ASUHAN KEPERAWATAN
DIABETES MELITUS
OLEH:
KELOMPOK IV
Anggi
anggareni
|
S.0017.P.004
|
Bangkit
astowin
|
S.0017.P.011
|
Jeiren
crishtiana
|
S.0017.P.020
|
Nurfita
|
S.0017.P.029
|
Tini
wahiyuni
|
S.0017.P.0038
|
SEKOLAH
TINGGI ILMU KESEHATAN
KARYA
KESEHATAN
KENDARI
2019
KATA
PENGANTAR
Puji dan syukur saya
panjatkan ke hadirat Allah SWT,Karena berkat rahmat-Nya kami dapat
menyelesaikan penyusunan makalah ini tepat pada waktunya. Terlantun solawat
serta salam buat untuk imam besar kita semua Nabi Muhammad SAW.
Kami menyadari bahwa
dalam penyusunan makalah ini masih banyak kekurangan, baik dari segi isi maupun
redaksinya. Makalah ini masih jauh dari kesempurnaan karena itu kami
mengharapkan kritik dan saran yang membangun agar dapat menyusun makalah yang
lebih baik di masa yang akan datang. Semoga makalah ini bermanfaat untuk
memberikan kontribusi bagi kita dalam memajukan ilmu keperawatan.
Kendari, 20 mei 2020
DAFTAR ISI
Contents
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar belakang
Diabetes Mellitus adalah sekelompok penyakit
metabolik yang ditandai oleh hiperglikemia atau peninggian kadar gula darah
akibat gangguan pada pengeluaran (sekresi insulin), kerja insulin atau
keduanya, hiperglikemia kronik nantinya dapat menyebabkan kerusakan jangka
panjang dan gangguan fungsi organ-organ terutama mata, ginjal, syaraf, jantung
dan pembuluh darah(1).
Pengaruh faktor genetik terhadap penyakit ini dapat
terlihat jelas dengan tingginya penderita diabetes yang berasal dari orang tua
yang memiliki riwayat diabetes melitus sebelumnya. Diabetes melitus tipe 2
sering juga di sebut diabetes life style karena penyebabnya selain faktor
keturunan, faktor lingkungan meliputi usia, obesitas, resistensi insulin,
makanan, aktifitas fisik, dan gaya hidup penderita yang tidak sehat juga
bereperan dalam terjadinya diabetes ini(2).
International Diabetes Federation menyatakan bahwa
tahun 2015, sekitar 415 juta orang di seluruh dunia diperkirakan menderita DM.
Sedangkan pada tahun 2017, penderita DM meningkat menjadi 425 juta diseluruh
dunia. Jumlah terbesar orang dengan DM yaitu berada di wilayah Pasifik Barat
159 juta dan Asia Tenggara 82 juta. China menjadi negara dengan penderita DM
terbanyak di dunia dengan 114 juta penderita, kemudian di ikuti oleh India 72,9
juta, lalu Amerika serikat 30,1 juta, kemudian Brazil 12,5 juta dan Mexico 12
juta penderita. Indonesia menduduki peringkat ke-enam untuk penderita DM dengan
jumlah 10,3 juta penderita(3). Prevalensi
penderita DM diindonesia Jika dibandingkan dengan tahun 2013, prevalensi DM
berdasarkan diagnosis dokter pada penduduk umur ≥ 15 tahun hasil Riskesdas 2018
meningkat menjadi 2%. Prevalensi DM berdasarkan diagnosis dokter dan usia ≥ 15
tahun yang terendah terdapat di Provinsi NTT, yaitu sebesar 0,9%, sedangkan
prevalensi DM tertinggi di Provinsi DKI Jakarta sebesar 3,4%. Prevalensi DM
semua umur di Indonesia pada Riskesdas 2018 sedikit lebih rendah dibandingkan
prevalensi DM pada usia ≥15 tahun, yaitu sebesar 1,5%. Sedangkan provinsi
dengan prevalensi DM tertinggi semua umur berdasarkan diagnosis dokter juga
masih di DKI Jakarta dan terendah di NTT(4). Sedang
prevalensi DM disulawesi tenggara berdasarkan diagnosis dokter pada penduduk
umur ≥ 15 tahun menurut provinsi. Berdasarkan data Riskesdas 2018 sulawesi
tenggara berada pada urutan 28 dengan prevalensi
sebesar 1,2%(4).
Diabetes mellitus dapat dicegah dengan berbagai cara
seperti merubah gaya hidup. Gaya hidup yang dimaksud meliputi kebiasaan
konsumsi makanan beresiko, merokok, konsumsi alkohol. Selain itu, mengkonsumsi
herbal juga dapat mengurangi resiko terjadinya diabetes mellitus salah satunya
Daun belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi L.) Selain dari hal diatas, Salah satu upaya untuk mengurangi timbulnya tanda dan
gejala serta
mencegah terjadinya diabetes mellitus adalah dengan melakukan pemeriksaan gula
darah secara rutin. Pemeriksaan gula darah biasanya sering dilakukan masyarakat
di puskesmas. Puskesmas mempunyai peran penting dalam peningkatan mutu dan daya
saing sumber daya manusia di Indonesia maupun internasional serta bertanggung
jawab mungupayakan kesehatan pada pada jenjang tingkat pertama dan berkewajiban
menanamkan budaya hidup sehat kepada setiap keluarga(5).
Pentingnya bagi seorang perawat untuk memberikan
edukasi kepada masyarakat guna menurunkan risiko terjadinya diabetes mellitus.
Edukasi yang diberikan adalah
pemahaman tentang perjalanan penyakit, pentingnya
pengendalian penyakit, komplikasi yang timbul dan resikonya, pentingnya
intervensi obat dan pemantauan glukosa darah, cara mengatasi hipoglikemia,
perlunya latihan fisik yang teratur, dan cara mempergunakan fasilitas
kesehatan. Mendidik pasien bertujuan agar pasien dapat mengontrol gula darah,
mengurangi komplikasi dan meningkatkan kemampuan merawat diri sendiri.
B.
Tujuan
1. Mahasiswa
mengetahui proses terjadinya penyakit diabetes
mellitus
2. Mahasiswa
mengetahui cara mencegah diabetes
mellitus
3. Mahasiswa
mampu merumuskan rencana asuhan keperawatan pada penyakit diabetes mellitus
C.
