TERAPI MENGGAMBAR UNTUK MENGATASI
MASALAH PSIKOLOGIS PADA ANAK
OLEH:
Tini Wahiyuni
S.0017.P.038
PROGRAM
STUDI S1 KEPERAWATAN
STIKES
KARYA KESEHATAN
KENDARI
2021
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat
Allah SWT, yang telah memberikan rahmat serta karunia-Nya kepada kami sehingga
dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya. Makalah ini berjudul
“TERAPI MENGGAMBAR UNTUK MENGATASI MASALAH PSIKOLOGIS PADA ANAK”.
Kami menyadari bahwa makalah ini masih
jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang
bersifat membangun, selalu kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini. Semoga
makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas kepada pembaca.
Akhir kata, kami sampaikan terima
kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam penyusunan makalah ini
dari awal sampai akhir. Semoga Allah SWT senantiasa meridhoi segala usaha kita.
Amin.
Kendari,
05 Februari 2021
DAFTAR ISI
Contents
1. Konsep
Psikologi Perkembangan Psikologi.
2. Ruang Lingkup
Psikologi Perkembangan
3. Faktor-faktor
yang Mempengaruhi Perkembangan psikologis Individu.
1. Pengertian
terapi menggambar.
2. Periode
Perkembangan Menggambar pada Anak
6. Langkah-langkah
dalam Penerapan Terapi Menggambar
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
belakang
Memiliki anak yang sehat dan memiliki tumbuh
kembang yang baik merupakan dambaan bagi setiap pasangan suami istri yang telah
menikah. Anak merupakan berkah yang sangat luar biasa, karena anak akan menjadi
generasi penerus dalam keluarga. Seorang anak yang dikatakan tumbuh dan
berkembang secara normal dan sehat merupakan anak-anak yang berkembang secara
fisik, kognitif, sosial dan emosi dengan baik dan sesuai dengan tahapan
perkembangan usianya seperti yang dikemukan oleh The UN dalam Rights of The
Child (1).
Tujuan dari tahapan perkembangan tersebut
adalah untuk mengidentifikasi tahapan-tahapan kronologis anak dalam mengikuti
urutan perkembangan yang normal. Orangtua memiliki harapan dan cita-cita agar
anak mereka dapat berkembang dengan maksimal, sehingga anak tersebut mampu dan
berhasil dalam memenuhi tugas-tugas perkembangan yang berlaku umum untuk setiap
umur atau sesuai dengan fase perkembangan yang akan atau sedang dilalui oleh
anak. Anak seringkali mengalami permasalahan emosional seperti cepat marah,
cepat tersinggung, trauma, dan sebagainya(2).
Anak usia sekolah dasar merupakan individu
yang berada dalam satu rentang perubahan perkembangan yang dimulai dari bayi
hingga remaja. Rentang kehidupan yang dimulai dari usia 6-12 tahun seringkali
disebut usia sekolah dasar atau masa sekolah. Periode ini dimulai dengan masuknya
anak ke lingkungan sekolah, yang memiliki dampak signifikan dalam perkembangan
dan hubungan anak dengan orang lain. Anak mulai bergabung dengan teman
seusianya, mempelajari budaya masa kanak kanak, dan menggabungkan diri ke dalam
kelompok, sebaya yang merupakan hubungan dekat pertama di luar kelompok
keluarga(3).
Berdasarkan laporan "Global Report 2017:
Ending Violence in Childhood" sebanyak
73,7 persen anak-anak Indonesia berumur 1-14 tahun mengalami pendisiplinan
dengan kekerasan (violent discipline) atau agresi psikologis dan hukuman fisik
di rumah. Hal ini diperkuat data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) yang
mencatat sebanyak 4.294 kasus kekerasan pada anak dilakukan oleh keluarga dan
pengasuh (2011-2016). Kasus terbanyak terjadi pada 2013, yaitu 931 kasus
kekerasan anak. Namun, jumlah ini terus menurun menjadi 921 kasus di 2014, 822
kasus di 2015, dan 571 kasus di 2016. Secara global, diperkirakan sebanyak 24
juta orang telah menderita skizofrenia . Di Indonesia, menurut Riskesdas (2007)
sebanyak 1 juta orang atau sekitar 0,46% dari total pendududk Indonesia menderita
skizofrenia. Sedangkan yang mengalami gangguan mental emosiona (cemas dan
depresi) adalah 11,6% atau sekitar 19 juta penduduk(3)
