       : 20 X/menit
5.      Pemeriksaan fisik
a.       Kepala : nampak simentris, warna rambut hitam bercampur putih, berbau, nampak ada kulit kepala yang kurang bersih, muka tampak pucat.
b.      Mata : simetris antara kiri dan kanan, konjungtiva anemis, refrek pupil ada.
c.       Telinga : simetris antara kiri dan kanan, tidak terdapat serumen.
d.      Leher :
e.       Dada : tidak ada bunyi tambahan pada jantung dan paru, dada nampak simetris
f.       Ekstremitas : CRT > 2 detik
6.      Pola makan :
Menyukai ikan asin dan segala jenis seafood

C.    Analisa data

Nama : Tn. M
Umur : 50 Tahun
Diagnosa medis : hipertensi tipe 1
No
Data
Etiologi
Problem
1
Ds: klien mengatakan pusing, dan seluruh  badan terasa lemas. Klien mengatakan cepat lelah saat berkativitas
Do: klien nampak terbaring lemah
TD : 150/90 mmHg
N   : 125 X/menit
S    : 37 ° C
R   : 20 X/menit
Umur, gaya hidup, gentetik
Hipertensi
Jantung
Peningkatan kerja jantung
Risiko penurunan perfusi jaringan jantung
Intoleransi aktivitas



Intoleransi aktivitas b.d ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen.
2
Ds: sakit kepala dan merasa tengang pada area belakang dan pundak, klien mengatakan pusing
Do: Klien nampak meringis, dan memijit belakang lehernya.
Umur, gaya hidup, gentetik
Hipertensi
Otak
Retensi pembuluh darah
Peningkatan TIK
Nyeri kepala
Nyeri akut
Nyeri akut b.d agens cedera biologis
3
Ds: merokok, Menyukai ikan asin dan segala jenis seafood

Umur, gaya hidup, gentetik
Hipertensi
Penumpukan nikotin pada pembuluh darah, peningkatan Na
Peningkatan kerja jantung
Intoleransi aktivitas

Risiko teridakefektifan perfusi jaringan

Risiko teridakefektifan perfusi jaringan dengan faktor risiko asupan garam tinggi, merokok

Tabel 2. Analisa data

D.    Diagnosa

1.      Intoleransi aktivitas b.d ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen(Kode: 00092 )
2.      Nyeri akut b.d agens cedera biologis (Kode: 00132)
3.      Risiko teridakefektifan perfusi jaringan dengan faktor risiko asupan garam tinggi, merokok(Kode: 00228)



E.     Rencana asuhan keperawatan

Nama : Tn. M
Umur : 50 tahun
No
Diagnosa keperawatan
Tujuan dan kriteria hasil (NOC)
Intervensi (NIC)
1.
Domain: 4 aktivitas/istrahat
Kelas: 4 respons kardiovaskular/pilmonal
Kode: 00092
Intoleransi aktivitas b.d ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen.
Ditandai dengan:
Ds: klien mengatakan pusing, dan seluruh  badan terasa lemas. Klien mengatakan cepat lelah saat berkativitas
Do: klien nampak terbaring lemah
TD : 150/90 mmHg
N   : 125 X/menit
S    : 37 ° C
R   : 20 X/menit
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3×24 jam/menit:
Toleransi terhadap aktivitas (0005): (skala 1:sangat terganggu, 2: banyak terganggu, 3: cukup terganggu, 4: sedikit terganggu, 5: tidak terganggu)
Dengan kriteria:
kemudahan dalam aktivitas hidup harian
(skala 3 menjadi 4).


Terapi aktivitas (4310)
Aktivitas keperawatan:
a.       Pertimbangkan kemampuan klien dalam berpartisipasi melalui aktivitas spesifik.
b.      Bantu pasien menjadwalkan waktu-waktu spesifik terkait dengan aktivitas harian.
c.       Bantu klien untuk mengidentifikasi aktivitas yang dinginkan
d.      Bantu klien untuk mengidentifikasi aktivitas yang bermakna.

