Sabtu, 25 Juli 2020

TUGAS GERONTIK (OSTEOFOROSIS)



MAKALAH ASUHAN KEPERAWATAN
OSTEOFOROSIS


Nama
Nim
Afisah mulya rahma 
S.0017.P.001
Asmianti
S.0017.P.007
Citra
S.0017.P.012
Indahyanti hudin
S.0017.P.018
Muh. Hidayatullah J
S.0017.P.024
Sindy seryani
S.0017.P.033
Tini wahiyuni
S.0017.P.038



SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
PRODI SARJANA KEPERAWATAN
KARYA KESEHATAN
 KENDARI
2020



KATA PENGANTAR



Assalamualaikum wr, wb
Puji syukur kehadirat ALLAH SWT, yang telah memberi kekuatan dan kesempatan kepada saya, sehingga makalah  ini dapat terselesaikan dengan waktu yang di harapkan walaupun dalam bentuk yang sangat sederhana, dimana makalah ini membahas tentang “ASKEP Osteoforosis” dan kiranya makalah ini dapat meningkatkan pengetahuan kita khususnya tentang bagaimana dan apa bahaya dari penyakit Osteoforosis.
Dengan adanya makalah ini, mudah-mudahan dapat membantu meningkatkan minat baca dan belajar teman-teman.selain itu saya juga berharap semua dapat mengetahui dan memahami tentang materi ini, karena akan meningkatkan mutu individu kita.
Saya sangat menyadari bahwa dalam pembuatan makalah ini masih sangat  minim, sehinga saran dari dosen pengajar serta kritikan dari semua pihak masih saya harapkan demi perbaikan laporan ini. Saya ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu saya dalam menyelesaikan makalah ini.

Kendari , 19 juli 2020

                  peyusun






DAFTAR ISI






DAFTAR TABEL


Tabel 1: analisa data.............................................................................................. 28
Tabel 2: intervensi................................................................................................. 30
Tabel 3: implementasi ........................................................................................... 33

DAFTAR GAMBAR


Gambar 1. Prevalensi osteoporosis di Indonesia berdasarkan jenis kelamin laki-laki dan perempuan tahun 2006............................................................................................................................... 5
Gambar 2. siklus remodelling tulang..................................................................... 7
Gambar 3. Tulang normal dan keropos................................................................. 7
Gambar 4. Perbedaan tulang normal & osteoporosis............................................ 14







BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang


            Osteoporosis adalah suatu kondisi di mana tulang menjadi rapuh sehingga berisiko lebih tinggi untuk terjadinya fraktur (pecah atau retak) dibandingkan tulang yang normal. Osteoporosis terjadi karena ketidakseimbangan antara pembentukan tulang baru dan resorpsi tulang tua. Osteoporosis biasanya tidak memiliki tanda-tanda atau gejala khusus sampai akhirnya terjadi fraktur. Karena inilah osteoporosis sering disebut sebagai 'silent disease '. Faktor-faktor resiko teijadinya osteoporosis adalah faktor yang bisa dirubah (alcohol, merokok, BMI kurang ,kurang gizi ,kurang olahraga,  jatuh berulang) dan factor yang tidak bisa diubah (umur, jenis kelamin, riwayat keluarga, menopause, penggunaan kortikosteroid, rematoid arthritis). Karena puncak kepadatan tulang dicapai pada sekitar usia 25 tahun, maka sangatlah penting untuk membanguntulang yang kuat di sepanjang usia, sehingga tulang-tulang akan tetap kuat di kemudianhari. Asupan kalsium yang memadaimerupakanbagian pentinguntuk membanguntulang yang kuat.1
            Osteoporosis sering disebut juga dengan ”silent disease”, karena penyakit ini datang secara tiba-tiba, tidak memiliki gejala yang jelas dan tidak terdeteksi hingga orang tersebut mengalami patah tulang.(Nuhonni, 2000) Akan tetapi, menurut yatim (2003), biasanya seseorang yang mengalami osteoporosis akan merasa sakit/pegal-pegal di bagian punggung atau daerah tulang tersebut.Dalam beberapa hari/minggu, rasa sakit tersebut dapat hilang dengan sendiri dan tidak akan bertambah sakit dan menyebar jika mendapatkan beban yang berat. Biasanya postur tubuh penderita osteoporosis akan terlihat membungkuk dan terasa nyeri pada tulang yang mengalami kelainan tersebut (ruas tulang belakang). 2
            Osteoporoasis adalah kelainan di mana terjadi penurunan massa tulang total. Terdapat perubahan pergantian tulang homeostasis normal, kecepatan resorpsi tulang lebih besar dari kecepatan pembentukan tulang, pengakibatkan penurunan masa tulang total. Tulang secara progresif menjadi porus, rapuh dan mudah patah; tulang menjadi mudah fraktur dengan stres yang tidak akan menimbulkan pengaruh pada tulang normal.3
            Pada umumnya usia lanjut diartikan sebagai usia saat memasuki masa pensiun yang di Indonesia dapat berkisar antara usia di atas 55 tahun. Proporsi penduduk lanjut usia (lansia) Indonesia meningkat dari 1.1% menjadi 6.3% dari total populasi. Pening- katan jumlah lansia memengaruhi aspek kehidupan mereka seperti terjadinya perubahan fisik, biologis, psikologis, dan sosial sebagai akibat proses penuaan. Salah satu perubahan fisik yang terjadi seiring per- tambahan usia adalah terjadinya penurunan massa tulang yang sering disebut osteoporosis.4
            Di Indonesia jumlah wanita lansia penderita osteoporosis mengalamitrend yang meningkat dari tahun ke tahun. Hal ini merupakan bencana sosial luar biasa pada masyarakat, karena peningkatan biaya pengobatan atau perawatan serta dapat menurunkan kualitas hidup. Saat ini saja22-55 persen wanita lansia Indonesiamenderita osteoporosis. Jika diubah dalam angka, maka ada sekitar 8,5 juta lansia yang mencapai total 17 juta dari 222 juta penduduk Indonesia menderita osteoporosis. Seiring meningkatnya jumlah penduduk menjadi 261 juta pada tahun 2020 maka jumlah penderita diperkirakan akan meningkat menjadi 5-11juta. Dandengan penduduk 273 juta pada2050makajumlah penderitamenjadi5,2-11,5juta.1
            Osteoporosis dapat dijumpai di seluruh dunia dan sampai saat ini masih meruppakan masalah dalam kesehatan masyarakat terutama di Negara berkembang. Di Amerika Serikat, osteoporosis menyerang 20-25 juta penduduk,1 diantara 2-3 wanita post-menopause dan lebih dari 50% penduduk di atas umur 75-80 tahun. Mengutip data dari WHO yang menunjukan bahwa di seluruh dunia ada sekitas 200 juta orang yang menderita osteoporosis. Pada tahun 2050, diperkirakan angka patah tulang pinggul akan meningkat dua kali lipat pada wanita dan tiga kali lipat pada pria. LaporanWHO juga menunjukan bahwa 50% patah tulang adalah patah tulang paha atas yang dapat mengakibatkan kecacatan seumur hidup dan kematian. Dibandingkan dengan masyarakat dinegara-negara afrika, densitas tulang masyarakat eropa dan asia lebih rendah, sehingga mudah sekali mengalami osteoporosis. Hasil penelitian white paper yang dilaksanakan bersama himpunan osteoporosis Indonesia tahun 2007, melaporkan bahwa proporsi penderita osteoporosis pada penduduk yang berusia diatas 50 tahun adalah 32,3% pada wanitadan 28,8% pada pria. Sedangkan data sistem informasi rumah sakit (SIRS,2010) menunjukan angka insiden patah tulang paha atas akibat osteoporosis adalah  sekitar 200 dari 100.000 kasus pada usia 40 tahun.5