B. Rumusan masalah
1. Apa yang dimaksud dengan psikologis?
2. Apa saja ruang lingkup perkembangan psikologis?
3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perkembangan
psikologis Individu?
4. Apa yang dimaksud terapi menggambar?
5. Bagaimana Periode Perkembangan Menggambar pada Anak
6. Sebutkan tujuan dan manfaat terapi menggambar?
7. Sebutkan peran terapi menggambar?
8. Langkah-langkah dalam Penerapan Terapi Menggamb
BAB II
PEMBAHASAN
A.
PSIKOLOGIS
PADA ANAK
1.
Konsep
Psikologi Perkembangan Psikologi.
Psikologi berasal dari kata psyche dan logos; yang
mempunyai ‘jiwa’ dan ‘ilmu’. Penulis setuju jika psikologi diartikan sebagai
ilmu yang menyelidiki dan membahas tentang proses jiwa atau mental dan
perbuatan atau tingkah laku manusia dalam rangka berinteraksi dengan lingkungan
kehidupannya. Mayoritas para ahli psikologi setuju dengan rumusan tersebut. (3)
Perkembangan menunjukkan suatu proses tertentu, yaitu
suatu proses tertentu, yaitu suatu proses yang menuju ke depan dan tidak dapat
diulang kembali. Dalam perkembangan manusia terjadi perubahan-perubahan yang
sedikit banyak bersifat tetap dan tidak dapat diulangi. Perkembangan
menunjukkan pada perubahan-perubahan dalam suatu arah yang bersifat tetap dan
maju.(4)
Para ahli yang mengutamakan psikologi untuk kepentingan pendidikan,
lebih mengutamakan manusia sebagai objek psikologi. Psikologi merupakan ilmu
yang membahas tingkah laku manusia dalam berinteraksi dengan lingkungannya.
Tingkah laku yang dimaksud adalah suatu aktivitas yang meliputi proses
berpikir, beremosi, dan pengambilan keputusan. Misalnya seorang anak yang diam
sambil tamanya menatap gurunya yang sedang menerangkan tugas-tugas yang harus
diselesainya, berarti anak sedang bertingkah laku.(4)
2.
Ruang
Lingkup Psikologi Perkembangan
Jika dipahami secara cermat dari penjelasan pengertian
tentang psikologi perkembangan sebagaimana telah dibicarakan di muka, maka
dapatlah dimengerti tentang ruang lingkup dari pembahasan ilmu ini bahwa
psikologi perkembangan merupakan:
a. Cabang ilmu psikologi.
b. Objek pembahasannya ialah perilaku atau gejala jiwa
seseorang.
c. Tahapannya dimulai dari masa konsepsi hingga masa
dewasa.
Adapun gejala jiwa
atau perilaku manusia dalam ruang lingkup lain, dibahas oleh psikolog-psikolog
yang lebih bersifat khusus, yang secara ilmiah mendasarkan pada hasil
penemuan-penemuan empiris antara lain: Psikologi faal, Psikologi abnormal, Psikologi
belajar, Psikologi industry , Psikologi remaja, Psikologi pendidikan, Psikologi
klinis , Psikologi social Psikologi lingkungan Dan lain-lain.(5)
3.
Faktor-faktor
yang Mempengaruhi Perkembangan psikologis Individu.