Manfaat
1. Bagi
mahasiswa, makalah ini dapat dijadikan sebagai bahan reverensi untuk materi
kasus diabetes melitus
2. Bagi
masyarakat, makalah ini dapat memberikan edukasi tentang penyebab serta
pencegahan diabetes mellitus
3. Bagi
Ilmu pengetahuan keperawatan, makalah ini dapat dijadikan sebagai update
referensi mengenai kasus diabetes mellitus
BAB II
TINJAUAN
TEORI
A.
Definisi
Diabetes mellitus (DM) merupakan sekelompok gangguan
metabolik dengan gejala umum hiperglikemia. Terdapat beberapa tipe diabetes
yang merupakan akibat dari interaksi kompleks antara faktor genetik dan faktor
lingkungan. Beberapa proses patologis terlibat dalam terjadinya diabetes, mulai
dari perusakan sel β pada pankreas dengan konsekuensi defisiensi insulin,
sampai abnormalitas yang berujung pada resistensi insulin(6).
Diabetes mellitus (DM) merupakan kumpulan gejala
yang timbul pada seseorang akibat tubuh mengalami gangguan dalam mengontrol
kadar gula darah. Gangguan tersebut dapat disebabkan oleh sekresi hormon
insulin tidak adekuat atau fungsi insulin terganggu (resistensi insulin) atau
justru gabungan dari keduanya(7).
B.
Anatomi fisiologi
1. Anatomi
pancreas
Pankreas terletak melintang dibagian atas
abdomen dibelakang gaster didalam ruang retroperitoneal. Disebelah kiri ekor
pankreas mencapai hilus limpa diarah kronio – dorsal dan bagian atas kiri kaput
pankreas dihubungkan dengan corpus pankreas oleh leher pankreas yaitu bagian
pankreas yang lebarnya biasanya tidak lebih dari 4 cm, arteri dan vena
mesentrika superior berada dileher pankreas bagian kiri bawah kaput pankreas
ini disebut processus unsinatis pancreas.
Pankreas terdiri dari
dua jaringan utama yaitu :
a. Asinus,
yang mengekskresikan pencernaan ke dalam duodenum.
b. Pulau
Langerhans, yang tidak mempunyai alat untuk mengeluarkan getahnya namun
sebaliknya mensekresi insulin dan glukagon langsung kedalam darah.
Pankreas manusia mempunyai 1 – 2 juta
pulau langerhans, setiap pulau langerhans hanya berdiameter 0,3 mm dan tersusun
mengelilingi pembuluh darah kapiler.
Pulau langerhans mengandung tiga jenis
sel utama, yakni sel-alfa, beta dan delta. Sel beta yang mencakup kira-kira 60
% dari semua sel terletak terutama ditengah setiap pulau dan mensekresikan
insulin. Granula sel B merupakan bungkusan insulin dalam sitoplasma sel. Tiap
bungkusan bervariasi antara spesies satu dengan yang lain. Dalam sel B ,
molekul insulin membentuk polimer yang juga kompleks dengan seng. Perbedaan
dalam bentuk bungkusan ini mungkin karena perbedaan dalam ukuran polimer atau
agregat seng dari insulin. Insulin disintesis di dalam retikulum endoplasma sel
B, kemudian diangkut ke aparatus golgi, tempat ia dibungkus didalam granula
yang diikat membran. Granula ini bergerak ke dinding sel oleh suatu proses yang
tampaknya sel ini yang mengeluarkan insulin ke daerah luar dengan eksositosis.
Kemudian insulin melintasi membran basalis sel B serta kapiler berdekatan dan
endotel fenestrata kapiler untuk mencapai aliran darah. Sel alfa yang mencakup
kira-kira 25 % dari seluruh sel mensekresikan glukagon. Sel delta yang
merupakan 10 % dari seluruh sel mensekresikan somatostatin.
Pankreas dibagi menurut bentuknya :
a. Kepala
(kaput) yang paling lebar terletak di kanan rongga abdomen, masuk lekukan
sebelah kiri duodenum yang praktis melingkarinya.
b. Badan
(korpus) menjadi bagian utama terletak dibelakang lambung dan di depan vertebra
lumbalis pertama.
c. Ekor
(kauda) adalah bagian runcing di sebelah kiri sampai menyentuh pada limpa
(lien)
2. Fisiologi
Pankreas Pankreas
Pankreas
disebut sebagai organ rangkap, mempunyai dua fungsi yaitu sebagai kelenjar
eksokrin dan kelenjar endokrin. Kelenjar eksokrin menghasilkan sekret yang
mengandung enzim yang dapat menghidrolisis protein, lemak, dan karbohidrat;
sedangkan endokrin menghasilkan hormon insulin dan glukagon yang memegang
peranan penting pada metabolisme karbohidrat Kelenjar pankreas dalam mengatur
metabolisme glukosa dalam.
tubuh
berupa hormon-hormon yang disekresikan oleh sel – sel dipulau langerhans.
Hormon-hormon ini dapat diklasifikasikan sebagai hormon yang merendahkan kadar
glukosa darah yaitu insulin dan hormon yang dapat meningkatkan glukosa darah
yaitu glukagon. Fisiologi Insulin : Hubungan yang erat antara berbagai jenis
sel
dipulau langerhans
menyebabkan timbulnya pengaturan secara langsung sekresi beberapa jenis hormone
lainnya, contohnya insulin menghambat sekresi glukagon, somatostatin menghambat
sekresi glukagon dan insulin.
Pankreas
menghasilkan :
a.
Garam NaHCO3 : membuat suasana basa.
b.
Karbohidrase : amilase ubah amilum →
maltosa.
c.
Dikarbohidrase : a.maltase ubah maltosa
→ 2 glukosa.
d.
Sukrase ubah sukrosa → 1 glukosa + 1
fruktosa.
e.
Laktase ubah laktosa → 1 glukosa + 1
galaktosa.
f.
lipase mengubah lipid → asam lemak +
gliserol.
g.
enzim entrokinase mengubah tripsinogen →
tripsin dan ubah pepton → asam amino.