B.     Tujuan penyusunan

1.      Mahasiswa mengetahui proses terjadinya Osteoforosis pada lansia.
2.      Mahasiswa mengetahui cara mencegah terjadian Osteoforosis
3.      Mahasiswa mampu merumuskan rencana asuhan keperawatan pada kasus Osteoforosis

C.    Manfaat

1.      Bagi mahasiswa, makalah ini dapat dijadikan sebagai bahan reverensi untuk materi kasus osteoporosis
2.      Bagi masyarakat, makalah ini dapat memberikan edukasi kepada masyarakat tentang osteoporosis, hingga masyarakat dapat mengetahui apa itu osteoporosis , penyebab dan tanda gejala dan lain sebagainya
3.      Bagi ilmu pengetahuan keperawatan, makalah ini dapat dijadikan sebagai update referensi mengenai kasus osteoporosis



BAB II

TINJAUAN TEORI

A.    Defenisi Osteoporosis

            Osteoporosis adalah kondisi berkurangnya massa tulang dan gangguan struktur tulang (perubahan mikroarsitektur jaringan tulang) sehingga menyebabkan tulang menjadi mudah patah.2 Penyakit osteoporosis menjadi salah satu penyakit yang mempunyai pengaruh di Amerika yaitu sebesar 10 juta dan bertambah menjadi 18 juta akibat dari rendahnya massa tulang.(Mccabe, 2004) Menurut Yi-Hsiang Hsu, et al (2006), osteoporosis dengan patah tulang menjadi masalah utama pada populasi lanjut usia.2
            Manusia lanjut usia (lansia) beresiko menderita osteoporosis, sehingga setiap patah tulang pada lansia perlu diasumsikan sebagai osteoporosis, apalagi jika disertai dengan riwayattrauma ringandankesehatanseperti mata,jantung, danfungsi organlain.Padausia60-70tahun, lebih dari 30% perempuan menderita osteoporosis dan insidennyameningkat menjadi70%padausia80 tahunke atas. Hal ini berkaitan dengan defisiensi estrogen pada masa menopause dan penurunan massa tulang karena proses penuaan. Pada laki-laki osteoporosis lebih dikarenakan proses usia lanjut, sehingga insidennya tidak sebanyak perempuan.1
            Osteoporosis sering disebut juga dengan ”silent disease”, karena penyakit ini datang secara tiba-tiba, tidak memiliki gejala yang jelas dan tidak terdeteksi hingga orang tersebut mengalami patah tulang.(Nuhonni, 2000) Akan tetapi, menurut yatim (2003), biasanya seseorang yang mengalami osteoporosis akan merasa sakit/pegal-pegal di bagian punggung atau daerah tulang tersebut.Dalam beberapa hari/minggu, rasa sakit tersebut dapat hilang dengan sendiri dan tidak akan bertambah sakit dan menyebar jika
mendapatkan beban yang berat. Biasanya postur tubuh penderita osteoporosis akan terlihat membungkuk dan terasa nyeri pada tulang yang mengalami kelainan tersebut (ruas tulang belakang). 2
            Osteoporosis terbagi menjadi 2 tipe, yaitu primer dan sekunder. primer terbagi lagi menjadi 2 yaitu tipe 1 (postmenopausal) dan tipe 2 (senile). Penyebab terjadinya osteoporosis tipe 1 erat kaitannya dengan hormon estrogen dan kejadian menopause pada wanita. Tipe ini biasanya terjadi selama 15 – 20 tahun setelah masa menopause atau pada wanita sekitar 51 – 75 tahun (Putri, 2009) Dan pada tipe ini tulang trabekular menjadi sangat rapuh sehingga memiliki kecepatan fraktur 3 kali lebih cepat dari biasanya. (Riggs et al, 1982 dalam National Research Council, 1989) Sedangkan tipe 2 biasanya terjadi diatas usia 70 tahun dan 2 kali lebih sering menyerang wanita. Penyebab terjadinya senile osteoporosis yaitu karena kekurangan kalsium dan kurangnya sel-sel perangsang pembentuk vitamin D. Dan terjadinya tulang pecah dekat sendi lutut dan paha dekat sendi panggul. (Yatim, 2003)2
            Tipe osteoporosis sekunder, terjadi karena adanya gngguan kelainan hormon, penggunaan obat-obatan dan gaya hidup yang kurang baik seperti konsumsi alkohol yang berlebihan dan kebiasaan merokok. (Hartono, 2004). 2
Gambar 1. Prevalensi osteoporosis di Indonesia berdasarkan jenis kelamin laki-laki dan perempuan tahun 2006







   Sumber: Hasil penelitian Gunawan Tirtaraja, Bambang setyohadi dipusat osteoporosis Jakarta di                     Rs.Medistra bekerjasama dengan departemen penyakit dalam Universitas       Indonesia, GE Healthcare, madisosn, tahun 2006 Ket : Spine L1-L4 tulang belakang bagian Limbal 1dan 4, Femur neck : tulang leher paha, total                  femur : keseluruhan tulang paha, Any Site : Osteoporosis diselain ketiga pemeriksaan tulang diatas.
            Berdasarkan data diatas terlihat bahwa prevalensi osteoporosis pada perempuan trennya meningkat seiring bertambahnya usia. Hal ini bisa disebabkan karena menopause dimana kadar hormon ekstrogen yang turun. Prevalensi osteoporosis pada perempuan meningkat lebih tinggi pada pemeriksaan tulang selain L1-L4, Femur neck, dan Femur, sedangkan pada laki-laki prevalensi osteoporosis trendnya juga meningkat seiring bertambahnya usia, akan tetapi tidak sebesar pada perempuan. Prevalensi osteoporosis pada perempuan pemeriksaan tulang any site 4 kali lebih tinggi dibandingkan laki-laki.5

B.     Mekanisme Terjadinya Osteoporosis

            Didalam kehidupan, tulang akan selalu mengalami proses perbaharuan. Tulang memiliki 2 sel, yaitu osteoklas (bekerja untuk menyerap dan menghancurkan/merusak tulang) dan osteoblas (sel yang bekerja untuk membentuk tulang). 2
            Tulang yang sudah tua dan pernah mengalami keretakan, akan dibentuk kembali. Tulang yang sudah rusak tersebut akan diidentifikasi oleh sel osteosit (sel osteoblas menyatu dengan matriks tulang). (Cosman, 2009) Kemudian terjadi penyerapan kembali yang dilakukan oleh sel osteoklas dan nantinya akan menghancurkan kolagen dan mengeluarkan asam. (Tandra, 2009) Dengan demikian, tulang yang sudah diserap osteoklas akan dibentuk bagian tulang yang baru yang dilakukan oleh osteoblas yang berasal dari sel prekursor di sumsum tulang belakang setelah sel osteoklas hilang. (Cosman, 2009) Proses remodelling tulang tersebut dapat dilihat pada gambar dibawah ini.2
Gambar 2. siklus remodelling tulang

            Menurut Ganong, ternyata endokrin mengendalikan proses remodeling tersebut. Dan hormon yang mempengaruhi yaitu hormon paratiroid (resorpsi tulang menjadi lebih cepat) dan estrogen (resorpsi tulang akan menjadi lama). Sedangkan pada osteoporosis, terjadi gangguan pada osteoklas, sehingga timbul ketidakseimbangan antara kerja osteoklas dengan osteoblas. Aktivitas sel osteoclas lebih besar daripada osteoblas. Dan secara menyeluruh massa tulang pun akan menurun, yang akhirnya terjadilah pengeroposan tulang pada penderita osteoporosis. (Ganong, 2008) Gambar 2.2 menunjukan perbedaan tulang yang normal dan tulang yang sudah mengalami pengeroposan.2
gambar 3. Tulang normal dan keropos

C.    Etiologo

Faktor-faktor yang mempengaruhi pengurangan massa tulang pada usia lanjut :
1.      Determinan massa tulang

a.       Faktor genetik Perbedaan genetik mempunyai pengaruh terhadap derajat kepadatan tulang. Beberapa orang mempunyai tulang yang cukup besar dan yang lain kecil. Sebagai contoh, orang kulit hitam pada umumnya mempunyai struktur tulang lebih kuat/berat dari pacia bangsa Kaukasia. Jacii seseorang yang mempunyai tulang kuat (terutama kulit Hitam Amerika), relatif imun terhadap fraktur karena osteoporosis.3
b.      Faktor mekanis. Beban mekanis berpengaruh terhadap massa tulang di samping faktor genetk. Bertambahnya beban akan menambah massa tulang dan berkurangnya beban akan mengakibatkan berkurangnya massa tulang. Dengan perkataan lain dapat disebutkan bahwa ada hubungan langsung dan nyata antara massa otot dan massa tulang. Kedua hal tersebut menunjukkan respons terhadap kerja mekanik Beban mekanik yang berat akan mengakibatkan massa otot besar dan juga massa tulang yang besar. Sebagai contoh adalah pemain tenis atau pengayuh becak, akan dijumpai adanya hipertrofi baik pada otot maupun tulangnya terutama pada lengan atau tungkainya; sebaliknya atrofi baik pada otot maupun tulangnya akan dijumpai pada pasien yang harus istrahat di tempat tidur dalam waktu yang lama, poliomielitis atau pada penerbangan luar angkasa. Walaupun demikian belum diketahui dengan pasti berapa besar beban mekanis yang diperlukan dan berapa lama untuk meningkatkan massa tulang di sampihg faktor genetic3
c.       Faktor makanan dan hormon Pada seseorang dengan pertumbuhan hormon dengan nutrisi yang cukup (protein dan mineral), pertumbuhan tulang akan mencapai maksimal sesuai dengan pengaruh genetik yang bersangkutan. Pemberian makanan yang berlebih (misainya kalsium) di atas kebutuhan maksimal selama masa pertumbuhan, disangsikan dapat menghasilkan massa tulang yang melebihi kemampuan pertumbuhan tulang yang bersangkutan sesuai dengan kemampuan genetiknya.3
2.      Determinan penurun masssa tulang
a.       Faktor genetik berpengaruh terhadap risiko terjadinya fraktur. Pada seseorang dengan tulang yang kecil akan lebih mudah mendapat risiko fraktur dari pada seseorang dengan tulang yang besar. Sampai saat ini tidak ada ukuran universal yang dapat dipakai sebagai ukuran tulang normal. Setiap individu mempunyai ketentuan normal sesuai dengan sitat genetiknya serta beban mekanis den besar badannya. Apabila individu dengan tulang yang besar, kemudian terjadi proses penurunan massa tulang (osteoporosis) sehubungan dengan lanjutnya usia, maka individu tersebut relatif masih mempunyai tulang tobih banyak dari pada individu yang mempunyai tulang kecil pada usia yang sama3
b.      Fakrot mekanis
            Di lain pihak, faktor mekanis mungkin merupakan faktor yang terpenting dalarn proses penurunan massa tulang schubungan dengan lanjutnya usia. Walaupun demikian telah terbukti bahwa ada interaksi panting antara faktor mekanis dengan faktor nutrisi hormonal. Pada umumnya aktivitas fisis akan menurun dengan bertambahnya usia; dan karena massa tulang merupakan fungsi beban mekanis, massa tulang tersebut pasti akan menurun dengan bertambahnya usia.3
c.       Kalsium
Faktor makanan ternyata memegang peranan penting dalam proses penurunan massa tulang sehubungan dengan bertambahnya Lisia, terutama pada wanita post menopause. Kalsium, merupakan nutrisi yang sangat penting. Wanita-wanita pada masa peri menopause, dengan masukan kalsiumnya rendah dan absorbsinya tidak bak, akan mengakibatkan keseimbangan kalsiumnya menjadi negatif, sedang mereka yang masukan kalsiumnya baik dan absorbsinya juga baik, menunjukkan keseimbangan kalsium positif. Dari keadaan ini jelas, bahwa pada wanita masa menopause ada hubungan yang erat antara masukan kalsium dengan keseimbangan kalsium dalam tubuhnya. Pada wanita dalam masa menopause keseimbangan kalsiumnya akan terganggu akibat masukan serta absorbsinya kurang serta eksresi melalui urin yang bertambah. Hasil akhir kekurangan/kehilangan estrogen pada masa menopause adalah pergeseran keseimbangan kalsium yang negatif, sejumiah 25 mg kalsium sehari.3
d.      Protein
            Protein juga merupakan faktor yang penting dalam mempengaruhi penurunan massa tulang. Makanan yang kaya protein akan mengakibatkan ekskresi asam amino yang mengandung sulfat melalui urin, hal ini akan meningkatkan ekskresi kalsium. Pada umumnya protein tidak dimakan secara tersendiri, tetapi bersama makanan lain. Apabila makanan tersebut mengandung fosfor, maka fosfor tersebut akan mengurangi ekskresi kalsium melalui urin. Sayangnya fosfor tersebut akan mengubah pengeluaran kalsium melalui tinja. Hasil akhir dari makanan yang mengandung protein berlebihan akan mengakibatkan kecenderungan untuk terjadi keseimbangan kalsium yang negatif3
e.       Estrogen
            Berkurangnya/hilangnya estrogen dari dalam tubuh akan mengakibatkan terjadinya gangguan keseimbangan kalsium. Hal ini disebabkan oleh karena menurunnya eflsiensi absorbsi kalsium dari makanan dan juga menurunnya konservasi kalsium di ginjal.
f.       Rokok dan kopi
            Merokok dan minum kopi dalam jumlah banyak cenderung akan mengakibatkan penurunan massa tulang, lebih-lebih bila disertai masukan kalsium yang rendah. Mekanisme pengaruh merokok terhadap penurunan massa tulang tidak diketahui, akan tetapi kafein dapat memperbanyak ekskresi kalsium melalui urin maupun tinja.
g.      Alkohol
            Alkoholisme akhir-akhir ini merupakan masalah yang sering ditemukan. Individu dengan alkoholisme mempunyai kecenderungan masukan kalsium rendah, disertai dengan ekskresi lewat urin yang meningkat. Mekanisme yang jelas belum diketahui dengan pasti . 3
h.      Menopause dini
            Menopause merupakan akhir dari masa reproduktif karena telah berhentinya masa haid, biasanya terjadi usia 50 – 51 tahun. Biasanya pada wanita yang merokok akan mengalami menopause 1 tahun lebih cepat dari wanita yang bukan perokok. Seseorang yang mengalami menopause akan mengalami fase klimaksterium, yaitu terjadinya peralihan dari reproduktif akhir ke masa menopause. Fase klimaksterium memiliki 3 masa yaitu premenopause yang terjadi sekitar 4 – 5 tahun sebelum menopause, masa menopause, dan pascamenopause yang terjadi sekitar 3 – 5 tahun setelah menopause. 2
            Pada masa pramenopause, biasanya ditandai dengan haid yang mulai tidak teratur dan rasa nyari saat haid, sampai akhirnya haid tersebut berhenti. (Baziad, 2003) Saat menopause, terjadi penurunan estrogen yang akan menyebabkan homon PTH (parathyroid hormon) dan penyerapan vitamin D berkurang, sehingga pembentukan tulang (osteoblast) pun akan terhambat dan kadar mineral akan berkurang.Jika kadar mineral tulang terus menerusberkurang, maka akan terjadilah osteoporosis. (Purwoastuti, 2008).2
            Menurut Compston, seseorang yang menggunakan kontrasepsi hormonal (estrogen) akan meningkatkan massa tulang. Tetapi dalam waktu jangka panjang, akan memberikan efek untuk memicu terjadinya penyakit lain seperti kanker payudara dan lain sebagainya. (Compston, 2009) Berdasarkan hasil penelitian Tsania mengatakan bahwa ada hubungan yang bermakna antara status menopause dengan kejadian osteoporosis. (Tsania, 2008)2

D.    Patofisiologi

            Osteoporosis terjadi karena adanya interaksi yang menahun antara factor genetic dan factor lingkungan.
1.      Faktor genetik meliputi : usia jenis kelamin, ras keluarga, bentuk tubuh
2.      Factor lingkungan meliputi : merokok, Alcohol, Kopi, Defisiensi vitamin dan gizi, Gaya hidup, Mobilitas, anoreksia nervosa dan pemakaian obat-obatan.
            Kedua factor diatas akan menyebabkan melemahnya daya serap sel terhadap kalsium dari darah ke tulag, peningkatan pengeluaran kalsium bersama urin, tidak tercapainya masa tulang yang maksimal dengan resobsi tulang menjadi lebih cepat yang selanjutnya menimbulkan penyerapan tulang lebih banyak dari pada pembentukan tulang baru sehingga terjadi penurunan massa tulang total yang disebut osteoporosis. Berikut tanda dan gejalanya:
1.      Nyeri tulang akut. Nyeri terutama terasa pada tulang belakang, nyeri dapat dengan atau tanpa fraktur yang nyata dan nyeri timbul mendadak.
2.      Nyeri berkurang pada saat beristirahat di tempat tidur
3.      Nyeri ringan pada saat bangun tidur dan akan bertambah bila melakukan aktivitas
4.      Deformitas tulang. Dapat terjadi fraktur traumatic pada vertebra dan menyebabkan kifosis angular yang menyebabkan medulla spinalis tertekan sehingga dapat terjadi paraparesis.
5.      Gambaran klinis sebelum patah tulang, klien (terutama wanita tua) biasanya datang dengan nyeri tulang belakang, bungkuk dan sudah menopause sedangkan gambaran klinis setelah terjadi patah tulang, klien biasanya datang dengan keluhan punggung terasa sangat nyeri (nyeri punggung akut), sakit pada pangkal paha, atau bengkak pada pergelangan tangan setelah jatuh.
6.      Kecenderungan penurunan tinggi badan.
7.      Postur tubuh kelihatan memendek

E.     Patogenesis

            Patogenesis semua macam osteoporosis adalah sama yaitu adanya balans tulang negatif yang patologik dan kekurangan kalsium yang dapat disebabkan oleh peningkatan resorpsi tulang dan atau penurunan pembentukan tulang. Massa tulang pada semua usia ditentukan oleh 3 variabel yaitu massatulangpuncak,usia dimana kekurangan massa tulang mulai terjadi dan kecepatan kehilangantulang meningkat.1
            Massa tulang akan terus meningkat sampai mencapai puncaknya pada usia 30-35 tahun. Puncak masa tulang ini lebih tinggi pada laki-laki daripada perempuan. Untuk jangka waktu tertentu keadaan massa tulang tetap stabil dan kemudian terjadi pengurangan massa tulang sesuai dengan pertambahan umur. Densitas tulang yang rendah padausia lanjut dapat terjadi akibat puncak massa tulang yang tidak cukup atau meningkatnya kehilangan tulang sebagai kelanjutan usaha untuk mencapai massa tulang yang normal.1
            Pada osteoporosis didapat massa tulang yang rendah dan kerusakan mikroarsitektur jaringan tulang dengan akibat peningkatan fragilitas tulang dan resiko fraktur. Bertambahnyakehilangantulang dapat disebabkan olehumur,menopause, dan beberapa faktor sporadik.1
Gambar 4. Perbedaan tulang normal & osteoporosis

1.            Dalam keadaan normal terjadi proses yang terus menerus dan terjadi secara seimbang yaitu proses resorbsi dan proses pembentukan tulang (remodelling). Setiap ada perubahan dalam keseimbangan ini, misalnya proses resorbsi lebih besar dari proses pembentukan, maka akan terjadi penurunan massa tulang.3
2.      Proses konsolidasi secara maksimal akan dicapai pada usia 30-35 tahun untuk tulang bagian korteks dan lebih dini pd bagian trabekula
3.      Pada usia 40-45 th, baik wanita maupun pria akan mengalami penipisan tulang bagian korteks sebesar 0,3-0,5 %/tahun dan bagian trabekula pada usia lebih muda
4.      Pada pria seusia wanita menopause mengalami penipisan tulang berkisar 20-30 % dan pada wanita 40-50 %
5.      Penurunan massa tulang lebih cepat pd bagian-bagian tubuh seperti metakarpal, kolum femoris, dan korpus vertebra
6.      Bagian-bagian tubuh yg sering fraktur adalah vertebra, paha bagian proksimal dan radius bagian distal. 3


F.     Manufestasi klinis

1.      Nyeri dengan atau tanpa fraktur yang nyata. Ciri-ciri khas nyeri akibat fraktur kompressi pada vertebra (paling sering Th 11 dan 12 ) adalah:
a.       Nyeri timbul mendadak
b.      Sakit hebat dan terlokalisasi pada vertebra yg terserang
c.       Nyeri berkurang pada saat istirahat di t4 tidur
d.      Nyeri ringan pada saat bangun tidur dan dan akan bertambah oleh karena melakukan aktivitas
e.       Deformitas vertebra thorakalis - Penurunan tinggi badan.3

G.    Pemeriksaan Diagnostik

Pemeriksaan non-invasif yaitu ;
1.      Pemeriksaan analisis aktivasi neutron yang bertujuan untuk memeriksa kalsium total dan massa tulang.
2.      Pemeriksaan absorpsiometri
3.      Pemeriksaan komputer tomografi (CT)
4.      Pemeriksaan biopsi yaitu bersifat invasif dan berguna untuk memberikan informasi mengenai keadaan osteoklas, osteoblas, ketebalan trabekula dan kualitas meneralisasi tulang. Biopsi dilakukan pada tulang sternum atau krista iliaka.
5.      Pemeriksaan laboratorium yaitu pemeriksaan kimia darah dan kimia urine biasanya dalam batas normal.sehingga pemeriksaan ini tidak banyak membantu kecuali pada pemeriksaan biomakers osteocalein (GIA protein).3

H.    Pemeriksaan Penunjang

1.      Pemeriksaan radiologi
      Gambaran radiologik yang khas pada osteoporosis adalah penipisan korteks dan daerah trabekuler yang lebih lusen. Hal ini akan tampak pada tulang-tulang vertebra yang memberikan gambaran picture-frame vertebra.
a.       Pemeriksaan Densitas Massa tulang (Densitometri)
b.      Pemeriksaan laboratorium (misalnya : kalsium serum, fosfat serum, fosfatase alkali, eksresi kalsium urine,eksresi hidroksi prolin urine, LED)
c.       Pemeriksaan x-ray
d.      Pemeriksaan absorpsiometri
e.       Pemeriksaan Computer Tomografi (CT)
f.       Pemeriksaan biopsi
g.      Diagnosis/criteria diagnosis
Diagnosis osteoporosis dapat ditegakkan dari hasil pemeriksaan :
a.       Radiology
b.      Pengukuran massa tulang
c.       Pemeriksaan lab kimiawi
d.      Pengukuran densitas tulang
e.       Pemeriksaan marker biokemis
f.        Biopsi
g.      Dan memperhatikan factor resiko (wanita, umur, ras, dsb)

I.       Penatalaksanaan

            Terapi pada osteoporosis harus mempertimbangkan 2 hal, yaitu terapi pencegahan yang pada umumnya bertujuan untuk menghambat hilangnya massa tulang. Dengan cara yaitu memperhatikan faktor makanan, latihan fisik ( senam pencegahan osteoporosis), pola hidup yang aktif dan paparan sinar ultra violet. Selain itu juga menghindari obat-obatan dan jenis makanan yang merupakan faktor resiko osteoporosis seperti alkohol, kafein, diuretika, sedatif, kortikosteroid.
Selain pencegahan, tujuan terapi osteoporosis adalah meningkatkan massa tulang   dengan melakukan pemberian obat-obatan antara lain hormon pengganti (estrogen dan progesterone dosis rendah). Kalsitrol, kalsitonin, bifosfat, raloxifene, dan nutrisi seperti kalsium serta senam beban. Pembedahan pada pasien osteoporosis dilakukan bila terjadi fraktur, terutama bila terjadi fraktur panggul.

J.      Pencegahan

Ada beberapa hal yang dapat mengurangi terjadinya osteoporosis dan osteopenia, antara lain :
1.      Pencegahan dengan mengurangi faktor resiko Pencegahan
      lakukan pencegahan dengan menghindari kebiasaan merokok, mengurangi konsumsi obat-obatan seperti steroid, tidak mengkonsumsi alkohol. (Cosman, 2009) Selain itu juga dapat melakukan terapi sulih hormon (Hormone Replacement Therapy (HRT)). Hal ini sudah dibuktikan dengan penelitian yang menyatakan bahwa sekitar 30 – 50% terjadinya fraktur tulang akan menurun karena melakukan HRT.2
2.      Pencegahan melalui nutrisi
      Pencegahan melalui nutrisi ini dapat dilakukan dengan meningkatkan konsumsi makanan dan minuman yang mengandung kalsium dan vitamin D, serta dan mengurangi konsumsi kafein. Sehingga dengan demikian dapat meningkatkan kepadatan tulang dan mengurangi terjadinya osteoporosis dan osteopenia.2
3.      Pencegahan melalui olahraga
      Dengan olahraga yang dilakukan secara teratur, maka kesehatan pun akan menjadi lebih baik. Olahraga yang baik untuk dilakukan, misalnya saja jalan, aerobik, jogging, renang, dan bersepeda. Akan tetapi jika melakukan aktivitas fisik secara berlebih justru akan mengurangi massa tulang. (Nuhonni, 2000) Selain itu sekitar 10 – 15 menit/hari keluar dipagi hari diantara pukul 06.00 s/d 09.00.2







BAB III

KONSEP KEPERAWATAN

A.    Pengkajian

1.       Anamnesa
  Menurut (Asikin;dkk 2012: 109)Anamnesa, tanyakan klien tentang : 
1)        Apakah terdapat riwayat osteoporosis dalam keluarga
2)        Apakah klien pernah mengalami fraktur sebelumnya
3)        Apakah klien mengonsumsi kalsium diet harian sesesuai dengan kebutuhan
4)        Bagaimana pola latihan klien 
5)         Kapankah terjadinya dan faktor yang mempengaruhi terjadinya menopause
6)        Apakah klien mengunakan kortikostroid selain mengonsumsi alkohol, rokok, dan kafein
7)        Apakah klien mengalami gejala lain, misalnya nyeri pinggang, konstipasi, atau gangguann citra diri.
2.       Pemeriksaan fisik
 Menurut  (Asikin;dkk 2012: 109) pada pemeriksaan fisik ditemukan:
1)        Adanya “punuk dowager” (kifosis)
2)        Nyeri punggung: thoracic dan lumbar
3)        Penurunan tinggi badan
4)        Gaya berjalan bungkuk
5)        Nyeri sendi
6)        Kelemahan otot
7)        Masalah mobilitas dan penafasan akibat perubahan postur
8)        Adanya konstipasi yang disebabkan oleh aktivitas   

B.     Diagnosa keperawatan 

Diagnosis keperawatan yang dapat ditemukan pada osteoporosis menurut (Asikin;dkk 2012: 109) dan (umi 2017: 125) :
3.       Nyeri akut berhubungan dengan fraktur    Kode : D.0077
4.       Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan Kerusakkan integritas struktur tulang D.0054
5.       Resiko terhadap cedera: fraktu berhubungan dengan tulang osteooporosis D.00136

C.    Kriteria hasil

6.       Nyeri akut berhubungan dengan fraktur Kode : D.0077
kontrol nyeri  (L. 08063)
dengan kriteria hasil:
1. Mengenali kapan terjadi nyeri
2. Mengunakan factor penyebab
3. Mengunakan tindakan pencegahan
4. Mengunakan tindakan pengurangan nyeri tanpa analgesic
5. Mengunaka sumber daya yang tersedia
6. Mengenali apa yang terkait dengan gejala nyeri
7.       Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan Kerusakkan integritas struktur tulang. D.0054
Ambulasi  (L. 055038)
Dengan kriteria hasil :
1. Menompang berat badan 
2. Berjalan dengan langkah yang efektif
3. Berjalan dengan pelan
4. Berjalan dengan kecepatan sedang
5. Berjalan mengeliling  rumah 
8.       Resiko terhadap cedera: fraktu berhubungan dengan tulang osteooporosis D.00136
Keseimbangan  (L.05039)
Dengan kriteria hasil:
1.      Mempertahankan keseimbangan saat duduk tanpa  sokongan pada punggung
2.      Mempertahankan  keseimbangan dari posisi duduk keposisi berdiri
3.       Mempertahankan keseimbangan ketika berdri
4.      Mempertahankan keseimbanga ketika berjalan
5.       Mempertahankan keseimbangan ketika berdiri dengan satu kaki

D.    Rencana keperawatan

9.       Nyeri akut berhubungan dengan fraktur
Manajemen nyeri (1.08238)
1.  Lakukan pengkajian nyeri komprehensif yang meliputi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi
2.   Gali pengetahuan dan kepercayaan pasien mengenai  nyeri
3.  Berikan informasi men genai nyeri, seperti penyebab nyeri
4.    Ajarkan prinsipprinsip manajement nyeri
5.   Dukung istirahat dan tidur yang adekuat untuk membantu penurunan nyeri

10.   Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan Kerusakkan integritas struktur tulang.
Dukungan ambulasi (1.06171)
1.  Identifikasi adanya nyeri atau keluhan fisik lainnya
2.  Identifikasi toleransi fisik melakukan ambulasi
3.  Fasilitasi aktivitas ambulasi denga alat bantu(mis. Tongkat, kruk)
4.  Fasilitasi aktivitas ambulasi fisik
5.  Jelasksan tujuan dan prosedur ambulasi Ajurkan ambulasi sederhana yang harus dilakukan (mis. Berjalan dari tempat tidur ke kursi)
11.   Resiko terhadap cedera: fraktu berhubungan dengan tulang osteooporosis
Pencegahan jatuh (1.14540)
1.  Identifikasi perilaku dan faktor yang mempengaruhi risiko jatuh
2.  Monitor gaya keseimbangan  dan tingkat kelelahan
3.  Bantu ambulasi individu yang memiliki ketidakseimbangan
4.  Anjurkan adaptasi dirumah untuk meningkatkan keamanan
5.  Sarankan mengunakan alas kaki yang aman
6.  Lakukan latihan fisik rutin yang meliputi berjalan

     













BAB IV
ASUHAN KEPERAWATAN

A.    Kasus

Seorang pasien bernama NY. Sdengan usia 54  tahun, datang kerumah sakit dengan keluhan sakit punggu bagib belakang dan sulit untuk bergerak. keluarga pasien yang mengantarkan Ny.S, mengakatakan pasien mengeluh sakit punggung belakang karena hendak mengangkat meja dirumah.

B.     Pengkajian

1.      Identitas pasien.
a.       Nama                            : Ny.S
b.      Umur                            : 54 tahun
c.       Jenis kelamin                : laki laki
d.      Tempat tanggal lahir     :  Kolaka, 21 02 1964
e.       Alamat                          : Balandete, Kec. kolaka
f.       Pekerjaan                      :  Pensiunan/guru
g.      Agama                          : islam
h.      Suku bangsa/ras            : tolaki/Mekongga
i.        Pendidikan terakhir      : Strata 1
j.        Diagnosa medis            : Osteoforosis
2.      Identitas keluarga/wali
a.       Nama                                 : Tn. L
b.      Jenis kelamin                     : Laki-laki
c.       Usia                                   : 50 Tahun
d.      Alamat                              : Balandete, Kec. kolaka
e.       Hubungan dengan pasien : suami
3.      Riwayat kesehatanm
a.       Keluhan Utama saat MRS : nyeri punggung bagian belakang
b.      Keluhan utama saat pengkajian : nyeri punggung dan sulit untuk bergerak
c.       Riwayat keluhan utama : klien mengatakan nyeri pada punggung dan sulit bergerak dan riwayat sisa BAB > 1 minggu yang lalu.
d.      Riwayat kesehatan sekarang : klien mengtakan nyeri pada saat hendak beraktifitas , nyeri yang dirasakan hilang timbul (skala nyeri sedang 4) dan merasa membaik pada saat beristirahat.
e.       Riwayat keluhan masa lalu
         Riwayat penyakit anak-anak sampai dewasa yang berhubungan dengan kesehatan saat ini : keluarga klien sebelumnya tidak ada penyakit osteoporosis.
         Riwayat penyakit kronik dan trauma. : Klien sudah mengalami osteoporosis sejak 3 tahun yang lalu.
         Riwayat perawatan di rumah sakit/fasilitas kesehatan lainnya.: Klien tidak pernah dirawat dirumah sakit.klien hanya dirawat dirumah klien.
f.       Riwayat kesehatan keluarga

X

 
Genogra




Keteranan :
 

                        : Perempuan


          :    Laki-laki   


                       : Klien



      X             : Meninggal

    ------          : Tinggal serumah

        ?              : Tidak diketahui

G1             :  Kakek    dan   nenek     klien   keduanya   telah meninggal Karena  faktor ketuaan
G2             : Bapak klien adalah anak pertama dari 4 bersaudara dan semuanya sudah meninggal
G3             : Klien adalah anak pertama dari 5 bersaudara dan anak yang ke 1 sudah meninggal karena demam.
Hea to toe.
a.     Umum
Kesadaran klien saat pengkajian adalah compos mentis, saat dilakukan pemeriksaan tanda-tanda vital TD: 120/80, N:93x/menit, T:36,7OC,RR:22 dan nyeri dibagian otot dan sendi, sakit punggung, skala nyeri 4 (1-10), klien tampak sulit berjalan, nyeri saat bergerak, tampak pucat.
AKS klien mengalami nyeri akut.
b.    Kepala
                    Ny L tidak mengalami sakit kepala, tidak ada riwayat trauma kepala pada masa lalu, Ny.S tidak mengalami gatal dikulit kepala, dan rambut berwarna putih sedikit hitam. AKS klien tidak terganggu.
c.     Mata : masih dapat melihat tapi tidak jelas  (AKS klien tidak terganggu)
d.    Telinga  : Klien masih mampu untuk mendengar (AKS klien tidak terganggu).
e.     Hidung
pada penciuman Ny.S tidak memiliki gangguan sehingga tidak mengalami terganggunya aktifitas sehari-hari AKS klien tidak terganggu.
f.     Mulut Dan Tenggorokan
Tidak memiliki gangguan pada mulut dan tenggorokan, AKS pencernaan tidak terganggu.
g.    Leher
Pada bagian leher Ny.S tidak mengalami masalah leher masih dapat di gerakan AKS tidak terganggu.
h.    Dada (Payudara)
Perubahan bentuk pada dada,tidak ada gangguan untuk dalam proses bernafas AKS tidak terganggu.
i.      Alat Kelamin
Tidak ada masalah pada alat kelamin, Ny.S mengatak sudah tidak lagi melakukan aktifitas sexual dengan suami Tn. R mengatakan di karnakan faktor usia.
j.      Aktremitas Atas dan Bawah
Ny.S mengatakan tangan dan kaki sering kekakuan, ekstremitas atas kiri dan kanan mengalami kekakuan saat dilakukan pengkajian kekuatan otot 3 (0-5), ekstrimitas bawah terdapat kekakuan kaki (AKS mengalami gangguan mobiltas fisik, resiko cedera).
Pemeriksaan system tubuh
b.       Haemopoetik
Tidak mengalami kelainan.
c.       Integumen
Pada bagian sistem integumen,rambut pada Ny.S mengalami perubahan warna,saat ini berubah menjadi warna putih yang semula hitam dan berubah serta rontok.
d.      Pernafasan
Dipengkajian pernafasan, tidak adanya gangguan pada pola pernafasan Ny.S
e.       Cardiovaskuler
Ny.S mengatakan tidak pernah memeriksakan keluhan jantung nya karena tidak ada yang dirasakannya.
f.          Gastrointestinal
Klien tampak pucat dan lemas, klien tidak mengkonsumsi susu dan sayur karena merasakan mual saat dimakan, frekuensi makan klien 3x sehari.
g.       Perkemihan
Untuk perkemihan, tidak adanya keluhan yang dirasakan frekuensi berkemih 3x sehari warna dan bau khas urine.
h.       Moskuloskeletal
Di sistem musculoskeletal Ny.S mengalami kekakuan dan kelemahan otot, nyeri pada otot dan sendi. Kekuatan otot klien 3(1-5).
i.        Endokrin
pengkajian sistem endokrin klien tidak terganggu.
j.        Sistem Syaraf Pusat
Syaraf motorik klien tidak terganggu.
k.       Kondisi Psikososial
Ny.S saat ini pada kondisi kurang baik karena klien sulit melakukan aktivitas kegiatan nya sehari-hari.
Ny.S tampak sering sakit di daerah punnggung kalau sedang melakuka aktifitas.


C.    Analisis Data

No
Data
Rasionalisasi
Masalah
1
Ds :
1. Ny.S    mengatakan
a.    Nyeri otot dan sendi
b.   Nyeri dipunggung
Do :
1.         Skala nyeri 4 (1-10)
2.         Klien tampak menahan nyeri
Agen pencedera fisik
Nyeri akut
2
Ds :
1.      Klien mengatakan Kaku dibagian kaki dan tangan
2.      Klien merasakan nyeri saat bergerak
Do :
1.      Klien tampak lemah
2.      Kekuatan otot klien 3 (0-5)
Kerusakkan integritas struktur tulang
Gangguan mobilitas fisik
3
Ds :
1.  mengatakan sulit berjalan
Do :
1.      Klien tampak pucat dan lemas
2.      Klien sulit berjalan
Tulang osteoporosis
Resiko cedera
Tabel 1: analisa data







D.    Diagnosa

12.   Nyeri aku berhubungan dengan Agen pencedera fisik
Ds :
a.       Ny.S mengatakan
1)       Nyeri otot dan sendi
2)       Nyeri punggung
Do :
a.       Skala nyeri 4 (1-10)
b.       Klien tampak menahan nyeri
13. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan Kerusakkan integritas struktur tulang
Ds :
a.       Klien mengatakan kaku dibagia kaki dan tangan
b.       Klien merasakan nyeri saat bergerak
Do :
a.       Klien tampak lemah
b.       Kekuatan otot klien 3
14.   Resiko cidera ditandai berhubungan dengan Tulang osteoporosis
Ds :
a.       Ny.S mengatakan sulit berjalan
Do :
a.       Klien tampak pucat dan lemas
b.      Klien sulit berjalan









E.     Intervensi



No

Diagnosa

Tujuan & kriteria hasil (NOC)

Intervensi (NIC)
1.       

Kode : D.0077
Kategori : psikologis
Sub Kategori : nyeri dan kenyaman
Nyeri akut berhubungan dengan Agen pencedera fisik
Ds :
1.      Tn.L mengatakan Nyeri otot dan sendi
2.      Tn.L mengatakan Nyeri punggung

Do :
1.      Skala nyeri 4 (1-10)
Klien tampak menahan nyeri

 Setelh dilakukan tindakan keperawatan selama 3x8 jam/menit
Tingkat nyeri  ( L. 08066)
Skala 1. Meningkat
1.      Cukup meningkat
2.      Sedang
3.      Cukup menurun
4.      Menurun
Dengan kriteria :
1.      Keluhan nyeri (skala 3 menjadi 5)
2.      Meringis (skala 2 menjadi 4)




Intervensi keperawat
Manajemen nyeri (1.08238)
1.      Identifikasi skala nyeri, lokasi, karakteriksik, durasi, frekuensi, kualitas, dan intensitas nyeri
2.      Berikan teknk nonarmakologis untuk mengurangi rasa nyeri (mis: TENS, hypnosis, akupuntur , terapi music, biofeedback, terapi pijit, aromaterapi , teknik imajinasi terbimbing , kompres air hanyat / dingin dan terapi bermain
3.      Monitori keberhasil terapi komplementer yang sudah diberikan
2.

Kode : D.0054
Kategori : fisiologis
Sub Kategori : Aktivitas/istrahat

Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan Kerusakkan integritas struktur tulang
Ds :
1.      Klien mengatakan kaku dibagia kaki dan tangan
2.      Klien merasakan nyeri saat bergerak

Do :
1.      Klien tampak lemah
2.      Kekuatan otot klien 4
Setelh dilakukan tindakan keperawatan selama 3x8 jam/menit
Tingkat nyeri  ( L. 08066)
Skala :
1.      Meningkat
2.      Cukup meningkat
3.      Sedang
4.      Cukup menurun
5.      Menurun
Dengan kriteria :
1.      Kekuatan otot  (skala 2 menjadi 5)
Intervensi keperawat
Dukungan Ambulasi (1.086171)
1.      Identifikasi adanya nyeri atau keluhan fisik lainnya
2.      Monitor kondisi umum selama melakukan ambulasi
3.      Fasilitasi mobilisasi fisik, jika perlu
3.

Kode : D.00136
Kategori : lingkungan
Sub Kategori : keamanan dan prokteksi
Resiko cedera berhubungan dengan tulang osteoporosis
Ds :
 Ny.S mengatakan sulit berjalan
Do :
1.      Klien tampak pucat
2.      Klien sulit berjalan

Setelh dilakukan tindakan keperawatan selama 3x8 jam/menit
Tingkat cidera ( L. 14136)
Skala :
1. Meningkat
2. cukup meningkat
3. sedang
4. cukup menurun
5. menurun
Dengan kriteria :
1.      Kejadian cidera (skala 4 menjadi 4)
2.      Luka/lecet(skala 3 menjadi 1)



Intervensi keperawat
Manajemen keselamatan lingkungan (1.114513),
1.      Identifikasi kebutuhan keselamatan (mis. Kondisi fisik, fungsi kognitif, dan riwayat prilaku)
2.      Modifikasi lingkungan untuk meminimalkan bahaya dan resiko
3.      Ajarkan individu, keluarga dan kelompok resiko tinggi bahaya lingkungan

Tabel 2 : intervensi










F.     Implementasi

Hari / tanggal
implementasi
evaluasi
senin
13    uni 2020
1.      Mengidentifikasi skala nyeri, lokasi, karakteriksik, durasi, frekuensi, kualitas, dan intensitas nyeri
2.      memberikan teknk nonarmakologis untuk mengurangi rasa nyeri (mis: TENS, hypnosis, akupuntur , terapi music, biofeedback, terapi pijit, aromaterapi , teknik imajinasi terbimbing , kompres air hanyat / dingin dan terapi bermain
3.      memonitori keberhasil terapi komplementer yang sudah diberikan

S: klien mengatakan nyeri pada bagian punggung 
O: Nampak menahan sakit
A: intervensi belum teratasi
P: lanjutkan

senin
13 juni 2020
1.      mengdentifikasi adanya nyeri atau keluhan fisik lainnya
2.      Memonitor kondisi umum selama melakukan ambulasi
3.      memfasilitasi mobilisasi fisik, jika perlu

S: klien mengatakan sulit bergerak 
O: Nampak kesulitan bergerak
A: intervensi belum teratasi
P: lanjutkan
senin
13 juni 2020
1.      mengdentifikasi kebutuhan keselamatan (mis. Kondisi fisik, fungsi kognitif, dan riwayat prilaku)
2.      Memodifikasi lingkungan untuk meminimalkan bahaya dan resiko
3.      mengajarkan individu, keluarga dan kelompok resiko tinggi bahaya lingkungan
S: klien mengatakan sulit berjalan 
O: Nampak berhati-hati ketika berjaln
A: intervensi belum teratasi
P: lanjutkan
Tabel 3:  implementasi


BAB V
PENUTUP

A.    Kesimpulan

Osteoporosis merupakan penurunan masa tulang yang disebabkan ketidak seimbangan resorpsi tulang dan pembentukkan tulang. Pada osteoporosis terjadi peningkatan resorporsi tulang atau penurunan pembentukan tulang (Asikin;dkk 2012: 101).
Osteoporosis yang lebih dikenal dengan keropos tulang menurut WHO adalah penyakit sekeletal sistemik dengan karakteristik masa masa tulang yang rendah dan perubahan mikroarsitektur dari jaringan tulang dengan akibat meningkatnya fragilitas tulang dan meningkatnya kerentanan terhadap patah tulang (Lukman, ningsih 2013: 141).

B.     Saran

1.        Untuk mahasiswa diharapkan agar memahami segelah penjelasan dalam makalah ini dan menjadi salah sau referensi pembelajaran
2.        Untuk dosen diharapkan segalah kritik dan saran agar kedepanya bisa membua makalah asuhan keperawatan Osteoforosis bisa lebih baik lagi.











DAFTAR PUSTAKA
1.        Ramadani M. Faktor-Faktor Resiko Osteoporosis Dan Upaya Pencegahannya. J Kesehat Masy Andalas. 2010;4(2):111-115.
2.        Rosenfeld JA. Osteoporosis. Handb Women’s Heal Second Ed. 2009;1:319-324. doi:10.1017/CBO9780511642111.028
3.        Sain BI, Kp S. ASKEP pada Klien dengan gangguan Metabolisme Tulang : OSTEOPOROSIS. :42-52.
4.        Marjan AQ, Marliyati SA. Hubungan Antara Pola Konsumsi Pangan Dan Aktivitas Fisik Dengan Kejadian Osteoporosis Pada Lansia Di Panti Werdha Bogor. J Gizi dan Pangan. 2014;8(2):123. doi:10.25182/jgp.2013.8.2.123-128
5.        Goemmel R. Legal and Societal Responses to Threats Resulting from Modern Science and Technology. Vol 13.; 2009.


4 komentar:

  1. osteoporosis merupakan penyakit yang sering terjadi pada lansia semoga dengan adanya makalah ini banyak yang membaca dan menyerap ilmunya sehingga dapat melakukan pencegahan terjadinya osteoporosis

    BalasHapus
  2. IMPLEMENTASI jenis evaluasinya formatif S&O
    buat kolom lain untuk evaluasi sumatif SOAP

    BalasHapus

KEPERAWATAN KELUARGA

    ASUHAN KEPERAWAT KELUARGA   DENGAN MASALAH GASTRITIS AKUT     OLEH: Ti...