Perkembangan anak tidak berlangsung secara
mekanis-otomatis, sebab perkembangan terjadi sangat bergantung pada beberapa
faktor secara simultan. Faktor- faktor tersebut adalah berikut ini:
a. Faktor herediter (warisan sejak lahir/bawaan).
b. Faktor lingkungan yang menguntungkan atau merugikan.
c. Kematangan fungsi-fungsi organis dan psikis.
d. Aktifitas anak sebagai subyek bebas yang berkemauan,
kapanpun seleksi, bisa menolak, atau menyetujui, punya emosi, serta usaha
membangun diri sendiri.
e. Ketentuan Tuhan (takdir Ilahi).(5)
B.
TERAPI
MENGGAMBAR
1.
Pengertian
terapi menggambar.
Menggambar merupakan salah satu
kegiatan yang disenangi anak-anak. Dalam kegiatan menggambar, baik menggambar
ekspresi, menggambar ilustrasi maupun menggambar dekorasi dituntut penguasaaan
keterampilan. Hakikat menggambar adalah penyajian ilusi optik atau manipulasi
ruang dalam bidang datar dua dimensi. Menggambar merupakan kegiatan yang
menyenangkan untuk mengekspresikan perasaan dan pikiran ke dalam bentuk simbol.
Menggambar tidak hanya digunakan untuk mengasah keterampilan motorik halus
mengembangkan imajinasi dan kreativitas, namun dapat juga digunakan sebagai
bentuk terapi.(6)
Terapi menggambar berkembang
untuk membantu anak yang tidak dapat mengekspresikan pikiran dan perasaan
melalui kata-kata. Gambar dapat memberikan makna jika dihubungkan dengan
anak-anak yang terluka, mengasingkan diri, kecewa, dan tidak dapat
mengungkapkan pikiran dan perasaan kepada orang lain.Terapi menggambar mengajak
individu mengenali kejadian atau hal yang selama ini disukai atau tidak
disukai. Melalui terapi menggambar, hal-hal yang ditekan dalam alam bawah sadar
dapat diangkat ke alam sadar.(6)
Terapi bermain menggambar juga
dapat digunakan sebagai media bermain anak dirumah sakit. Melalui kegiatan
menggambar dapat membantu mengespresikan pikiran dan perasaan anak tanpa
melalui kata-kata.. Selain itu menggambar juga dapat membantu anak mengespresikan
kebencian, penolakan, frustasi dan kemarahan dengan cara yang aman, membebaskan
anak dari perasaan terluka karena tindakan menyakitkan, membebaskan anak dari
rasa malu, dan menghalangi anak yang suka mengasingkan diri.(7)
Anak dapat diminta menggambar apa
yang sedang dipikirkannya, sehingga terapis dapat memperoleh gambaran secara
visual apa yang sedang dialami dan dibutuhkan anak. Gambar merupakan media
komunikasi untuk mengungkapkan apa yang diharapkan anak. Melalui gambar, anak
dapat membebaskan perasaan, mengungkapkan permasalahan atau konflik,
mengekspresikan pikiran dan perasaan yang barangkali belum mampu diungkapkan
secara verbal.(6)
2. Periode Perkembangan Menggambar pada
Anak
a. Masa mencoreng (2-4 tahun).
Anak belum mampu mengendalikan gerakan tangan sehingga
haslnya tidak menentu. Goresan yang dihasilkan anak beraneka ragam berupa
garis-garis panjang, garis-garis pendek yang tidak menentu arahnya dan diulang-
ulang hingga berkembang menjadi bentuk seperti benang kusut.
b. Masa pra bagan (4-7 tahun).
Pada masa ini anak mulai mampu mengendalikan tangan.
Garis yang dihasilkan tidak corang-coreng lagi. Anak mengambar bentuk yang
berhubungan dengan dunia sekitarnya. Anak dapat membuat bentuk yang bisa
dikenal meskipun kadang-kadang masih susah untuk menetapkan gambar yang
dibuatnya. Anak membangun ikatan emosional dengan gambar yang hendak dibuatnya.
c. Masa bagan (7-9 tahun).
