Sabtu, 06 Februari 2021

TERAPI MENGGAMBAR UNTUK MENGATASI MASALAH PADA ANAK

 

 

TERAPI MENGGAMBAR UNTUK MENGATASI

MASALAH PSIKOLOGIS PADA ANAK

 




 

OLEH:

Tini Wahiyuni

S.0017.P.038

 

 

 

 

 

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN

STIKES KARYA KESEHATAN

KENDARI

2021

 


 

KATA PENGANTAR

                                                                                       

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan rahmat serta karunia-Nya kepada kami sehingga dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya. Makalah ini berjudul “TERAPI MENGGAMBAR UNTUK MENGATASI MASALAH PSIKOLOGIS PADA ANAK”.

Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun, selalu kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini. Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas kepada pembaca.

Akhir kata, kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga Allah SWT senantiasa meridhoi segala usaha kita. Amin.

 

 

                                                                        Kendari, 05 Februari 2021

 

 

                                                           

 

 

 

DAFTAR ISI

Contents

KATA PENGANTAR.. i

DAFTAR ISI ii

BAB I iii

PENDAHULUAN.. iii

A.     Latar belakang. iii

B.     Rumusan masalah. iv

BAB II 1

PEMBAHASAN.. 1

A.     PSIKOLOGIS PADA ANAK.. 1

1.      Konsep Psikologi Perkembangan Psikologi. 1

2.      Ruang Lingkup Psikologi Perkembangan. 2

3.      Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perkembangan psikologis Individu. 2

B.     TERAPI MENGGAMBAR.. 3

1.      Pengertian terapi menggambar. 3

2.      Periode Perkembangan Menggambar pada Anak. 4

3.      Tujuan Terapi Menggambar. 6

4.      Manfaat Terapi Menggambar. 7

5.      Peranan terapi menggambar. 8

6.      Langkah-langkah dalam Penerapan Terapi Menggambar. 9

BAB III 11

PENUTUP.. 11

A.     Kesimpulan. 11

B.     Saran. 11

DAFTAR PUSTAKA.. 12

 

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

A.  Latar belakang

Memiliki anak yang sehat dan memiliki tumbuh kembang yang baik merupakan dambaan bagi setiap pasangan suami istri yang telah menikah. Anak merupakan berkah yang sangat luar biasa, karena anak akan menjadi generasi penerus dalam keluarga. Seorang anak yang dikatakan tumbuh dan berkembang secara normal dan sehat merupakan anak-anak yang berkembang secara fisik, kognitif, sosial dan emosi dengan baik dan sesuai dengan tahapan perkembangan usianya seperti yang dikemukan oleh The UN dalam Rights of The Child (1).

Tujuan dari tahapan perkembangan tersebut adalah untuk mengidentifikasi tahapan-tahapan kronologis anak dalam mengikuti urutan perkembangan yang normal. Orangtua memiliki harapan dan cita-cita agar anak mereka dapat berkembang dengan maksimal, sehingga anak tersebut mampu dan berhasil dalam memenuhi tugas-tugas perkembangan yang berlaku umum untuk setiap umur atau sesuai dengan fase perkembangan yang akan atau sedang dilalui oleh anak. Anak seringkali mengalami permasalahan emosional seperti cepat marah, cepat tersinggung, trauma, dan sebagainya(2).

Anak usia sekolah dasar merupakan individu yang berada dalam satu rentang perubahan perkembangan yang dimulai dari bayi hingga remaja. Rentang kehidupan yang dimulai dari usia 6-12 tahun seringkali disebut usia sekolah dasar atau masa sekolah. Periode ini dimulai dengan masuknya anak ke lingkungan sekolah, yang memiliki dampak signifikan dalam perkembangan dan hubungan anak dengan orang lain. Anak mulai bergabung dengan teman seusianya, mempelajari budaya masa kanak kanak, dan menggabungkan diri ke dalam kelompok, sebaya yang merupakan hubungan dekat pertama di luar kelompok keluarga(3).