Kepulauan Langerhans Membentuk organ
endokrin yang menyekresikan insulin, yaitu sebuah homron antidiabetika, yang
diberikan dalam pengobatan diabetes. Insulin ialah sebuah protein yang dapat
turut dicernakan oleh enzim-enzim pencerna protein dan karena itu tidak
diberikan melalui mulut melainkan dengan suntikan subkutan.
Insulin mengendalikan kadar glukosa dan
bila digunakan sebagia pengobatan dalam hal kekurangan seperti pada diabetes,
ia memperbaiki kemampuan sel tubuh untuk mengasorpsi dan menggunakan glukosa
dan lemak.
Pada pankreas paling sedikit terdapat
empat peptida dengan aktivitas hormonal yang disekresikan oleh pulau-pulau
(islets) Langerhans. Dua dari hormon-hormon tersebut, insulin dan glukagon
memiliki fungsi penting dalam pengaturan metabolisme karbohidrat, protein, dan
lemak. Hormon ketiga, somatostatin berperan dalam pengaturan sekresi sel pulau,
dan yang keempat polipeptida pankreas berperan pada fungsi saluran cerna.
Hormon Insulin : Insulin merupakan protein
kecil, terdiri dari dua rantai asam amino yang satu sama lainnya dihubungkan
oleh ikatan disulfida. Bila kedua rantai asam amino dipisahkan, maka aktivitas
fungsional dari insulin akan hilang. Translasi RNA insulin oleh ribosom yang
melekat pada reticulum endoplasma membentuk preprohormon insulin -- melekat
erat pada reticulum endoplasma -- membentuk proinsulin -- melekat erat pada
alat golgi -- membentuk insulin -- terbungkus granula sekretorik dan sekitar
seperenam lainnya tetap menjadi proinsulin yang tidak mempunyai aktivitas
insulin.
Insulin dalam darah beredar dalam bentuk
yang tidak terikat dan memilki waktu paruh 6 menit. Dalam waktu 10 sampai 15
menit akan dibersihkan dari sirkulasi. Kecuali sebagian insulin yang berikatan
dengan reseptor yang ada pada sel target, sisa insulin didegradasi oleh enzim
insulinase dalam hati, ginjal, otot, dan dalam jaringan yang lain.
Reseptor insulin merupakan kombinasi
dari empat subunit yang saling berikatan bersama oleh ikatan disulfide, 2
subunit alfa (terletak seluruhnya di luar membrane sel) dan 2 subunit beta
(menembus membrane, menonjol ke dalam sitoplasma). Insulin berikatan dengan
subunit alfa -- subunit beta mengalami autofosforilasi -- protein kinase --
fosforilasi dari banyak enzim intraselular lainnya.
Insulin bersifat anabolik, meningkatkan
simpanan glukosa, asam-asam lemak, dan asam-asam amino. Glukagon bersifat
katabolik, memobilisasi glukosa, asam-asam lemak, dan asam-asam amino dari
penyimpanan ke dalam aliran darah. Kedua hormon ini bersifat berlawanan dalam
efek keseluruhannya dan pada sebagian besar keadaan disekresikan secara timbal
balik. Insulin yang berlebihan menyebabkan hipoglikemia, yang menimbulkan
kejang dan koma.
Defisiensi insulin baik absolut maupun
relatif, menyebabkan diabetes melitus, suatu penyakit kompleks yang bila tidak
diobati dapat mematikan. Defisiensi glukagon dapat menimbulkan hipoglikemia,
dan kelebihan glukagon menyebabkan diabetes memburuk. Produksi somatostatin
yang berlebihan oleh pankreas menyebabkan hiperglikemia dan manifestasi
diabetes lainnya.
a. Sintesis
insulin
Sintesis
Insulin Insulin disintesis oleh sel-sel beta, terutama ditranslasikan ribosom
yang melekat pada retikulum endoplasma (mirip sintesis protein) dan
menghasilkan praprohormon insulin dengan berat molekul sekitar 11.500. Kemudian
praprohormon diarahkan oleh rangkaian "pemandu" yang bersifat
hidrofibik dan mengandung 23 asam amino ke dalam sisterna retikulumendoplasma.
Struktur
kovalen insulin manusia: Di reticulum endoplasma, praprohormon ini dirubah
menjadi proinsulin dengan berat molekul kira-kira 9000 dan dikeluarkan dari
retikulum endoplasma.
Molekul
proinsulin diangkut ke aparatus golgi, di sini proteolisis serta pengemasan ke dalam
granul sekretorik dimulai.Di aparatus golgi, proinsulin yang semua tersusun
oleh rantai B—peptida (C) penghubung—rantai A, akan dipisahkan oleh enzim mirip
tripsin dan enzim mirip karboksipeptidase. Pemisahan itu akan menghasilkan
insulin heterodimer (AB) dan C peptida. Peptida-C dengan jumlah ekuimolar tetap
terdapat dalam granul, tetapi tidak mempunyai aktivitas biologik yang
diketahui.
b. Sekresi
insulin
Sekresi
insulin merupakan proses yang memerlukan energi
dengan melibatkan
sistem mikrotubulus-mikrofilamen dalam sel B pada pulau Lengerhans. Sejumlah
kondisi intermediet turut membantu pelepasan insulin : Glukosa apabila kadar
glukosa darah melewati ambang batas normal yaitu 80-100 mg/dL maka insulin akan
dikeluarkan dan akan mencapai kerja maksimal pada kadar glukosa 300-500 mg/dL.
Dalam waktu 3 sampai 5 menit sesudah terjadi peningkatan segera kadar glukosa
darah, insulin meningkat sampai hampir 10 kali lipat. Keadaan ini disebabkan
oleh pengeluaran insulin yang sudah terbentuk lebih dahulu oleh sel beta pulau
langerhans pancreas. Akan tetapi, kecepatan sekresi awal yang tinggi ini tidak
dapat dipertahankan, sebaliknya, dalam waktu 5 sampai 10 menit kemudian
kecepatan sekresi insulin akan berkurang sampai kira-kira setengah dari kadar
normal.