Pengamaatan anak bertambah teliti dan anak tahu
hubungan alam sekitar dengan dirinya.
d. Masa permulaan realisme (9-11 tahun)
Masa ini ditandai dengan adanya keberadan sosial.
Realisme bukan diartikan meniru alam yang tepat sebagai usaha untuk konsep
visual anak-anak yang masih memandang secara subyektif, jadi gambarnya belum
sesuai dengan objek.
e. Masa naturalistik (11-13 tahun)
Masa ini anak usia berpikir. Anak mulai menjadi kritis terhadap karya
sendiri. Anak tidak lagi menggambar apa yang diketahui tetapi yang dilihatnya.(6)
3.
Tujuan Terapi
Menggambar
Bagi
anak Menurut Hajar Pamadhi (dalam Saiful Haq, 2008: 4) menyatakan bahwa
menggambar memiliki tujuan yang antara lain :
a. Alat
untuk mengutarakan/ekspresi isi hati, pendapat maupun gagasan
b. Media
fantasi, imajinasi, dan sekaligus sublimasi
c. Stimulasi
bentuk ketika lupa atau untuk menumbuhkan gagasan baru
d. Alat untuk menjelaskan bentuk serta situasi
Menurut
Hajar Pamadhi, Evan Sukardi S, dan Azizah Muis (2010: 2.11) menjelaskan tentang
fungsi menggambar bagi anak. Hal tersebut diuraikan sebagai berikut :
a. Menggambar
sebagai alat bercerita (bahasa visual/bentuk)
b. Menggambar
sebagai media mencurahkan perasaan
c. Menggambar
sebagai alat bermain
d. Menggambar
melatih ingatan
e. Menggambar
melatih berfikir komprehensif (menyeluruh)
f. Menggambar
sebagai media sublimasi perasaan
g. Menggambar
melatih keseimbangan
h. Menggambar
mengembangkan kecakapan emosional
i.
Menggambar melatih
kreativitas anak
j.
Menggambar melatih
ketelitian melalui pengamatan langsung Anak-anak sangat suka memberi warna
melalui berbagai media.(8)
Malchiodi menyatakan bahwa gambar berfungsi sarana
komunikasi agar anak berpartisipasi dalam proses terapuetik. Karen Machover
juga menemukan adanya suatu hubungan yang erat antara figur gambar dan
kepribadian Anak yang mengalami masalah emosi dan sosial sering menggambar
dengan bentuk kepala yang besar.Apabila gambar wajah hilang dan bagian lain
dari tubuh digambar dengan sangat hati-hati, mengindikasikan adanya kesulitan
dalam hubungan dengan orang lain. Mulut yang digambarkan dengan garis sendirian
mungkin mengindikasikan ketegangan, dan gambar mulu dengan goresan yang berat
mengindikasikan agresif.(6)
Gambar mata yang besar dan gelap menciptakan
kesan curiga. mungkin ini
menunjukkan bahwa anak kurang mempunyai persaan memiliki dalam keluarga, atau
mera tidak dihargai oleh anggota keluarga. Gambar tangan yang saling menyentuh
dan berpegangan satu sama lan mengindikasikan adanya kehangatan dan kasih
sayang dalam keluarga. Gambar anggota keluarga yang tidak tersenyum dan tidak
ada gambar mulut mengindikasikan kurangnya komunikasi. Posisi gambar yang lebih
tinggi mengindikasikan lebih berkuasa.(6)
Menurut Di Leo, ketidakmampuan
anak untuk menghasilkan figur manusia yang terintegrasi dicatat sebagai bentuk
penyimpangan dan adanya indikasi kepribadian yang tidak terorganisir. Anak yang
menghapus gambar biasanya secara signifikan mengatakan tentang bagaimana anak
memandang diri dan hubungan dengan orang lain
Bentuk badan kecil menunjukkan perasaaan tidak aman, mengasingkan diri,
dan merasa tidak terampil atau mampu. Bentuk badan besar menandakan adanya keterbukaan
dan kontrol diri dan gambar tangan pendek menunjukkan mengasingkan diri, tangan
panjang menjangkau orang lain.(6)
4.