Berdasarkan laporan "Global Report 2017: Ending Violence in Childhood" sebanyak 73,7 persen anak-anak Indonesia berumur 1-14 tahun mengalami pendisiplinan dengan kekerasan (violent discipline) atau agresi psikologis dan hukuman fisik di rumah. Hal ini diperkuat data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) yang mencatat sebanyak 4.294 kasus kekerasan pada anak dilakukan oleh keluarga dan pengasuh (2011-2016). Kasus terbanyak terjadi pada 2013, yaitu 931 kasus kekerasan anak. Namun, jumlah ini terus menurun menjadi 921 kasus di 2014, 822 kasus di 2015, dan 571 kasus di 2016. Secara global, diperkirakan sebanyak 24 juta orang telah menderita skizofrenia . Di Indonesia, menurut Riskesdas (2007) sebanyak 1 juta orang atau sekitar 0,46% dari total pendududk Indonesia menderita skizofrenia. Sedangkan yang mengalami gangguan mental emosiona (cemas dan depresi) adalah 11,6% atau sekitar 19 juta penduduk(3)

B. Rumusan masalah

1.    Apa yang dimaksud dengan psikologis?

2.    Apa saja ruang lingkup perkembangan psikologis?

3.    Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perkembangan psikologis Individu?

4.    Apa yang dimaksud terapi menggambar?

5.    Bagaimana Periode Perkembangan Menggambar pada Anak

6.    Sebutkan tujuan dan manfaat terapi menggambar?

7.    Sebutkan peran terapi menggambar?

8.    Langkah-langkah dalam Penerapan Terapi Menggamb


BAB II

PEMBAHASAN

A.   PSIKOLOGIS PADA ANAK

1.    Konsep Psikologi Perkembangan Psikologi.

Psikologi berasal dari kata psyche dan logos; yang mempunyai ‘jiwa’ dan ‘ilmu’. Penulis setuju jika psikologi diartikan sebagai ilmu yang menyelidiki dan membahas tentang proses jiwa atau mental dan perbuatan atau tingkah laku manusia dalam rangka berinteraksi dengan lingkungan kehidupannya. Mayoritas para ahli psikologi setuju dengan rumusan tersebut. (3)

Perkembangan menunjukkan suatu proses tertentu, yaitu suatu proses tertentu, yaitu suatu proses yang menuju ke depan dan tidak dapat diulang kembali. Dalam perkembangan manusia terjadi perubahan-perubahan yang sedikit banyak bersifat tetap dan tidak dapat diulangi. Perkembangan menunjukkan pada perubahan-perubahan dalam suatu arah yang bersifat tetap dan maju.(4)

Para ahli yang mengutamakan psikologi untuk kepentingan pendidikan, lebih mengutamakan manusia sebagai objek psikologi. Psikologi merupakan ilmu yang membahas tingkah laku manusia dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Tingkah laku yang dimaksud adalah suatu aktivitas yang meliputi proses berpikir, beremosi, dan pengambilan keputusan. Misalnya seorang anak yang diam sambil tamanya menatap gurunya yang sedang menerangkan tugas-tugas yang harus diselesainya, berarti anak sedang bertingkah laku.(4)

2.    Ruang Lingkup Psikologi Perkembangan

Jika dipahami secara cermat dari penjelasan pengertian tentang psikologi perkembangan sebagaimana telah dibicarakan di muka, maka dapatlah dimengerti tentang ruang lingkup dari pembahasan ilmu ini bahwa psikologi perkembangan merupakan:

a.    Cabang ilmu psikologi.

b.    Objek pembahasannya ialah perilaku atau gejala jiwa seseorang.

c.    Tahapannya dimulai dari masa konsepsi hingga masa dewasa.

Adapun gejala jiwa atau perilaku manusia dalam ruang lingkup lain, dibahas oleh psikolog-psikolog yang lebih bersifat khusus, yang secara ilmiah mendasarkan pada hasil penemuan-penemuan empiris antara lain: Psikologi faal, Psikologi abnormal, Psikologi belajar, Psikologi industry , Psikologi remaja, Psikologi pendidikan, Psikologi klinis , Psikologi social Psikologi lingkungan Dan lain-lain.(5)

3.    Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perkembangan psikologis Individu.