Kira-kira
15 menit kemudian, sekresi insulin meningkat untuk kedua kalinya, sehingga
dalam waktu 2 sampai 3 jam akan mencapai gambaran seperti dataran yang baru,
biasanya pada saat ini kecepatan sekresinya bahkan lebih besar daripada
kecepatan sekresi pada tahap awal. Sekresi ini disebabkan oleh adanya tambahan
pelepasan insulin yang sudah lebih dahulu terbentuk dan oleh adanya aktivasi
system enzim yang mensintesis dan melepaskan insulin baru dari sel.
Naiknya
sekresi insulin akibat stimulus glukosa menyebabkan meningkatnya kecepatan dan
sekresi secara dramatis. Selanjutnya, penghentian sekresi insulin hampir sama
cepatnya, terjadi dalam waktu 3 sampai 5 menit setelah pengurangan konsentrasi
glukosa kembali ke kadar puasa.
Peningkatan
glukosa darah meningkatkan sekresi insulin dan insulin selanjutnya meningkatkan
transport glukosa ke dalam hati, otot, dan sel lain, sehingga mengurangi
konsentrasi glukosa darah kembali ke nilai normal. Insulin dilepaskan pada
suatu kadar batas oleh sel-sel beta pulau langerhans. Rangsangan utama
pelepasan insulin diatas kadar basal adalah peningkatan kadar glukosa darah.
Kadar glukosa darah puasa dalam keadaan normal adalah 80-90 mg/dl. Insulin
bekerja dengan cara berkaitan dengan reseptor insulin dan setelah berikatan,
insulin bekerja melalui perantara kedua untuk menyebabkan peningkatan
transportasi glukosa kedalam sel dan dapat segera digunakan untuk menghasilkan
energi atau dapat disimpan didalam hati(7).
C.
Etiologi
Diabetes melitus merupakan penyakityang disebabkan
oleh adanya kekurangan insulinsecara relatif maupunabsolut.Defisiensi insulin
dapat terjadi melalui 3 jalan, yaitu: a. Rusaknya sel-sel B pankreas karena
pengaruh dari luar (virus,zat kimia,dll)b. Desensitasi atau penurunan reseptor
glukosa pada kelenjar pancreas c. Desensitasi atau kerusakan reseptor insulin
di jaringan perifer(8).
D.
Patofisologi
Dalam patofisiologi DM tipe 2 terdapat beberapa
keadaan yang berperan yaitu :
1. Resistensi
insulin
2. Disfungsi
sel B pancreas
Diabetes melitus tipe 2 bukan disebabkan
oleh kurangnya sekresi insulin, namun karena sel sel sasaran insulin gagal atau
tidak mampu merespon insulin secara normal. Keadaan ini lazim disebut sebagai
“resistensi insulin”. Resistensi insulin banyak terjadi akibat dari obesitas
dan kurang nya aktivitas fisik serta penuaan.Pada penderita diabetes melitus
tipe 2 dapat juga terjadi produksi glukosa hepatik yang berlebihan namun tidak
terjadi pengrusakan sel-sel B langerhans secara autoimun seperti diabetes
melitus tipe 2. Defisiensi fungsi insulin pada penderita diabetes melitus tipe
2 hanya bersifat relatif dan tidak absolut.
Pada awal perkembangan diabetes melitus
tipe 2, sel B menunjukan gangguan pada sekresi insulin fase pertama,artinya
sekresi insulin gagal mengkompensasi resistensi insulin. Apabila tidak
ditangani dengan baik,pada perkembangan selanjutnya akan terjadi kerusakan
sel-sel B pankreas. Kerusakan sel-sel B pankreas akan terjadi secara progresif
seringkali akan menyebabkan defisiensi insulin,sehingga akhirnya penderita
memerlukan insulin eksogen.Pada penderita diabetes melitus tipe 2 memang
umumnya ditemukan kedua faktor tersebut, yaitu resistensi insulin dan
defisiensi insulin(9).
E.
Pathway
F.
Manifestasi klinis
DM mempunyai gejala seperti banyak makan (polifagi),
banyak minum (polidipsi) dan banyak kencing (poliuri). Penderita diabetes
mengetahui dirinya mengidap diabetes setelah terjadi komplikasi progresif
seperti gangguan kardiovaskular, muskuloskeletal dan integumen yang akhirnya
dapat menyebabkan kematian. Komplikasi ini biasa dicegah jika penderita mau
melakukan tatalaksana perubahan pola makan, edukasi, olahraga dan terapi
farmakologi (10).
Gejala diabetes melitus dibedakan menjadi akut dan
kronik Gejala akut diabetes melitus yaitu : Poliphagia (banyak makan)
polidipsia (banyak minum), Poliuria (banyak kencing/sering kencing di malam
hari), nafsu makan bertambah namu berat badan turun dengan cepat (5-10 kg dalam
waktu 2-4 minggu), mudah lelah. Gejala kronik diabetes mellitus yaitu :
Kesemutan, kulit terasa panas atau seperti tertusuk tusuk jarum, rasa kebas di
kulit, kram, kelelahan, mudah mengantuk, pandangan mulai kabur, gigi mudah
goyah dan mudah lepas, kemampuan seksual menurun bahkan pada pria bisa terjadi
impotensi, pada ibu hamil sering terjadi keguguran atau kematian janin dalam
kandungan atau dengan bayi berat lahir lebih dari 4kg.
G.
TIPE DM
Diabetes tipe I adalah akibat dari defisiensi
insulin seluruhnya atau defisiensi insulin mendekati total.
Diabetes tipe II adalah sekelompok gangguan
heterogen dengan karakteristik derajat resistensi insulin yang bervariasi,
gangguan sekresi insulin, dan peningkatan produksi glukosa. Diabetes tipe II
diawali dengan suatu periode abnormalitas homeostasis glukosa, yang dikenal
sebagai impaired fasting glucose (IFG) atau impaired glucose tolerance (IGT).
H.
Pemeriksaan penunjang
a. Pemeriksaan
HbA1C
adalah
komponen Hb yang terbentuk dari reaksi non-en$imatik antara glukosa dengan
N terminal valin rantai b Hb A dengan
ikatan AlmidinProduk yang dihasilkan ini diubah melalui proses !madorimenjadi
ketoamin yang stabil dan ireversibel.
b. Pemeriksaan
gula darah sewaktu
Suatu
pemeriksaan gula darah yang dilakukan setiap waktu tanpa tidak harus
memperhatikan makanan terakhir yang dimakan.
c. Pemerikssaan
gula darah puasa dan 2 jam setelah makan
Suatu
pemeriksaan gula darah yang dilakukan pasien sesudah berpuasa selama 8 sampai
10 jam , sedangkan pemeriksaan gula darah 2 jam sesudah makan yaitu pemeriksaan
yang dilakukan 2 jam setelah pasien menyelesaikan makan.
d. Pemeriksaan
penyaring
Pemeriksaan yang
ditujukan pada seseorang yang memiliki resiko DM namun belum menunjukan adanya gejala.
I.
Penatalaksanaan
Prinsip penatalaksanaan diabetes melitus secara umum
ada lima sesuai dengan Konsensus Pengelolaan DM di Indonesia tahun 2006 adalah
untuk meningkatkan kualitas hidup pasien DM. Tujuan Penatalaksanaan DM adalah
:Jangka pendek : hilangnya keluhan dan tanda DM, mempertahankan rasa nyaman dan
tercapainya target pengendalian glukosa darah. Jangka panjang: tercegah dan
terhambatnya progresivitas penyulit mikroangiopati,mikroangiopati,
makroangiopati dan neuropati. Tujuan akhir pengelolaan adalahturunnya
morbiditas dan mortalitas DM. Untuk mencapai tujuan tersebut perlu dilakukan
pengendalian glukosa darah, tekanan darah, berat badan dan profil lipid,melalui
pengelolaan pasien secara holistik dengan mengajarkan perawatan mandiri dan
perubahan perilaku.
1. Diet
Prinsip
pengaturan makan pada penyandang diabetes hampir sama dengan anjuran makan
untuk masyarakat umum yaitu makanan yang seimbang dan sesuai dengan kebutuhan
kalori dan zat gizi masing- masing individu. Pada penyandang diabetes perlu
ditekankan pentingnya keteraturan makan dalam hal jadwal makan, jenis dan
jumlah makanan, terutama pada mereka yang menggunakan obat penurun glukosa
darah atau insulin. Standar yang dianjurkan adalah makanan dengan komposisikomposisi
yang seimbang dalam hal karbohidrat 60-70%, lemak 20-25% danprotein 10-15%.
Untuk menentukan status gizi, dihitung dengan BMI (Body Mass Indeks). Indeks
Massa Tubuh (IMT) atau Body Mass Index (BMI) merupupakan alat atau cara yang
sederhana untuk memantau status gizi orang dewasa, khususnya yang berkaitan
dengan kekurangan dan kelebihan berat badan.
2. Exercise
(latihan fisik/olahraga)
Dianjurkan latihan
secara teratur (3-4 kali seminggu) selama kurang lebih 30 menit, yang sifatnya
sesuai dengan Continous, Rhythmical,Interval,Progresive,
Endurance(CRIPE).Training sesuai dengan kemampuan pasien. Sebagai contoh adalah
olah raga ringan jalan kaki biasa selama 30 menit. Hindarkan kebiasaan hidup
yang kurang gerak atau bermalasmalasan.
3. Pendidikan
Kesehatan Pendidikan kesehatan
sangat
penting dalam pengelolaan. Pendidikan kesehatan pencegahan primer harus
diberikankepada kelompok masyarakat resiko tinggi. Pendidikan kesehatan
sekunder diberikan kepada kelompok pasien DM. Sedangkan pendidikan kesehatan
untuk pencegahan tersier diberikan kepada pasien yang sudah mengidap DM dengan
penyulit menahun.
4. Obat
farmakologi : oral hipoglikemik, insulin
Jika
pasien telah melakukan pengaturan makan dan latihan fisik tetapi tidak berhasil
mengendalikan kadar gula darah maka dipertimbangkan pemakaian obat hipoglikemik
5. Non
farmakologi : Daun belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi L.)
merupakan
tanaman yang dapat digunakan sebagai terapi herbal dalam menangani diabates
mellitus. Kandungan utama yaitu flavonoid yang berperan dalam aktivitas
farmakologikal yang berfungsi sebagai antioksidan dan antidiabetes. Menurut
penelitian bahwa flavonoid memiliki efek antioksidan yang kuat. Zat aktif yang bisa di dapat pada daun
belimbing wuluh antara lain adalah saponin dan flavonoid. Saponin berfungsi
sebagai anti hiperglikemik dengan cara mencegah pengambilan glukosa pada brush
borderdi usus halus.Sedangkan flavonoid merupakan alfa- glukosidase yang
berfungsi untuk menunda absorbsi karbohidrat sehingga kadar glukosa darah akan
menurun(10).
BAB
III
KONSEP
KEPERAWATAN
A.
Pengkajian
1.
Identitas klien, meliputi : Nama
pasien, tanggal lahir,umur, agama, jenis kelamin, status perkawinan, pendidikan,
pekerjaan, No rekam medis.
2.
Keluhan
utama
a.
Kondisi
hiperglikemi: Penglihatan
kabur, lemas, rasa haus dan banyak kencing, dehidrasi, suhu tubuh meningkat,
sakit kepala.
b.
Kondisi
hipoglikemi Tremor,
perspirasi, takikardi, palpitasi, gelisah, rasa lapar, sakit kepala, susah
konsentrasi, vertigo, konfusi, penurunan daya ingat, patirasa di daerah bibir,
pelo, perubahan emosional, penurunan kesadaran.
3.
Riwayat kesehatan sekarang
Biasanya
klien masuk ke RS dengan keluhan utama gatal-gatal pada kulit yang disertai
bisul/lalu tidak sembuh-sembuh, kesemutan/rasa berat, mata kabur, kelemahan
tubuh. Disamping itu klien juga mengeluh poliurea, polidipsi, anorexia, mual
dan muntah, BB menurun, diare kadang-kadang disertai nyeri perut, kram otot,
gangguan tidur/istirahat, haus, pusing/sakit
kepala, kesulitan orgasme pada wanita dan masalah impoten pada pria.
4.
Riwayat kesehatan dahulu
DM
dapat terjadi saat kehamilan, penyakit pankreas, gangguan penerimaan insulin,
gangguan hormonal, konsumsi obat-obatan seperti glukokortikoid, furosemid,
thiazid, beta bloker, kontrasepsi yang
mengandung estrogen.
5.
Riwayat kesehatan keluarga
Adanya
riwayat anggota keluarga yang menderita DM
6.
Pemeriksaan Fisik
a.
Aktivitas dan Istirahat
·
Gejala: lemah, letih, sulit bergerak
atau berjalan, kram otot, tonus otot menurun, gangguan istirahat dan tidur.
·
Tanda: takikardia dan takipnea pada
keadaan istirahat atau dengan aktivitas, letargi, disorientasi, koma
b.
Sirkulasi
·
Gejala : adanya riwayat penyakit
hipertensi, infark miokard akut, klaudikasi, kebas, kesemutan pada ekstremitas,
ulkus pada kaki, penyembuhan yang lama.
·
Tanda : takikardia, perubahan TD postural, nadi menurun,
disritmia, krekels, kulit panas, kering dan kemerahan, bola mata cekung.
c.
Integritas ego
·
Gejala : stress, tergantung pada orang
lain, masalah finansial yang berhubungan dengan kondisi.
·
Tanda
: ansietas, peka rangsang.
d.
Eliminasi
·
Gejala : perubahan pola berkemih
(poliuria), nokturia, rasa nyeri terbakar, kesulitan berkemih, ISK, nyeri tekan
abdomen, diare.
·
Tanda :
urine encer, pucat, kuning, poliuri, bising usus lemah, hiperaktif pada diare.
e.
Makanan dan cairan
·
Gejala: hilang nafsu makan, mual muntah,
tidak mengikuti diet, peningkatan masukan glukosa atau karbohidrat, penurunan berat badan, haus, penggunaan diuretik.
·
Tanda: kulit kering bersisik, turgor
jelek, kekakuan, distensi abdomen, muntah, pembesaran tiroid, napas bau aseton
f.
Neurosensori
·
Gejala: pusing, kesemutan, kebas,
kelemahan pada otot, parastesia, gangguan penglihatan.
·
Tanda: disorientasi, mengantuk, letargi,
stupor/koma, gangguan memori, refleks tendon menurun, kejang.
g.
Kardiovaskuler
Takikardia
/ nadi menurun atau tidak ada, perubahan TD postural, hipertensi dysritmia,
krekel, DVJ (GJK)
h.
Pernapasan
·
Gejala: merasa kekurangan oksigen, batuk
dengan atau tanpa sputum.
·
Tanda: pernapsan cepat
dan dalam, frekuensi meningkat
i.
Seksualitas
·
Gejala: rabas vagina, impoten pada pria,
kesulitan orgasme pada wanita
j.
Gastro
intestinal
Muntah,
penurunan BB, kekakuan/distensi abdomen, anseitas, wajah meringis pada palpitasi,
bising usus lemah/menurun.
k.
Muskulo
skeletal
Tonus
otot menurun, penurunan kekuatan otot, ulkus pada kaki, reflek tendon menurun
kesemuatan/rasa berat pada tungkai.
l.
Integumen
Kulit panas,
kering dan kemerahan, bola mata cekung, turgor jelek, pembesaran tiroid, demam,
diaforesis (keringat banyak), kulit rusak, lesi/ulserasi/ulkus.
B.
Diangnosa
1.
Nyeri
akut (00002)
2.
Ketidakseimbangan
nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh (00027)
C.
Intervensi
1.
Nyeri
akut (00002)
Menejement nyeri (1400):
a. Lakukan
pengkajian nyeri komprehensif yang meliputi lokasi, karakteristik, durasi,
frekuensi, kualitas, intensitas atau beratnya nyeri dan factor pencetus
b. Gunakan
strategi komunikasi terapeutik untuk mengetahui pengalam nyeri dan sampaikan
penerimaan pasien terhadap nyeri.
c. Berikan
informasi mengenai nyeri, seperti penyebab nyeri, berapa lama nyeri akan
dirasakan, dan antisipasi dari ketidak nyamanan akibat prosedur
d. Pastikan
perawatan analgesic bagi pasien dilakukan dengan pemantauan yang tepat
2.
Ketidakseimbangan
nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh (00027)
Manajemen Gangguan
Makanan :
a.
Tentukan pencapaian berat harian sesuai keinginan
b.
Gunakan teknik modifikasi perilaku untuk
meningkatkan perilaku yang berkontribusi terhadap penambahan berat badan dan
batasi perilaku yang mengurangi berat badan, dengan tepat
c.
Beri dukungan ( misalnya , terapi relaksasi,
latihan desensitisasi , kesempatan untuk membicaran perasaan) sembati klien
juga berusaha mengintegrasikan perilaku makan yang baru, perubahan citra tubuh
dan perubahan gaya hidup
d.
Monitori
perilaku klien yang berhubungan dengan pola makanan , penambahan dalam
kehilangan berat badan
BAB IV
ASUHAN KEPERAWATAN
A. Kasus
Seorang pasien Perempuan bernama Ny. N
Berusia 60 Tahun, datang
dirumah sakit pada senin 21 januari 2020,
jam 08.30 WIB dengan keluhan badan
lemas, pusing dan buang air besar cair 5 kali. Klien mengatakan memiliki riwayat diabetes 3 tahun
yang lalu. Hasil pemeriksaan pasien setelah berada di Rs TTV (TD: 100/70 MMHg,
S: 37,6 C , N: 66 x/menit , RR: 20 x/menit) GDS: 300 mg/dL, GDP : 250 mg/dL.
Pengkajian
1.
Biodata
pasien
a.
Nama :
Ny. N
b.
Jenis kelamin : Perempuan
c.
Tempat, tanggal lahir/usia : Kolaka, 30
Desember 1960
d.
Alamat :
Kel. Balandete Kec. Kolaka
e.
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
f.
Status
Perkawinan : Kawin
g.
Agama :
Islam
h.
Suku bangsa/ras : Tolaki/ Mekongga
i.
Pendidikan terakhir : SMP sederajat
j.
Diagnosa medis : Diabetes
Melitus
2.
Identitas
keluarga/wali
a.
Nama :
Tn. R
b.
Jenis kelamin : Laki-laki
c.
Usia :
69 tahun
d.
Alamat :
Kel. Balandete Kec. Kolaka
e.
Hubungan keluarga dengan pasien : Suami
3.
Riwayat
kesehatan
a.
Keluhan utama saat MRS : klien mengeluh badan lemas, pusing dan
buang ai besar 5 kali .
b.
Keluhan utama saat pengkajian : klien mengeluh badan lemas , pusing dan buang air besar 5 kali, pasien
mempunyai riwayat DM 3 Tahun yang lalu
c.
Riwayat keluhan utama : pasien mengatakan badan terasa lemas, pusing sejak 3
hari yang lalu, buang air besar cair 5 kali dalam sehari. Pada tanggal 30 januari 2020 pasien berobat di Poli Dalam di RS benyamin gulu kolaka kemudian pasien menjalani rawat inap di bangsal .
d.
Riwayat kesehatan dahulu :
Pasien mengatakan sakit DM sejak 3
tahun yang lalu, pasien berobat rutin di Puskesmas, mendapatkan terapi
metformin dan glimipirid. Anak pasien
mengatakan terkadang pasien lupa meminum obat rutinnya.
e.
Riwayat penyakit yang pernah diderita : tidak ada
f.
Kebiasaan : Minum Teh
g.
Riwayat alergi : tidak ada
h.
Riwayat kehamilan : tidak ada
i.
Riwayat kesehatan keluarga : tidak ada
4.
Keadaan
umum dan tanda-tanda vital
a.
Keadaan Umum : GCS 14
(composmetis)
b.
Status
Gizi :
TB = 155cm
BB = 60 kg
IMT = 24,97 kg/m2
c.
Td :
140/90 MmHg
d.
N : 66 X/Menit
e.
S :
37,6o
C
f.
R : 20 X/Menit
5.
Pengkajian
fisik (integumen)
a. Inspeksi
1)
Edema :
kaki bagian kiri
2)
Diaphoresis :
3)
Kelembapan kulit : kering
4)
Warna kulit : tidak ada
5)
Drainase :
tidak ada
6)
Balutan :
tidak ada
7)
Ulkus/luka : tidak ada
8)
Kelainan rambut : tidak ada
9)
Kelainan kuku : tidak ada
b.
Palpasi
1)
Suhu :
hangat
2)
Turgor :
tidak ada
3)
Nyeri tekan : nyeri pada bagian
kaki kiri
6. Pemeriksaan laboratorium
Pemeriksaan Patologi Kli
No
|
nis Pemeriksaan
|
sil (Satuan)
|
Satuan
|
Nilai Rujukan
|
1
|
Hemoglobin
|
12,5
|
Mg/dL
|
75-140
|
2
|
Eritrosit
|
3,79
|
M/uL
|
3,9 – 5,5
|
3
|
GDS
|
300
|
Mg/dL
|
<200
|
4
|
Leukosit
|
14.600
|
K/uL
|
4.000 – 10.000
|
B.
Analisis Data
1. Nama : Ny.N
2. Dignosa : Diabetes
melitus
3. Umur : 60
thn
No
|
Data
|
Etiologi
|
Problem
|
1.
|
DS:
DO :
GDS 300 mg/dL
Pasien
tampak lemas
TTV
Td : 100/70
MmHg
N : 66
X/Menit
S : 37,6o C
R
: 20
X/Menit
|
Reaksi autoimun
Sel β pancreas rusak
Defisinsi insulin
Katabolisme
protein meningkat
Penurunaan BB
Resiko nutrisi kurang
|
Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari
kebutuhan tubuh b.d. ketidakmampuan
menggunakan glukose
|
2.
|
DS;
DO :
Pasien
tampak lemah TD 100/90 mmHg
|
Reaksi autoimun
Sel β ancreas
hancur
Defisit insulin
Hiperglikemia
Poliuria
Deficit volume cairan
|
Defisit Volume Cairan berhubungan dengan
Kehilangan volume cairan secara aktif, Kegagalan mekanisme pengaturan
|
3.
|
Ds:
|
C. Rencana Asuhan Keperawatan Keperawatan
Nama Inisial Pasien : Ny.N Diagnosa
Medis : Diabetes militus
Umur :
60
Thn No.
Register :
NO
|
Diagnosa Keperawatan
|
Tujuan
& Kriteria Hasil (NOC)
|
Intervensi (NIC)
|
|
|
Domain : 2 Nutrisi
Kelas : 1
Makanan
Kode : 00002
Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d. ketidakmampuan menggunakan glukose
ditandai dengan :
DS:
DO :
GDS 300 mg/dL
Pasien tampak lemas
TTV
Td : 100/70 MmHg
N : 66 X/Menit
S : 37,6o
C
R : 20 X/Menit
|
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3X24 jam/menit :
Status Nutrisi (1004) (skala 1 :sangat menyimpang dari
rentang normal, 2 : banyak menyimpang dari rentang normal, 3 :cukup
menyimpang dari rentang normal, 4 : sedikit menyimpang dari rentang normal, 5
: tidak
menyimpang),
dengan kriteria :
a. Asupan makanan (skala 3 menjadi 4)
b. Asupan cairan (skala 3 menjadi 5 )
|
Intervensi
Keperawatan
Konseling nutrisi (5246)
Aktivitas Keperawatan
1. Bina hubungan terapeutik bersadarkan rasa percaya dan
saling menghormati
2. Tentukan lama konseling
3. Kaji asupan makanan dan kebiasaan pasien
4. Susun tujuan jangka pendek dan jangka panjang yang
realitis dalam rangka mengubah status nutrisi
|
|
|
Domain : 2
Nutrisi
Kelas : 5 Hidrasi
Kode :
00027
Defisit Volume Cairan berhubungan dengan
Kehilangan volume cairan secara aktif, Kegagalan mekanisme pengaturan
ditandai dengan :
DS;
DO :
Pasien tampak lemah TD 100/90 mmHg
|
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3X24 jam/menit :
Hidrasi (0602) (skala 1 :sangat
terganggu, 2 : banyak terganggu, 3 : cukup
terganggu, 4 : sedikit terganggu, 5 : tidak
terganggu),
dengan kriteria :
a. Perfusi jaringan (skala 3 menjadi 4)
|
Intervensi
Keperawatan
Manajemen Cairan (4120)
Aktivitas Keperawatan
:
a. Beri cairan dengan tepat
b. Monitor makan / cairan yang dikmsumsi dan hitung asupan
klori harian
c. Monitor status hidarasi (misalnya : membran mukosa lembab,
denyut nadi adekuat , dan tekanan darah ortostatik
d. Dukunng pasien dan keluarga untuk membantu dalam
pemberian makanan dengan baik
|
D. Implementasi & evaluasi
Nama Inisial Pasien : Ny.
N Diagnosa Medis : Diabetes militus
Umur : 60
Thn No. Register :
Diagnosa
Keperawatan
|
Implementasi
|
Evaluasi
|
|
Jam
|
Tanggal : 1 Februari 2020
|
Hari/tanggal: 3 Februari 2020
Jam : 06.10
|
|
Domain : 2 Nutrisi
Kelas : 1
Makanan
Kode : 00002
Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d. ketidakmampuan menggunakan glukose
|
07.10
|
1. Membina hubungan terapeutik bersadarkan rasa percaya
dan saling menghormati
Hasil :
Terbina hubungan yang baik dan klien bersifat terbuka
2. Menentukan lama konseling
Hasil : Klien
menyetujui Lama Konseling 15 menit
3. Mengkaji asupan makanan dan kebiasaan pasien
Hasil :
Pasien mendapatkan asupan makanan yang bergizi sesuai dengan kebutuhan
4. Menyusun tujuan jangka pendek dan jangka panjang yang
realitis dalam rangka mengubah status nutrisi
Hasil :
Status gizi pasien telah dihitung sesui dengan kebutuhan
|
S:
klien
mengatakan nafsu makan mulai
pulih
O: pasien tidak Nampak lemas dan pucat
TTV
Td : 130/80 MmHg
N : 80 X/Menit
S : 36,5o
C
R : 20 X/Menit
A:
masalah
teratasi
P: pasien pulang
intervensi dihentikan
|
Domain : 2 Nutrisi
Kelas : 1
Makanan
Kode : 00002
Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d. ketidakmampuan menggunakan glukose
|
1. Memberi cairan dengan tepat
2. Memonitor makan / cairan yang dikmsumsi dan hitung
asupan klori harian
3. Memonitor status hidarasi (misalnya : membran mukosa
lembab, denyut nadi adekuat , dan tekanan darah ortostatik
4. Mendukung pasien dan keluarga untuk membantu dalam
pemberian makanan dengan baik
|
S:
klien
mengatakan Sudah tidak merasa lemas
O: klien terlihat lebih bugar dan sehat
A:
masalah
belum teratasi
P: intervensi dihentikan
pasien pulang
|
|
BAB V
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Asuhan keperawatan diabetes militus yan
dipaparkan diatas telah menjelaskan secara lengap mengenai konsep medis dan
konsep askep . dalam pengkajian Ny. N baik aspek biopisiko sosial , spiritual ,
dan kultural harus melibatkan kerja sama dengan keluarga untuk mendapatkan data
yang lengkap dan akurat. Pada tahap diagnosa keperawatan penulis menegakkan
data-data yang didapat dari klien sedangkan untuk tahap perencanaan,
implementaisi, dan evaluasi dibuat berdasarkan aplikasi teori NANDA NIC-NOC
B.
Saran
1.
Bagi mahasiswa, semoga asuhan keperawatan dibetes
militus yang sederhana ini dapat menjadi bacaan dan acuan untuk meningkatkan
pengetahua dan dapat dijadikan sebagai referensi pembelajaran.
2.
Bagi ibu/bapak dosen, penulis menyadari bahwa asuhan
keperawatan diabetes militus ini masih jauh dari kata sempurna baik itu materi
maupun penulisan serta penyusunan , untuk itu penulis meminta kritik serta
saran yang membangun .
DAFTAR PUSTAKA
1. Mustapa.
ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA PADA TN.M DENGAN DIABETES MELITUS DI WILAYAH KERJA
PUSKESMAS TANJUNG BERINGIN TAHUN 2018. 2018.
2. Betteng R,
Mayulu N. ANALISIS FAKTOR RESIKO PENYEBAB TERJADINYA DIABETES MELITUS TIPE 2
PADA WANITA USIA PRODUKTIF DIPUSKESMAS WAWONASA. 2020;2.
3. Vidyanto,
Adhar A. Determinan Peningkatan Kadar Gula Darah Pasien Interna Rumah Sakit
Umum (Rsu) Anutapura Palu. J Chem Inf Model. 2019;53(9):1689–99.
4. Riskesdas K.
Hasil Utama Riset Kesehata Dasar (RISKESDAS). J Phys A Math Theor.
2018;44(8):1–200.
5. Berawi KN,
Putra IWA. Empat Pilar Penatalaksanaan Pasien Diabetes Mellitus Tipe 2.
Majority. 2015;4(9):8–12.
6. Anani S.
Hubungan Antara Perilaku Pengendalian Diabetes dan Kadar Glukosa Darah Pasien
Rawat Jalan Diabetes Melitus (Studi Kasus di RSUD Arjawinangun Kabupaten
Cirebon). J Kesehat Masy Univ Diponegoro. 2012;1(2):18753.
7. Raharjo M.
Karya Tulis Ilmiah Asuhan Keperawatan Ny . N Dengan Diabetes Melitus Di Ruang
Kirana Rumah Sakit Asuhan Keperawatan Ny . N Dengan Diabetes. 2018;
8. Bhatt H,
Saklani S, Upadhayay K. Anti-oxidant and anti-diabetic activities of ethanolic
extract of Primula Denticulata Flowers. Indones J Pharm. 2016;27(2):74–9.
9. Singal G,
Katuuk M, Bataha Y. Hubungan Pengetahuan Tentang Terapi Insulin Dengan Inisiasi
Insulin Pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 Di Rumah Sakit Pancaran Kasih Gmim
Manado. J Keperawatan UNSRAT. 2017;5(1):111282.
10. Kurniawaty E,
Lestari EE. Uji Efektivitas Daun Belimbing Wuluh (Averrhoa bilimbi L.) sebagai
Pengobatan Diabetes Melitus. Majority. 2016;5(2):32–6.

Sangat membantu
BalasHapus