2.
Domain: 12 kenyamanan  
Kelas: 1 kenyamanan fisik
Kode: 00132
Nyeri akut b.d agens cedera biologis
Ditandai dengan:
Ds: sakit kepala dan merasa tengang pada area belakang dan pundak, klien mengatakan pusing
Do: Klien nampak meringis, dan memijit belakang lehernya.
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3×24 jam/menit:
Kontrol nyeri (1605) : (skala 1: tidak pernah menunjukkan, 2: jarang menunjukkan, 3: kadang menunjukkan, 4: sering menunjukkan, 5: secara konsisten  menunjukkan)
Dengan kriteria :
Mengenali kapan nyeri terjadi (skala 2 menjadi 3)
Menggunakan tindakan pencegahan (skala 2 menjadi 3).
Manajemen nyeri (1400)
Aktivtas keperawatan:
a.       Lakukan pengkajian nyeri komprehensif yang meliputi lokasi, karakterisiktik, onset/durasi, frekuensi, kualitas, intensitas atau beratnya nyeri dan faktor pencetus.
b.      Gunakan komunikasi terapeutik untuk mengetahui pengalaman nyeri dan sampaikan penerimaan pasien terhadap nyeri.
c.       Kurangi atau eliminasi faktor-faktor yang dapat mencetuskan atau meningkatkan nyeri.
d.      Dukung istrahat/tidur yang adekuat untuk membantu penurunan nyeri.

3.
Domain: 4 aktivitas/istrahat
Kelas: 4 respons kardiovaskular/pilmonal
Kode: 00228
Risiko ketidakefektifan perfusi jaringan perifer dengan faktor resiko asupan garam tinggi, merokok
Ditandai dengan:
Ds: merokok, Menyukai ikan asin dan segala jenis seafood

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3×24 jam/menit:
Perfusi jaringan perifer (0407) (skala: 1 Deviasi berat dari kisaran normal, 2: deviasi yang cukup besar dari kisaran normal, 3: deviasi sedang dari kisaran normal, 4: deviasi ringan dari kisaran normal, 5: tidak ada deviasi dari kisaran normal.
Dengan kriteria:
Nilai rata-rata tekanan darah.
Kelemahan otot.
Pengajaran proses penyakit(5602)
a.       kaji tingkat pengetahuan pasien terkait dengan proses penyakit yang spesifik.
b.      Jelaskan patofisiologi penyakit dan bagaimana hubungannya dengan anatomi dan fisiologi sesuai kebutuhan.
c.       Jelaskan tanda dan gejala umum dari penyakit, sesuai kebutuhan
d.      Berikan informasi pada pasien mengenai kondisinya, sesuai kebutuhan.
e.       Diskusikan perubahan gaya hidup yang mungkin diperlukan untuk mencegah komplikasi dimasa yang akan datang dan/atau mengontrol proses penyakit.

Tabel 3. Rencana asuhan keperawatan


Diagnosa keperawatan
Implementasi
Evaluasi
jam
Hari/Tanggal: senin/ 02,06.2020
Hari/tanggal : kamis/05,06,2020
Jam : 06.20
Domain: 4 aktivitas/istrahat
Kelas: 4 respons kardiovaskular/pilmonal
Kode: 00092
Intoleransi aktivitas b.d ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen.

07:00
1.      Mempertimbangkan kemampuan klien dalam berpartisipasi melalui aktivitas spesifik.
Hasil: klien tidak mudah kelelahan karena berbagai aktivitas
2.      Membantu pasien menjadwalkan waktu-waktu spesifik terkait dengan aktivitas harian.
Hasil: klien dapat memanajemen waktu dengan baik dan dapat melakukan aktivitas tanpa merasa cepat kelelahan.
3.      Membantu klien untuk mengidentifikasi aktivitas yang dinginkan.
Hasil: klien dapat melakukan aktivitas yang diinginkannya dengan baik.
4.      Membantu klien untuk mengidentifikasi aktivitas yang bermakna.
Hasil: klien dapat melakukan aktivitas yang bermanfaat dan tidak membutuhkan energi yang banyak.
S: klien mengatakan dapat beraktivitas dengan baik tampa merasa cepat lelah
O: klien nampak lebih mudah bergerak dan lebih aktif
TD : 120/80 mmHg
N   : 99 X/menit
S    : 37 ° C
R   : 20 X/menit