Manfaat Terapi
Menggambar
As’adi
Muhammad (2009: 15-27) mendeskripsikan bahwa kegiatan menggambar memberikan manfaat bagi anak, yakni :
a. Merangsang
dan Membangkitkan otak kanan Dengan memberikan pelajaran atau pelatihan
mengenai menggambar dan mewarnai, otak kanan akan terasah yang akhirya akan
membuatnya mempunyai kreativitas yang tinggi.
b. Menumbuhkan
kreativitas Lewat menggambar, anak bisa menuangkan beragam imajinasi yang ada
di kepala mereka. Lewat gambar yang dibuatnya, anak bisa menuangkan segala
gagasan dan pendapat-pendapat yang terpendam. Dengan demikian, tidaklah keliru
jika dikatakan bahwa gambar dapat meningkatkan kreativitas anak.
c. Membuka
wawasan Sebagai contoh anak sedang belajar menggambar seekor kuda yang tengah
merumput di kehijauan padang lapang. Dalam menggambar kuda tersebut, anak pasti
akan banyak berusaha mengetahui apa saja yang ada disekitar hewan tersebut.
d. Lukisan,
cermin kreativitas dan kecerdasan anak.
Apapun
hasil lukisan yang tertuang, merupakan hasil gagasan dan kemampuan anak. Jika
anak mempunyai kreativitas dan kecerdasan yang tinggi, maka lukisan yang
dihasilkan akan baik. Tetapi jika tidak, maka lukisan akan terlihat biasa-biasa
saja, bahkan kualitasnya akan cenderung di bawah standar lukisan anak pada
umumnya.(8)
5.
Peranan
terapi menggambar
Anak dapat mengekspresikan
perasaannya dengan cara menggambar, ini berarti menggambar bagi anak merupakan
suatu cara untuk berkomunikasi tanpa menggunakan kata-kata (Suparto, 2003,
dalam Paat, 2010). juga menjelaskan bahwa proses mengambar dan hasilnya dapat
membantu individu membebaskan konflik, mengalami kembali suatu kejadian,
menyalurkan kembali melalui sublimasi, dan menyelesaikan masalah. Saat anak
menggambar berarti anak mengkomunikasikan pikiran dan perasaan, menyelesaikan
konflik dengan aman tanpa merasa terancam, membantu memberika gambaran
bagaimana anak memandang dirinya atau peran atau posisinya dalam keluarga,
membantu mengerti, mengkomunikasikan tentang masalah keluarga.(6)
Selain itu menggambar juga dapat
membantu anak mengekspresikan kemarahan, kebencian, penolakan, frustasi dan
kemarahan dengan cara yang aman, membebaskan anak dari perasaan terluka karena
penyiksaan, mudah meledak-ledak karena marah dan tersinggung, membebaskan anak
dari rasa malu, dan menghalangi anak yang suka mengasingkan diri Adapun tema
yang dipilih untuk menggambar seperti acara favoritku, kejadian yang
menakutkan, peristiwa yang baru saja dialami, perasaan hari ini, harapan, dan
sebagainya.(6)
6.
Langkah-langkah
dalam Penerapan Terapi Menggambar
a. Mengembangkan hubungan (rapport)
Menjalin hubungan merupakan langkah awal untuk
menumbuhkan kepercayaan dan kenyamanan anak atau klien pada terapis. Apabila
anak sudah merasa nyaman dan dapat mempercayai terpias, maka kecenderungan anak
atau klien akan lebih terbuka untuk mengungkapkan apa yang dialami.
b. Memberikan kesempatan anak menggambar
Terapis dapat memulai dengan warna karena warna
memiliki simbol kuat Salurkan perasaan lewat warna; pilih bentuk atau obyek
dalam pikiran; teruslah menggambar hingga tak memiliki lagi apa pun dalam
pikiran.