Perkembangan anak tidak berlangsung secara mekanis-otomatis, sebab perkembangan terjadi sangat bergantung pada beberapa faktor secara simultan. Faktor- faktor tersebut adalah berikut ini:

a.    Faktor herediter (warisan sejak lahir/bawaan).

b.    Faktor lingkungan yang menguntungkan atau merugikan.

c.    Kematangan fungsi-fungsi organis dan psikis.

d.    Aktifitas anak sebagai subyek bebas yang berkemauan, kapanpun seleksi, bisa menolak, atau menyetujui, punya emosi, serta usaha membangun diri sendiri.

e.    Ketentuan Tuhan (takdir Ilahi).(5)

 

B.   TERAPI MENGGAMBAR

1.    Pengertian terapi menggambar.

Menggambar merupakan salah satu kegiatan yang disenangi anak-anak. Dalam kegiatan menggambar, baik menggambar ekspresi, menggambar ilustrasi maupun menggambar dekorasi dituntut penguasaaan keterampilan. Hakikat menggambar adalah penyajian ilusi optik atau manipulasi ruang dalam bidang datar dua dimensi. Menggambar merupakan kegiatan yang menyenangkan untuk mengekspresikan perasaan dan pikiran ke dalam bentuk simbol. Menggambar tidak hanya digunakan untuk mengasah keterampilan motorik halus mengembangkan imajinasi dan kreativitas, namun dapat juga digunakan sebagai bentuk terapi.(6)

Terapi menggambar berkembang untuk membantu anak yang tidak dapat mengekspresikan pikiran dan perasaan melalui kata-kata. Gambar dapat memberikan makna jika dihubungkan dengan anak-anak yang terluka, mengasingkan diri, kecewa, dan tidak dapat mengungkapkan pikiran dan perasaan kepada orang lain.Terapi menggambar mengajak individu mengenali kejadian atau hal yang selama ini disukai atau tidak disukai. Melalui terapi menggambar, hal-hal yang ditekan dalam alam bawah sadar dapat diangkat ke alam sadar.(6)

Terapi bermain menggambar juga dapat digunakan sebagai media bermain anak dirumah sakit. Melalui kegiatan menggambar dapat membantu mengespresikan pikiran dan perasaan anak tanpa melalui kata-kata.. Selain itu menggambar juga dapat membantu anak mengespresikan kebencian, penolakan, frustasi dan kemarahan dengan cara yang aman, membebaskan anak dari perasaan terluka karena tindakan menyakitkan, membebaskan anak dari rasa malu, dan menghalangi anak yang suka mengasingkan diri.(7)

Anak dapat diminta menggambar apa yang sedang dipikirkannya, sehingga terapis dapat memperoleh gambaran secara visual apa yang sedang dialami dan dibutuhkan anak. Gambar merupakan media komunikasi untuk mengungkapkan apa yang diharapkan anak. Melalui gambar, anak dapat membebaskan perasaan, mengungkapkan permasalahan atau konflik, mengekspresikan pikiran dan perasaan yang barangkali belum mampu diungkapkan secara verbal.(6)

2.  Periode Perkembangan Menggambar pada Anak

a.    Masa mencoreng (2-4 tahun).

Anak belum mampu mengendalikan gerakan tangan sehingga haslnya tidak menentu. Goresan yang dihasilkan anak beraneka ragam berupa garis-garis panjang, garis-garis pendek yang tidak menentu arahnya dan diulang- ulang hingga berkembang menjadi bentuk seperti benang kusut.

 




b.    Masa pra bagan (4-7 tahun).

Pada masa ini anak mulai mampu mengendalikan tangan. Garis yang dihasilkan tidak corang-coreng lagi. Anak mengambar bentuk yang berhubungan dengan dunia sekitarnya. Anak dapat membuat bentuk yang bisa dikenal meskipun kadang-kadang masih susah untuk menetapkan gambar yang dibuatnya. Anak membangun ikatan emosional dengan gambar yang hendak dibuatnya.

 





c.    Masa bagan (7-9 tahun).

Pengamaatan anak bertambah teliti dan anak tahu hubungan alam sekitar dengan dirinya.

d.    Masa permulaan realisme (9-11 tahun)

Masa ini ditandai dengan adanya keberadan sosial. Realisme bukan diartikan meniru alam yang tepat sebagai usaha untuk konsep visual anak-anak yang masih memandang secara subyektif, jadi gambarnya belum sesuai dengan objek.

e.    Masa naturalistik (11-13 tahun)

Masa ini anak usia berpikir. Anak mulai menjadi kritis terhadap karya sendiri. Anak tidak lagi menggambar apa yang diketahui tetapi yang dilihatnya.(6)

3.    Tujuan Terapi Menggambar

Bagi anak Menurut Hajar Pamadhi (dalam Saiful Haq, 2008: 4) menyatakan bahwa menggambar memiliki tujuan yang antara lain :

a.    Alat untuk mengutarakan/ekspresi isi hati, pendapat maupun gagasan

b.    Media fantasi, imajinasi, dan sekaligus sublimasi

c.    Stimulasi bentuk ketika lupa atau untuk menumbuhkan gagasan baru

d.     Alat untuk menjelaskan bentuk serta situasi

Menurut Hajar Pamadhi, Evan Sukardi S, dan Azizah Muis (2010: 2.11) menjelaskan tentang fungsi menggambar bagi anak. Hal tersebut diuraikan sebagai berikut :

a.    Menggambar sebagai alat bercerita (bahasa visual/bentuk)

b.    Menggambar sebagai media mencurahkan perasaan

c.    Menggambar sebagai alat bermain

d.    Menggambar melatih ingatan

e.    Menggambar melatih berfikir komprehensif (menyeluruh)

f.     Menggambar sebagai media sublimasi perasaan

g.    Menggambar melatih keseimbangan

h.    Menggambar mengembangkan kecakapan emosional

i.      Menggambar melatih kreativitas anak

j.      Menggambar melatih ketelitian melalui pengamatan langsung Anak-anak sangat suka memberi warna melalui berbagai media.(8)

Malchiodi  menyatakan bahwa gambar berfungsi sarana komunikasi agar anak berpartisipasi dalam proses terapuetik. Karen Machover juga menemukan adanya suatu hubungan yang erat antara figur gambar dan kepribadian Anak yang mengalami masalah emosi dan sosial sering menggambar dengan bentuk kepala yang besar.Apabila gambar wajah hilang dan bagian lain dari tubuh digambar dengan sangat hati-hati, mengindikasikan adanya kesulitan dalam hubungan dengan orang lain. Mulut yang digambarkan dengan garis sendirian mungkin mengindikasikan ketegangan, dan gambar mulu dengan goresan yang berat mengindikasikan agresif.(6)

 Gambar mata yang besar dan gelap menciptakan kesan curiga. mungkin ini menunjukkan bahwa anak kurang mempunyai persaan memiliki dalam keluarga, atau mera tidak dihargai oleh anggota keluarga. Gambar tangan yang saling menyentuh dan berpegangan satu sama lan mengindikasikan adanya kehangatan dan kasih sayang dalam keluarga. Gambar anggota keluarga yang tidak tersenyum dan tidak ada gambar mulut mengindikasikan kurangnya komunikasi. Posisi gambar yang lebih tinggi mengindikasikan lebih berkuasa.(6)

Menurut Di Leo, ketidakmampuan anak untuk menghasilkan figur manusia yang terintegrasi dicatat sebagai bentuk penyimpangan dan adanya indikasi kepribadian yang tidak terorganisir. Anak yang menghapus gambar biasanya secara signifikan mengatakan tentang bagaimana anak memandang diri dan hubungan dengan orang lain  Bentuk badan kecil menunjukkan perasaaan tidak aman, mengasingkan diri, dan merasa tidak terampil atau mampu. Bentuk badan besar menandakan adanya keterbukaan dan kontrol diri dan gambar tangan pendek menunjukkan mengasingkan diri, tangan panjang menjangkau orang lain.(6)

4.    Manfaat Terapi Menggambar

 As’adi Muhammad (2009: 15-27) mendeskripsikan bahwa kegiatan menggambar  memberikan manfaat bagi anak, yakni :

a.    Merangsang dan Membangkitkan otak kanan Dengan memberikan pelajaran atau pelatihan mengenai menggambar dan mewarnai, otak kanan akan terasah yang akhirya akan membuatnya mempunyai kreativitas yang tinggi.

b.    Menumbuhkan kreativitas Lewat menggambar, anak bisa menuangkan beragam imajinasi yang ada di kepala mereka. Lewat gambar yang dibuatnya, anak bisa menuangkan segala gagasan dan pendapat-pendapat yang terpendam. Dengan demikian, tidaklah keliru jika dikatakan bahwa gambar dapat meningkatkan kreativitas anak.

c.    Membuka wawasan Sebagai contoh anak sedang belajar menggambar seekor kuda yang tengah merumput di kehijauan padang lapang. Dalam menggambar kuda tersebut, anak pasti akan banyak berusaha mengetahui apa saja yang ada disekitar hewan tersebut.

d.    Lukisan, cermin kreativitas dan kecerdasan anak.

Apapun hasil lukisan yang tertuang, merupakan hasil gagasan dan kemampuan anak. Jika anak mempunyai kreativitas dan kecerdasan yang tinggi, maka lukisan yang dihasilkan akan baik. Tetapi jika tidak, maka lukisan akan terlihat biasa-biasa saja, bahkan kualitasnya akan cenderung di bawah standar lukisan anak pada umumnya.(8)

5.    Peranan terapi menggambar

Anak dapat mengekspresikan perasaannya dengan cara menggambar, ini berarti menggambar bagi anak merupakan suatu cara untuk berkomunikasi tanpa menggunakan kata-kata (Suparto, 2003, dalam Paat, 2010). juga menjelaskan bahwa proses mengambar dan hasilnya dapat membantu individu membebaskan konflik, mengalami kembali suatu kejadian, menyalurkan kembali melalui sublimasi, dan menyelesaikan masalah. Saat anak menggambar berarti anak mengkomunikasikan pikiran dan perasaan, menyelesaikan konflik dengan aman tanpa merasa terancam, membantu memberika gambaran bagaimana anak memandang dirinya atau peran atau posisinya dalam keluarga, membantu mengerti, mengkomunikasikan tentang masalah keluarga.(6)

Selain itu menggambar juga dapat membantu anak mengekspresikan kemarahan, kebencian, penolakan, frustasi dan kemarahan dengan cara yang aman, membebaskan anak dari perasaan terluka karena penyiksaan, mudah meledak-ledak karena marah dan tersinggung, membebaskan anak dari rasa malu, dan menghalangi anak yang suka mengasingkan diri Adapun tema yang dipilih untuk menggambar seperti acara favoritku, kejadian yang menakutkan, peristiwa yang baru saja dialami, perasaan hari ini, harapan, dan sebagainya.(6)

6.    Langkah-langkah dalam Penerapan Terapi Menggambar

a.    Mengembangkan hubungan (rapport)

Menjalin hubungan merupakan langkah awal untuk menumbuhkan kepercayaan dan kenyamanan anak atau klien pada terapis. Apabila anak sudah merasa nyaman dan dapat mempercayai terpias, maka kecenderungan anak atau klien akan lebih terbuka untuk mengungkapkan apa yang dialami.

b.    Memberikan kesempatan anak menggambar

Terapis dapat memulai dengan warna karena warna memiliki simbol kuat Salurkan perasaan lewat warna; pilih bentuk atau obyek dalam pikiran; teruslah menggambar hingga tak memiliki lagi apa pun dalam pikiran.

c.    Mencermati dan menganalisis gambar anak Terapis mencermati dan menganalisis gambar untuk mencari tahu makna gambar.

d.    Wawancara

Wawancara dilakukan untuk menggali lebih dalam tentang apa yang dirasakan dan dipikirkan anak.

e.    Anak diminta menceritakan gambar Setelah menggambar, anak dapat diminta untuk menceritakan gambar. Namun jika anak enggan, maka terapis yang lebih aktif untuk bertanya pada anak tentang gambar yang telah dibuat anak.

f.     Observasi

Observasi atau pengamatan dilakukan dengan mencermati perilaku anak.

g.    Konseling

Konseling dilakukan sebagai upaya tindak lanjut untuk membantu anak menuntaskan masalahnya. Sasaran konseling

tidak hanya pada anak, namun memungkinkan juga melibatkan orangtua atau pihak lain yang terkait dengan masalah anak.(4)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

A.   Kesimpulan

Terapi menggambar berkembang untuk membantu anak yang tidak dapat mengekspresikan pikiran dan perasaan melalui kata-kata. Gambar dapat memberikan makna jika dihubungkan dengan anak-anak yang terluka, mengasingkan diri, kecewa, dan tidak dapat mengungkapkan pikiran dan perasaan kepada orang lain.Terapi menggambar mengajak individu mengenali kejadian atau hal yang selama ini disukai atau tidak disukai. Melalui terapi menggambar, hal-hal yang ditekan dalam alam bawah sadar dapat diangkat ke alam sadar

B.   Saran

Penulis menyadari bahwa makalah di atas masih banyak kekurangan baik dari segi materi maupun penyusunan. Oleh karena itu penulis sangat mengharapkan kritik serta saran dari pembaca agar kedepannya bisa lebih baik lagi dalam pembuatan makalah. Semoga makalah yang di buat ini memberi banyak manfaat bagi pembaca dan penulis.

 

 


DAFTAR PUSTAKA

 

1.        Anggaswari AAAWD, Budisetyani IGAPW. Gambaran Kebutuhan Psikologis pada Anak dengan Gangguan Emosi dan Perilaku (Tinjauan Kualitatif dengan Art Therapy sebagai Metode Penggalian Data). J Psikol Udayana. 2016;3(1):86–94.

2.        MUTHMAINNAH. PERANAN TERAPI MENGGAMBAR SEBAGAI KATARSIS EMOSI ANAK. J Chem Inf Model. 2019;53(9):1689–99.

3.        Suwargarini R, Mubin MF. Gambaran Psikologis: Konsep Diri Pada Anak Usia Sekolah Dasar Di Wilayah Banjir Rob Kelurahan Bandarharjo Semarang Utara. J Keperawatan Anak. 2014;2(2):124–32.

4.        Wulan AAA, Anggaswari D, Wulan IGAP. Gambaran Kebutuhan Psikologis pada Anak dengan Gangguan Emosi dan Perilaku ( Tinjauan Kualitatif dengan Art Therapy sebagai Metode Penggalian Data ). 2016;3(1):86–94.

5.        kayyis fithri ajhuri M A. Psikologi Perkembangan. 2016. 390 p.

6.        Muthmainnah. Peranan Terapi Menggambar Sebagai Katarsis Emosi Anak. J Pendidik Anak. 2017;4(1):524–9.

7.        Arifin RF, Udiyani R, Rini. Efektifitas Terapi Menggambar Dan Mewarnai Gambar Terhadap Kecemasan Hospitalisasi Usia Pra Sekolah. J Darul Azhar. 2018;6(1):53–8.

8.        Sarti. PENERAPAN TERAPI BERMAIN DENGAN MENGGAMBAR DAN MEWARNAI GAMBAR UNTUK MENURUNKAN TINGKAT KECEMASAN ANAK PRA-SEKOLAH DI RUANG MELATI RSUD Dr. SOEDIRMAN KEBUMEN. 2018;2:227–49.

 

LINK VIDIO : https://youtu.be/tNLF3w2EvMY

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

KEPERAWATAN KELUARGA

    ASUHAN KEPERAWAT KELUARGA   DENGAN MASALAH GASTRITIS AKUT     OLEH: Ti...