Domain: 12 kenyamanan 
Kelas: 1 kenyamanan fisik
Kode: 00132
Nyeri akut b.d agens cedera biologis


1.      Melakukan pengkajian nyeri komprehensif yang meliputi lokasi, karakterisiktik, onset/durasi, frekuensi, kualitas, intensitas atau beratnya nyeri dan faktor pencetus.
Hasil: nyeri dirasakan pada kepala dan nyeri terasa ditusuk-tusuk.
2.      Menggunakan komunikasi terapeutik untuk mengetahui pengalaman nyeri dan sampaikan penerimaan pasien terhadap nyeri.
Hasil: pasien merasakan nyeri pada kepala dan nyeri menyebar hingga kepundak, dengan insensitas sedang
3.      Mengurangi atau eliminasi faktor-faktor yang dapat mencetuskan atau meningkatkan nyeri.
Hasil: nyeri berkurangi, dan faktor penyebab terkurangi
4.      Mendukung istrahat/tidur yang adekuat untuk membantu penurunan nyeri.
Hasil: pasien tenang dan nyeri teratasi


S: klien mengatakan nyeri berkurang dan lebih merasa lebih baik.
O: klien nampak tenang dan tidak meringis

Domain: 4 aktivitas/istrahat
Kelas: 4 respons kardiovaskular/pilmonal
Kode: 00228
Risiko ketidakefektifan perfusi jaringan perifer dengan faktor resiko asupan garam tinggi, merokok


1.      kaji tingkat pengetahuan pasien terkait dengan proses penyakit yang spesifik.
Hasil: klien tidak terlalu mengetahui tentang penyakit yang dideritanya
2.      Jelaskan patofisiologi penyakit dan bagaimana hubungannya dengan anatomi dan fisiologi sesuai kebutuhan.
Hasil: klien mulai memahami tentang perjalanan penyakit dan sistem tubuhnya
3.      Jelaskan tanda dan gejala umum dari penyakit, sesuai kebutuhan.
Hasil: klien mulai memahami tanda dan gejala penyakit
4.      Berikan informasi pada pasien mengenai kondisinya, sesuai kebutuhan.
Hasil: klien mengetahui keparahan mengenai penyakitnya serta kondisi tubuhnya.
5.      Diskusikan perubahan gaya hidup yang mungkin diperlukan untuk mencegah komplikasi dimasa yang akan datang dan/atau mengontrol proses penyakit.
Hasil: klien berinisiatif mengubah pola hidupnya menjadi lebih sehat dengan mengkonsumsi makanan yang sehat dan berhenti merokok.
S : Klien mengatakan akan mengubah gaya hidup, menjadi sehat.
O :  klien lebih tenang dan antusias untuk sembuh

Tabel 4. Implementasi dan evaluasi
F. Evaluasi

No

Tanggal

Diagnosa

Evaluasi

1      

Kamis

05,06,2020

Domain: 4 aktivitas/istrahat

Kelas: 4 respons kardiovaskular/pilmonal 

Kode: 00092

Intoleransi aktivitas b.d ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen.

 

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3×24 jam/menit:

S: klien mengatakan dapat beraktivitas dengan baik tampa merasa cepat lelah

O: klien nampak lebih mudah bergerak dan lebih aktif

TD : 120/80 mmHg

N   : 99 X/menit

S    : 37 ° C

R   : 20 X/menit

A: masalah belum teratasi

P: intervensi dilanjutkan

 

2.       

Kamis

05,06,2020

Domain: 12 kenyamanan 

Kelas: 1 kenyamanan fisik

Kode: 00132

Nyeri akut b.d agens cedera biologis

 

S: klien mengatakan nyeri berkurang dan lebih merasa lebih baik.

O: klien nampak tenang dan tidak meringis

A: masalah belum teratasi

P: intervensi dilanjutkan

 

3.       

Kamis

05,06,2020

Domain: 4 aktivitas/istrahat

Kelas: 4 respons kardiovaskular/pilmonal 

Kode: 00228

Risiko ketidakefektifan perfusi jaringan perifer dengan faktor resiko asupan garam tinggi, merokok

 

S : Klien mengatakan akan mengubah gaya hidup, menjadi sehat.

O :  klien lebih tenang dan antusias untuk sembuh

A: masalah belum teratasi

P: intervensi dilanjutkan

 




BAB V

PENUTUP

A.    Kesimpulan

Hipertensi merupakan suatu gangguan pada pembuluh darah yang mengakibatkan suplai oksigen dan nutrisi yang dibawa oleh darah terhambat sampai ke jaringan tubuh yang membutuhkan. Hipertensi merupakan penyakit yang sangat berbahaya, karena tidak ada gejala atau tanda khas sebagai peringatan dini.
Hipertensi dapat dicegah dengan menggurangi penyebab yang masih dapat diubah seperti gaya hidup, dengan rajin berolahraga, mengkonsumsi makanan yang sehat, dan tidak merokok
Asuhan keperawatan pada makalah ini seperti pada asuhan keperawatan yang lainya yang terdiri dari pengkajian, diagnosa, intervensi, implementasi, dan evaluasi. Dan asuhan keperawatan pada makalah ini dalam menentukan diagnosa, kriteria hasil, dan intervensi menggunakan NANDA NIC NOC

B.     Saran

1.      Bagi mahasiswa, asuhan keperawatan pada makalah ini dapat dijadikan konsep dalam  pembuatan asuhan keperawatan yang update
2.      Makalah ini juga dapat dijadikan referensi untuk menambah pengetahuan masyarakat tentang hipertensi
3.      Bagi ilmu keperawatan, makalah ini dapat juga dijadikan salah satu referensi untuk menambah ilmu mengenai hipertensi


DAFTAR PUSTAKA

1.        Sulistyarini I. Terapi Relaksasi untuk Menurunkan Tekanan Darah dan Meningkatkan Kualitas Hidup Penderita Hipertensi. J Psikol. 2013;40(1):28–38.
2.        Anwar R. Konsumsi buah dan sayur serta konsumsi susu sebagai faktor risiko terjadinya hipertensi di Puskesmas S. Parman Kota Banjarmasin. J Skala Kesehat. 2014;5(1):1–8.
3.        Sartik S, Tjekyan RS, Zulkarnain M. Risk Factors and the Incidence of Hipertension in Palembang. J Ilmu Kesehat Masy. 2017;8(3):180–91.
4.        Fitriani E. POLA KEBIASAAN MAKAN ORANG LANJUT USIA (Studi Kasus: Penderita Penyakit Hipertensi Sukubangsa Minangkabau di Jakarta). 2011;
5.        Alfian R, Susanto Y, Khadizah S. Kualitas Hidup Pasien Hipertensi Dengan Penyakit Penyerta Di Poli Jantung RSUD Ratu Zalecha Martapura. J Pharmascience. 2017;4(2):210–8.
6.        Kemenkes RI. Hasil Utama Riskesdas 2018. 2018.
7.        Kadri H, Fitrianti S. Penatalaksanaan Hipertensi Dengan Relaksasi Otot Progresif Pada Lansia Di Panti Sosial Tresna Werdha Budi Luhur Kota Jambi. J Abdimas Kesehat [Internet]. 2019;1(2):138–42. Available from: http://jak.stikba.ac.id/index.php/jak/article/view/40
8.        martin W. Pengaruh Terapi Meditasi Terhadap Perubahan Tekanan Darah Pada Lansia Yang Mengalami Hipertensi. J Iptek Terap. 2016;10(4):211–7.
9.        joyce M. Black  jane hokanson H. keperawatan medikal bedah. elsevier; 2014.
10.      Dokter P, Indonesia H. Konsensus Penatalaksanaan Hipertensi 2019 Perhimpunan Dokter Hipertensi Indonesia Perlunya Panduan Hipertensi. 2019;
11.      Ibrahim. ASUHAN KEPERAWATAN PADA LANSIA DENGAN HIPERTENSI Nursing Care with Hypertension in The Elderly Hypertension akhirnya menjadi istilah kedokteran yang populer untuk menyebut penyakit tekanan darah tinggi . Tekanan yang dipompakan dari jantung untuk tajam da. Idea Nurs J. 2011;II(1).


2 komentar:

KEPERAWATAN KELUARGA

    ASUHAN KEPERAWAT KELUARGA   DENGAN MASALAH GASTRITIS AKUT     OLEH: Ti...