c. Mencermati dan menganalisis gambar anak Terapis
mencermati dan menganalisis gambar untuk mencari tahu makna gambar.
d. Wawancara
Wawancara dilakukan untuk menggali lebih dalam tentang
apa yang dirasakan dan dipikirkan anak.
e. Anak diminta menceritakan gambar Setelah menggambar,
anak dapat diminta untuk menceritakan gambar. Namun jika anak enggan, maka
terapis yang lebih aktif untuk bertanya pada anak tentang gambar yang telah
dibuat anak.
f. Observasi
Observasi atau pengamatan dilakukan dengan mencermati
perilaku anak.
g. Konseling
Konseling dilakukan sebagai upaya tindak lanjut untuk
membantu anak menuntaskan masalahnya. Sasaran konseling
tidak
hanya pada anak, namun memungkinkan juga melibatkan orangtua atau pihak lain
yang terkait dengan masalah anak.(4)
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Terapi menggambar berkembang
untuk membantu anak yang tidak dapat mengekspresikan pikiran dan perasaan
melalui kata-kata. Gambar dapat memberikan makna jika dihubungkan dengan
anak-anak yang terluka, mengasingkan diri, kecewa, dan tidak dapat
mengungkapkan pikiran dan perasaan kepada orang lain.Terapi menggambar mengajak
individu mengenali kejadian atau hal yang selama ini disukai atau tidak
disukai. Melalui terapi menggambar, hal-hal yang ditekan dalam alam bawah sadar
dapat diangkat ke alam sadar
B.
Saran
Penulis menyadari bahwa makalah di atas masih banyak
kekurangan baik dari segi materi maupun penyusunan. Oleh karena itu penulis
sangat mengharapkan kritik serta saran dari pembaca agar kedepannya bisa lebih
baik lagi dalam pembuatan makalah. Semoga makalah yang di buat ini memberi
banyak manfaat bagi pembaca dan penulis.
DAFTAR PUSTAKA
1. Anggaswari
AAAWD, Budisetyani IGAPW. Gambaran Kebutuhan Psikologis pada Anak dengan
Gangguan Emosi dan Perilaku (Tinjauan Kualitatif dengan Art Therapy sebagai
Metode Penggalian Data). J Psikol Udayana. 2016;3(1):86–94.
2. MUTHMAINNAH.
PERANAN TERAPI MENGGAMBAR SEBAGAI KATARSIS EMOSI ANAK. J Chem Inf Model.
2019;53(9):1689–99.
3. Suwargarini R,
Mubin MF. Gambaran Psikologis: Konsep Diri Pada Anak Usia Sekolah Dasar Di
Wilayah Banjir Rob Kelurahan Bandarharjo Semarang Utara. J Keperawatan Anak.
2014;2(2):124–32.
4. Wulan AAA,
Anggaswari D, Wulan IGAP. Gambaran Kebutuhan Psikologis pada Anak dengan
Gangguan Emosi dan Perilaku ( Tinjauan Kualitatif dengan Art Therapy sebagai
Metode Penggalian Data ). 2016;3(1):86–94.
5. kayyis fithri
ajhuri M A. Psikologi Perkembangan. 2016. 390 p.
6. Muthmainnah.
Peranan Terapi Menggambar Sebagai Katarsis Emosi Anak. J Pendidik Anak.
2017;4(1):524–9.
7. Arifin RF,
Udiyani R, Rini. Efektifitas Terapi Menggambar Dan Mewarnai Gambar Terhadap
Kecemasan Hospitalisasi Usia Pra Sekolah. J Darul Azhar. 2018;6(1):53–8.
8. Sarti.
PENERAPAN TERAPI BERMAIN DENGAN MENGGAMBAR DAN MEWARNAI GAMBAR UNTUK MENURUNKAN
TINGKAT KECEMASAN ANAK PRA-SEKOLAH DI RUANG MELATI RSUD Dr. SOEDIRMAN KEBUMEN.
2018;2:227–49.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar