MAKALAH ASUHAN KEPERAWATAN
OSTEOFOROSIS
Nama
|
Nim
|
Afisah mulya rahma
|
S.0017.P.001
|
Asmianti
|
S.0017.P.007
|
Citra
|
S.0017.P.012
|
Indahyanti hudin
|
S.0017.P.018
|
Muh. Hidayatullah J
|
S.0017.P.024
|
Sindy seryani
|
S.0017.P.033
|
Tini wahiyuni
|
S.0017.P.038
|
SEKOLAH
TINGGI ILMU KESEHATAN
PRODI SARJANA KEPERAWATAN
KARYA KESEHATAN
KENDARI
2020
KATA PENGANTAR
Assalamualaikum wr, wb
Puji syukur kehadirat ALLAH SWT, yang telah memberi
kekuatan dan kesempatan kepada saya, sehingga makalah ini dapat terselesaikan dengan waktu yang di
harapkan walaupun dalam bentuk yang sangat sederhana, dimana makalah ini
membahas tentang “ASKEP Osteoforosis” dan
kiranya makalah ini dapat meningkatkan pengetahuan kita khususnya tentang
bagaimana dan apa bahaya dari penyakit Osteoforosis.
Dengan adanya makalah ini, mudah-mudahan dapat membantu
meningkatkan minat baca dan belajar teman-teman.selain itu saya juga berharap
semua dapat mengetahui dan memahami tentang materi ini, karena akan
meningkatkan mutu individu kita.
Saya sangat menyadari bahwa dalam pembuatan makalah ini
masih sangat minim, sehinga saran dari dosen pengajar serta
kritikan dari semua pihak masih saya harapkan demi perbaikan laporan ini. Saya
ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu saya dalam
menyelesaikan makalah ini.
Kendari , 19 juli 2020
peyusun
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL
Tabel 1: analisa data.............................................................................................. 28
Tabel 2: intervensi................................................................................................. 30
Tabel 3: implementasi ........................................................................................... 33
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Prevalensi osteoporosis di
Indonesia berdasarkan jenis kelamin laki-laki dan perempuan tahun 2006............................................................................................................................... 5
Gambar 2. siklus remodelling tulang..................................................................... 7
Gambar 3. Tulang normal dan keropos................................................................. 7
Gambar 4. Perbedaan tulang normal &
osteoporosis............................................ 14
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Osteoporosis adalah suatu kondisi di mana tulang menjadi
rapuh sehingga berisiko lebih tinggi untuk terjadinya fraktur (pecah atau
retak) dibandingkan tulang yang normal. Osteoporosis terjadi karena
ketidakseimbangan antara pembentukan tulang baru dan resorpsi tulang tua.
Osteoporosis biasanya tidak memiliki tanda-tanda atau gejala khusus sampai
akhirnya terjadi fraktur. Karena inilah osteoporosis sering disebut sebagai
'silent disease '. Faktor-faktor resiko teijadinya osteoporosis adalah faktor
yang bisa dirubah (alcohol, merokok, BMI kurang ,kurang gizi ,kurang olahraga, jatuh berulang) dan factor yang tidak bisa diubah (umur, jenis kelamin, riwayat keluarga, menopause, penggunaan kortikosteroid, rematoid arthritis). Karena
puncak kepadatan tulang dicapai pada sekitar usia 25 tahun, maka sangatlah
penting untuk membanguntulang yang kuat di sepanjang usia, sehingga
tulang-tulang akan tetap kuat di kemudianhari. Asupan kalsium yang memadaimerupakanbagian
pentinguntuk membanguntulang yang kuat.1
Osteoporosis
sering disebut juga dengan ”silent disease”, karena penyakit ini datang secara
tiba-tiba, tidak memiliki gejala yang jelas dan tidak terdeteksi hingga orang
tersebut mengalami patah tulang.(Nuhonni, 2000) Akan tetapi, menurut yatim
(2003), biasanya seseorang yang mengalami osteoporosis akan merasa
sakit/pegal-pegal di bagian punggung atau daerah tulang tersebut.Dalam beberapa
hari/minggu, rasa sakit tersebut dapat hilang dengan sendiri dan tidak akan
bertambah sakit dan menyebar jika mendapatkan beban yang berat. Biasanya postur
tubuh penderita osteoporosis akan terlihat membungkuk dan terasa nyeri pada
tulang yang mengalami kelainan tersebut (ruas tulang belakang). 2
Osteoporoasis
adalah kelainan di mana terjadi penurunan massa tulang total. Terdapat
perubahan pergantian tulang homeostasis normal, kecepatan resorpsi tulang lebih
besar dari kecepatan pembentukan tulang, pengakibatkan penurunan masa tulang
total. Tulang secara progresif menjadi porus, rapuh dan mudah patah; tulang
menjadi mudah fraktur dengan stres yang tidak akan menimbulkan pengaruh pada tulang
normal.3
Pada
umumnya usia lanjut diartikan sebagai usia saat memasuki masa pensiun yang di
Indonesia dapat berkisar antara usia di atas 55 tahun. Proporsi penduduk lanjut
usia (lansia) Indonesia meningkat dari 1.1% menjadi 6.3% dari total populasi.
Pening- katan jumlah lansia memengaruhi aspek kehidupan mereka seperti
terjadinya perubahan fisik, biologis, psikologis, dan sosial sebagai akibat
proses penuaan. Salah satu perubahan fisik yang terjadi seiring per- tambahan
usia adalah terjadinya penurunan massa tulang yang sering disebut osteoporosis.4
Di
Indonesia jumlah wanita lansia penderita osteoporosis mengalamitrend yang
meningkat dari tahun ke tahun. Hal ini merupakan bencana sosial luar biasa pada
masyarakat, karena peningkatan biaya pengobatan atau perawatan serta dapat
menurunkan kualitas hidup. Saat ini saja22-55 persen wanita lansia Indonesiamenderita
osteoporosis. Jika diubah dalam angka, maka ada sekitar 8,5 juta lansia yang
mencapai total 17 juta dari 222 juta penduduk Indonesia menderita osteoporosis.
Seiring meningkatnya jumlah penduduk menjadi 261 juta pada tahun 2020 maka
jumlah penderita diperkirakan akan meningkat menjadi 5-11juta. Dandengan
penduduk 273 juta pada2050makajumlah penderitamenjadi5,2-11,5juta.1
Osteoporosis
dapat dijumpai di seluruh dunia dan sampai saat ini masih meruppakan masalah
dalam kesehatan masyarakat terutama di Negara berkembang. Di Amerika Serikat,
osteoporosis menyerang 20-25 juta penduduk,1 diantara 2-3 wanita post-menopause
dan lebih dari 50% penduduk di atas umur 75-80 tahun. Mengutip data dari WHO
yang menunjukan bahwa di seluruh dunia ada sekitas 200 juta orang yang
menderita osteoporosis. Pada tahun 2050, diperkirakan angka patah tulang
pinggul akan meningkat dua kali lipat pada wanita dan tiga kali lipat pada
pria. LaporanWHO juga menunjukan bahwa 50% patah tulang adalah patah tulang
paha atas yang dapat mengakibatkan kecacatan seumur hidup dan kematian.
Dibandingkan dengan masyarakat dinegara-negara afrika, densitas tulang
masyarakat eropa dan asia lebih rendah, sehingga mudah sekali mengalami
osteoporosis. Hasil penelitian white paper yang dilaksanakan bersama himpunan
osteoporosis Indonesia tahun 2007, melaporkan bahwa proporsi penderita
osteoporosis pada penduduk yang berusia diatas 50 tahun adalah 32,3% pada
wanitadan 28,8% pada pria. Sedangkan data sistem informasi rumah sakit
(SIRS,2010) menunjukan angka insiden patah tulang paha atas akibat osteoporosis
adalah sekitar 200 dari 100.000 kasus
pada usia 40 tahun.5
B.
Tujuan penyusunan
1.
Mahasiswa
mengetahui proses terjadinya Osteoforosis pada lansia.
2.
Mahasiswa
mengetahui cara mencegah terjadian Osteoforosis
3.
Mahasiswa
mampu merumuskan rencana asuhan keperawatan pada kasus Osteoforosis
C. Manfaat
1.
Bagi
mahasiswa, makalah ini dapat dijadikan sebagai bahan reverensi untuk materi
kasus osteoporosis
2.
Bagi
masyarakat, makalah ini dapat memberikan edukasi kepada masyarakat tentang
osteoporosis, hingga masyarakat dapat mengetahui apa itu osteoporosis ,
penyebab dan tanda gejala dan lain sebagainya
3.
Bagi
ilmu pengetahuan keperawatan, makalah ini dapat dijadikan sebagai update
referensi mengenai kasus osteoporosis
BAB II
TINJAUAN TEORI
A.
Defenisi Osteoporosis
Osteoporosis
adalah kondisi berkurangnya massa tulang dan gangguan struktur tulang
(perubahan mikroarsitektur jaringan tulang) sehingga menyebabkan tulang menjadi
mudah patah.2 Penyakit osteoporosis menjadi salah satu
penyakit yang mempunyai pengaruh di Amerika yaitu sebesar 10 juta dan bertambah
menjadi 18 juta akibat dari rendahnya massa tulang.(Mccabe, 2004) Menurut
Yi-Hsiang Hsu, et al (2006), osteoporosis dengan patah tulang menjadi masalah
utama pada populasi lanjut usia.2
Manusia
lanjut usia (lansia) beresiko menderita osteoporosis, sehingga setiap patah
tulang pada lansia perlu diasumsikan sebagai osteoporosis, apalagi jika
disertai dengan riwayattrauma ringandankesehatanseperti mata,jantung, danfungsi
organlain.Padausia60-70tahun, lebih dari 30% perempuan menderita osteoporosis
dan insidennyameningkat menjadi70%padausia80 tahunke atas. Hal ini berkaitan
dengan defisiensi estrogen pada masa menopause dan penurunan massa tulang
karena proses penuaan. Pada laki-laki osteoporosis lebih dikarenakan proses
usia lanjut, sehingga insidennya tidak sebanyak perempuan.1
Osteoporosis
sering disebut juga dengan ”silent disease”, karena penyakit ini datang secara
tiba-tiba, tidak memiliki gejala yang jelas dan tidak terdeteksi hingga orang
tersebut mengalami patah tulang.(Nuhonni, 2000) Akan tetapi, menurut yatim (2003),
biasanya seseorang yang mengalami osteoporosis akan merasa sakit/pegal-pegal di
bagian punggung atau daerah tulang tersebut.Dalam beberapa hari/minggu, rasa
sakit tersebut dapat hilang dengan sendiri dan tidak akan bertambah sakit dan
menyebar jika
mendapatkan beban yang berat. Biasanya postur
tubuh penderita osteoporosis akan terlihat membungkuk dan terasa nyeri pada
tulang yang mengalami kelainan tersebut (ruas tulang belakang). 2
Osteoporosis
terbagi menjadi 2 tipe, yaitu primer dan sekunder. primer terbagi lagi menjadi
2 yaitu tipe 1 (postmenopausal) dan tipe 2 (senile). Penyebab terjadinya
osteoporosis tipe 1 erat kaitannya dengan hormon estrogen dan kejadian
menopause pada wanita. Tipe ini biasanya terjadi selama 15 – 20 tahun setelah
masa menopause atau pada wanita sekitar 51 – 75 tahun (Putri, 2009) Dan pada
tipe ini tulang trabekular menjadi sangat rapuh sehingga memiliki kecepatan
fraktur 3 kali lebih cepat dari biasanya. (Riggs et al, 1982 dalam National
Research Council, 1989) Sedangkan tipe 2 biasanya terjadi diatas usia 70 tahun
dan 2 kali lebih sering menyerang wanita. Penyebab terjadinya senile
osteoporosis yaitu karena kekurangan kalsium dan kurangnya sel-sel perangsang
pembentuk vitamin D. Dan terjadinya tulang pecah dekat sendi lutut dan paha
dekat sendi panggul. (Yatim, 2003)2
Tipe
osteoporosis sekunder, terjadi karena adanya gngguan kelainan hormon, penggunaan
obat-obatan dan gaya hidup yang kurang baik seperti konsumsi alkohol yang
berlebihan dan kebiasaan merokok. (Hartono, 2004). 2
Gambar 1. Prevalensi osteoporosis di
Indonesia berdasarkan jenis kelamin laki-laki dan perempuan tahun 2006
Sumber: Hasil penelitian Gunawan Tirtaraja,
Bambang setyohadi dipusat osteoporosis Jakarta di Rs.Medistra bekerjasama dengan departemen
penyakit dalam Universitas Indonesia,
GE Healthcare, madisosn, tahun 2006 Ket
: Spine L1-L4 tulang belakang bagian Limbal 1dan 4, Femur neck : tulang leher
paha, total
femur : keseluruhan tulang paha, Any Site : Osteoporosis diselain ketiga
pemeriksaan tulang diatas.
Berdasarkan data diatas terlihat
bahwa prevalensi osteoporosis pada perempuan trennya meningkat seiring
bertambahnya usia. Hal ini bisa disebabkan karena menopause dimana kadar hormon
ekstrogen yang turun. Prevalensi osteoporosis pada perempuan meningkat lebih
tinggi pada pemeriksaan tulang selain L1-L4, Femur neck, dan Femur,
sedangkan pada laki-laki prevalensi osteoporosis trendnya juga meningkat
seiring bertambahnya usia, akan tetapi tidak sebesar pada perempuan. Prevalensi
osteoporosis pada perempuan pemeriksaan tulang any site 4 kali lebih tinggi dibandingkan laki-laki.5
B.
Mekanisme Terjadinya Osteoporosis
Didalam
kehidupan, tulang akan selalu mengalami proses perbaharuan. Tulang memiliki 2
sel, yaitu osteoklas (bekerja untuk menyerap dan menghancurkan/merusak tulang)
dan osteoblas (sel yang bekerja untuk membentuk tulang). 2
Tulang
yang sudah tua dan pernah mengalami keretakan, akan dibentuk kembali. Tulang
yang sudah rusak tersebut akan diidentifikasi oleh sel osteosit (sel osteoblas
menyatu dengan matriks tulang). (Cosman, 2009) Kemudian terjadi penyerapan
kembali yang dilakukan oleh sel osteoklas dan nantinya akan menghancurkan
kolagen dan mengeluarkan asam. (Tandra, 2009) Dengan demikian, tulang yang
sudah diserap osteoklas akan dibentuk bagian tulang yang baru yang dilakukan
oleh osteoblas yang berasal dari sel prekursor di sumsum tulang belakang
setelah sel osteoklas hilang. (Cosman, 2009) Proses remodelling tulang tersebut
dapat dilihat pada gambar dibawah ini.2
Gambar 2. siklus
remodelling tulang
Menurut Ganong, ternyata endokrin
mengendalikan proses remodeling tersebut. Dan hormon yang mempengaruhi yaitu
hormon paratiroid (resorpsi tulang menjadi lebih cepat) dan estrogen (resorpsi
tulang akan menjadi lama). Sedangkan pada osteoporosis, terjadi gangguan pada
osteoklas, sehingga timbul ketidakseimbangan antara kerja osteoklas dengan
osteoblas. Aktivitas sel osteoclas lebih besar daripada osteoblas. Dan secara
menyeluruh massa tulang pun akan menurun, yang akhirnya terjadilah pengeroposan
tulang pada penderita osteoporosis. (Ganong, 2008) Gambar 2.2 menunjukan
perbedaan tulang yang normal dan tulang yang sudah mengalami pengeroposan.2
gambar
3. Tulang normal dan keropos
C.
Etiologo
Faktor-faktor yang mempengaruhi pengurangan
massa tulang pada usia lanjut :
1.
Determinan
massa tulang
a.
Faktor
genetik Perbedaan genetik mempunyai pengaruh terhadap derajat kepadatan tulang.
Beberapa orang mempunyai tulang yang cukup besar dan yang lain kecil. Sebagai
contoh, orang kulit hitam pada umumnya mempunyai struktur tulang lebih
kuat/berat dari pacia bangsa Kaukasia. Jacii seseorang yang mempunyai tulang
kuat (terutama kulit Hitam Amerika), relatif imun terhadap fraktur karena
osteoporosis.3
b.
Faktor
mekanis. Beban mekanis berpengaruh terhadap massa tulang di samping faktor
genetk. Bertambahnya beban akan menambah massa tulang dan berkurangnya beban
akan mengakibatkan berkurangnya massa tulang. Dengan perkataan lain dapat disebutkan
bahwa ada hubungan langsung dan nyata antara massa otot dan massa tulang. Kedua
hal tersebut menunjukkan respons terhadap kerja mekanik Beban mekanik yang
berat akan mengakibatkan massa otot besar dan juga massa tulang yang besar.
Sebagai contoh adalah pemain tenis atau pengayuh becak, akan dijumpai adanya
hipertrofi baik pada otot maupun tulangnya terutama pada lengan atau
tungkainya; sebaliknya atrofi baik pada otot maupun tulangnya akan dijumpai
pada pasien yang harus istrahat di tempat tidur dalam waktu yang lama,
poliomielitis atau pada penerbangan luar angkasa. Walaupun demikian belum
diketahui dengan pasti berapa besar beban mekanis yang diperlukan dan berapa
lama untuk meningkatkan massa tulang di sampihg faktor genetic3
c.
Faktor
makanan dan hormon Pada seseorang dengan pertumbuhan hormon dengan nutrisi yang
cukup (protein dan mineral), pertumbuhan tulang akan mencapai maksimal sesuai
dengan pengaruh genetik yang bersangkutan. Pemberian makanan yang berlebih
(misainya kalsium) di atas kebutuhan maksimal selama masa pertumbuhan,
disangsikan dapat menghasilkan massa tulang yang melebihi kemampuan pertumbuhan
tulang yang bersangkutan sesuai dengan kemampuan genetiknya.3
2.
Determinan
penurun masssa tulang
a.
Faktor
genetik berpengaruh terhadap risiko terjadinya fraktur. Pada seseorang dengan
tulang yang kecil akan lebih mudah mendapat risiko fraktur dari pada seseorang
dengan tulang yang besar. Sampai saat ini tidak ada ukuran universal yang dapat
dipakai sebagai ukuran tulang normal. Setiap individu mempunyai ketentuan
normal sesuai dengan sitat genetiknya serta beban mekanis den besar badannya.
Apabila individu dengan tulang yang besar, kemudian terjadi proses penurunan
massa tulang (osteoporosis) sehubungan dengan lanjutnya usia, maka individu
tersebut relatif masih mempunyai tulang tobih banyak dari pada individu yang
mempunyai tulang kecil pada usia yang sama3
b.
Fakrot
mekanis
Di lain pihak, faktor
mekanis mungkin merupakan faktor yang terpenting dalarn proses penurunan massa
tulang schubungan dengan lanjutnya usia. Walaupun demikian telah terbukti bahwa
ada interaksi panting antara faktor mekanis dengan faktor nutrisi hormonal.
Pada umumnya aktivitas fisis akan menurun dengan bertambahnya usia; dan karena
massa tulang merupakan fungsi beban mekanis, massa tulang tersebut pasti akan
menurun dengan bertambahnya usia.3
c.
Kalsium
Faktor makanan ternyata memegang peranan penting dalam proses penurunan
massa tulang sehubungan dengan bertambahnya Lisia, terutama pada wanita post
menopause. Kalsium, merupakan nutrisi yang sangat penting. Wanita-wanita pada
masa peri menopause, dengan masukan kalsiumnya rendah dan absorbsinya tidak
bak, akan mengakibatkan keseimbangan kalsiumnya menjadi negatif, sedang mereka
yang masukan kalsiumnya baik dan absorbsinya juga baik, menunjukkan
keseimbangan kalsium positif. Dari keadaan ini jelas, bahwa pada wanita masa
menopause ada hubungan yang erat antara masukan kalsium dengan keseimbangan
kalsium dalam tubuhnya. Pada wanita dalam masa menopause keseimbangan
kalsiumnya akan terganggu akibat masukan serta absorbsinya kurang serta eksresi
melalui urin yang bertambah. Hasil akhir kekurangan/kehilangan estrogen pada
masa menopause adalah pergeseran keseimbangan kalsium yang negatif, sejumiah 25
mg kalsium sehari.3
d.
Protein
Protein juga merupakan
faktor yang penting dalam mempengaruhi penurunan massa tulang. Makanan yang
kaya protein akan mengakibatkan ekskresi asam amino yang mengandung sulfat
melalui urin, hal ini akan meningkatkan ekskresi kalsium. Pada umumnya protein
tidak dimakan secara tersendiri, tetapi bersama makanan lain. Apabila makanan
tersebut mengandung fosfor, maka fosfor tersebut akan mengurangi ekskresi
kalsium melalui urin. Sayangnya fosfor tersebut akan mengubah pengeluaran
kalsium melalui tinja. Hasil akhir dari makanan yang mengandung protein
berlebihan akan mengakibatkan kecenderungan untuk terjadi keseimbangan kalsium
yang negatif3
e.
Estrogen
Berkurangnya/hilangnya
estrogen dari dalam tubuh akan mengakibatkan terjadinya gangguan keseimbangan
kalsium. Hal ini disebabkan oleh karena menurunnya eflsiensi absorbsi kalsium
dari makanan dan juga menurunnya konservasi kalsium di ginjal.
f.
Rokok
dan kopi
Merokok dan minum kopi
dalam jumlah banyak cenderung akan mengakibatkan penurunan massa tulang,
lebih-lebih bila disertai masukan kalsium yang rendah. Mekanisme pengaruh
merokok terhadap penurunan massa tulang tidak diketahui, akan tetapi kafein
dapat memperbanyak ekskresi kalsium melalui urin maupun tinja.
g.
Alkohol
Alkoholisme akhir-akhir
ini merupakan masalah yang sering ditemukan. Individu dengan alkoholisme
mempunyai kecenderungan masukan kalsium rendah, disertai dengan ekskresi lewat
urin yang meningkat. Mekanisme yang jelas belum diketahui dengan pasti . 3
h.
Menopause
dini
Menopause merupakan
akhir dari masa reproduktif karena telah berhentinya masa haid, biasanya
terjadi usia 50 – 51 tahun. Biasanya pada wanita yang merokok akan mengalami
menopause 1 tahun lebih cepat dari wanita yang bukan perokok. Seseorang yang
mengalami menopause akan mengalami fase klimaksterium, yaitu terjadinya
peralihan dari reproduktif akhir ke masa menopause. Fase klimaksterium memiliki
3 masa yaitu premenopause yang terjadi sekitar 4 – 5 tahun sebelum menopause,
masa menopause, dan pascamenopause yang terjadi sekitar 3 – 5 tahun setelah
menopause. 2
Pada masa pramenopause,
biasanya ditandai dengan haid yang mulai tidak teratur dan rasa nyari saat
haid, sampai akhirnya haid tersebut berhenti. (Baziad, 2003) Saat menopause,
terjadi penurunan estrogen yang akan menyebabkan homon PTH (parathyroid hormon)
dan penyerapan vitamin D berkurang, sehingga pembentukan tulang (osteoblast)
pun akan terhambat dan kadar mineral akan berkurang.Jika kadar mineral tulang
terus menerusberkurang, maka akan terjadilah osteoporosis. (Purwoastuti, 2008).2
Menurut Compston, seseorang yang
menggunakan kontrasepsi hormonal (estrogen) akan meningkatkan massa tulang.
Tetapi dalam waktu jangka panjang, akan memberikan efek untuk memicu terjadinya
penyakit lain seperti kanker payudara dan lain sebagainya. (Compston, 2009)
Berdasarkan hasil penelitian Tsania mengatakan bahwa ada hubungan yang bermakna
antara status menopause dengan kejadian osteoporosis. (Tsania, 2008)2
D.
Patofisiologi
Osteoporosis
terjadi karena adanya interaksi yang menahun antara factor genetic dan factor
lingkungan.
1.
Faktor
genetik meliputi : usia jenis kelamin, ras keluarga, bentuk tubuh
2.
Factor
lingkungan meliputi : merokok, Alcohol, Kopi, Defisiensi vitamin dan gizi, Gaya
hidup, Mobilitas, anoreksia nervosa dan pemakaian obat-obatan.
Kedua
factor diatas akan menyebabkan melemahnya daya serap sel terhadap kalsium dari
darah ke tulag, peningkatan pengeluaran kalsium bersama urin, tidak tercapainya
masa tulang yang maksimal dengan resobsi tulang menjadi lebih cepat yang
selanjutnya menimbulkan penyerapan tulang lebih banyak dari pada pembentukan
tulang baru sehingga terjadi penurunan massa tulang total yang disebut
osteoporosis. Berikut tanda dan gejalanya:
1.
Nyeri
tulang akut. Nyeri terutama terasa pada tulang belakang, nyeri dapat dengan
atau tanpa fraktur yang nyata dan nyeri timbul mendadak.
2.
Nyeri
berkurang pada saat beristirahat di tempat tidur
3.
Nyeri
ringan pada saat bangun tidur dan akan bertambah bila melakukan aktivitas
4.
Deformitas
tulang. Dapat terjadi fraktur traumatic pada vertebra dan menyebabkan kifosis
angular yang menyebabkan medulla spinalis tertekan sehingga dapat terjadi
paraparesis.
5.
Gambaran
klinis sebelum patah tulang, klien (terutama wanita tua) biasanya datang dengan
nyeri tulang belakang, bungkuk dan sudah menopause sedangkan gambaran klinis
setelah terjadi patah tulang, klien biasanya datang dengan keluhan punggung
terasa sangat nyeri (nyeri punggung akut), sakit pada pangkal paha, atau
bengkak pada pergelangan tangan setelah jatuh.
6.
Kecenderungan
penurunan tinggi badan.
7.
Postur
tubuh kelihatan memendek
E. Patogenesis
Patogenesis
semua macam osteoporosis adalah sama yaitu adanya balans tulang negatif yang
patologik dan kekurangan kalsium yang dapat disebabkan oleh peningkatan
resorpsi tulang dan atau penurunan pembentukan tulang. Massa tulang pada semua
usia ditentukan oleh 3 variabel yaitu massatulangpuncak,usia dimana kekurangan
massa tulang mulai terjadi dan kecepatan kehilangantulang meningkat.1
Massa
tulang akan terus meningkat sampai mencapai puncaknya pada usia 30-35 tahun.
Puncak masa tulang ini lebih tinggi pada laki-laki daripada perempuan. Untuk
jangka waktu tertentu keadaan massa tulang tetap stabil dan kemudian terjadi
pengurangan massa tulang sesuai dengan pertambahan umur. Densitas tulang yang
rendah padausia lanjut dapat terjadi akibat puncak massa tulang yang tidak
cukup atau meningkatnya kehilangan tulang sebagai kelanjutan usaha untuk
mencapai massa tulang yang normal.1
Pada
osteoporosis didapat massa tulang yang rendah dan kerusakan mikroarsitektur
jaringan tulang dengan akibat peningkatan fragilitas tulang dan resiko fraktur.
Bertambahnyakehilangantulang dapat disebabkan olehumur,menopause, dan beberapa
faktor sporadik.1
Gambar 4. Perbedaan
tulang normal & osteoporosis
1.
Dalam keadaan normal terjadi proses yang
terus menerus dan terjadi secara seimbang yaitu proses resorbsi dan proses
pembentukan tulang (remodelling). Setiap ada perubahan dalam keseimbangan ini,
misalnya proses resorbsi lebih besar dari proses pembentukan, maka akan terjadi
penurunan massa tulang.3
2.
Proses
konsolidasi secara maksimal akan dicapai pada usia 30-35 tahun untuk tulang
bagian korteks dan lebih dini pd bagian trabekula
3.
Pada
usia 40-45 th, baik wanita maupun pria akan mengalami penipisan tulang bagian
korteks sebesar 0,3-0,5 %/tahun dan bagian trabekula pada usia lebih muda
4.
Pada
pria seusia wanita menopause mengalami penipisan tulang berkisar 20-30 % dan
pada wanita 40-50 %
5.
Penurunan
massa tulang lebih cepat pd bagian-bagian tubuh seperti metakarpal, kolum
femoris, dan korpus vertebra
6.
Bagian-bagian
tubuh yg sering fraktur adalah vertebra, paha bagian proksimal dan radius
bagian distal. 3
F.
Manufestasi klinis
1.
Nyeri
dengan atau tanpa fraktur yang nyata. Ciri-ciri khas nyeri akibat fraktur kompressi
pada vertebra (paling sering Th 11 dan 12 ) adalah:
a.
Nyeri
timbul mendadak
b.
Sakit
hebat dan terlokalisasi pada vertebra yg terserang
c.
Nyeri
berkurang pada saat istirahat di t4 tidur
d.
Nyeri
ringan pada saat bangun tidur dan dan akan bertambah oleh karena melakukan
aktivitas
e.
Deformitas
vertebra thorakalis - Penurunan tinggi badan.3
G.
Pemeriksaan Diagnostik
Pemeriksaan non-invasif yaitu ;
1.
Pemeriksaan
analisis aktivasi neutron yang bertujuan untuk memeriksa kalsium total dan
massa tulang.
2.
Pemeriksaan
absorpsiometri
3.
Pemeriksaan
komputer tomografi (CT)
4.
Pemeriksaan
biopsi yaitu bersifat invasif dan berguna untuk memberikan informasi mengenai
keadaan osteoklas, osteoblas, ketebalan trabekula dan kualitas meneralisasi
tulang. Biopsi dilakukan pada tulang sternum atau krista iliaka.
5.
Pemeriksaan
laboratorium yaitu pemeriksaan kimia darah dan kimia urine biasanya dalam batas
normal.sehingga pemeriksaan ini tidak banyak membantu kecuali pada pemeriksaan
biomakers osteocalein (GIA protein).3
H.
Pemeriksaan Penunjang
1.
Pemeriksaan
radiologi
Gambaran radiologik yang khas pada
osteoporosis adalah penipisan korteks dan daerah trabekuler yang lebih lusen.
Hal ini akan tampak pada tulang-tulang vertebra yang memberikan gambaran picture-frame
vertebra.
a.
Pemeriksaan Densitas Massa tulang (Densitometri)
b.
Pemeriksaan
laboratorium (misalnya : kalsium serum, fosfat serum, fosfatase alkali, eksresi
kalsium urine,eksresi hidroksi prolin urine, LED)
c.
Pemeriksaan
x-ray
d.
Pemeriksaan
absorpsiometri
e.
Pemeriksaan
Computer Tomografi (CT)
f.
Pemeriksaan
biopsi
g.
Diagnosis/criteria
diagnosis
Diagnosis osteoporosis dapat ditegakkan dari hasil pemeriksaan :
a.
Radiology
b.
Pengukuran
massa tulang
c.
Pemeriksaan
lab kimiawi
d.
Pengukuran
densitas tulang
e.
Pemeriksaan
marker biokemis
f.
Biopsi
g.
Dan
memperhatikan factor resiko (wanita, umur, ras, dsb)
I.
Penatalaksanaan
Terapi pada osteoporosis harus
mempertimbangkan 2 hal, yaitu terapi pencegahan yang pada umumnya bertujuan
untuk menghambat hilangnya massa tulang. Dengan cara yaitu memperhatikan faktor
makanan, latihan fisik ( senam pencegahan osteoporosis), pola hidup yang aktif
dan paparan sinar ultra violet. Selain itu juga menghindari obat-obatan dan
jenis makanan yang merupakan faktor resiko osteoporosis seperti alkohol,
kafein, diuretika, sedatif, kortikosteroid.
Selain
pencegahan, tujuan terapi osteoporosis adalah meningkatkan massa tulang dengan melakukan pemberian obat-obatan antara
lain hormon pengganti (estrogen dan progesterone
dosis rendah). Kalsitrol, kalsitonin, bifosfat, raloxifene, dan nutrisi seperti
kalsium serta senam beban. Pembedahan
pada pasien osteoporosis dilakukan bila terjadi fraktur, terutama bila terjadi
fraktur panggul.
J.
Pencegahan
Ada beberapa hal yang dapat mengurangi
terjadinya osteoporosis dan osteopenia, antara lain :
1.
Pencegahan
dengan mengurangi faktor resiko Pencegahan
lakukan pencegahan dengan
menghindari kebiasaan merokok, mengurangi konsumsi obat-obatan seperti steroid,
tidak mengkonsumsi alkohol. (Cosman, 2009) Selain itu juga dapat melakukan
terapi sulih hormon (Hormone Replacement Therapy (HRT)). Hal ini sudah
dibuktikan dengan penelitian yang menyatakan bahwa sekitar 30 – 50% terjadinya
fraktur tulang akan menurun karena melakukan HRT.2
2.
Pencegahan
melalui nutrisi
Pencegahan melalui nutrisi
ini dapat dilakukan dengan meningkatkan konsumsi makanan dan minuman yang
mengandung kalsium dan vitamin D, serta dan mengurangi konsumsi kafein.
Sehingga dengan demikian dapat meningkatkan kepadatan tulang dan mengurangi
terjadinya osteoporosis dan osteopenia.2
3.
Pencegahan
melalui olahraga
Dengan olahraga yang dilakukan
secara teratur, maka kesehatan pun akan menjadi lebih baik. Olahraga yang baik
untuk dilakukan, misalnya saja jalan, aerobik, jogging, renang, dan bersepeda.
Akan tetapi jika melakukan aktivitas fisik secara berlebih justru akan
mengurangi massa tulang. (Nuhonni, 2000) Selain itu sekitar 10 – 15 menit/hari
keluar dipagi hari diantara pukul 06.00 s/d 09.00.2
BAB III
KONSEP KEPERAWATAN
A.
Pengkajian
1.
Anamnesa
Menurut
(Asikin;dkk 2012: 109)Anamnesa, tanyakan klien tentang :
1)
Apakah
terdapat riwayat osteoporosis dalam keluarga
2)
Apakah
klien pernah mengalami fraktur sebelumnya
3)
Apakah
klien mengonsumsi kalsium diet harian sesesuai dengan kebutuhan
4)
Bagaimana
pola latihan klien
5)
Kapankah terjadinya dan faktor yang mempengaruhi
terjadinya menopause
6)
Apakah
klien mengunakan kortikostroid selain mengonsumsi alkohol, rokok, dan kafein
7)
Apakah
klien mengalami gejala lain, misalnya nyeri pinggang, konstipasi, atau gangguann
citra diri.
2. Pemeriksaan fisik
Menurut
(Asikin;dkk 2012: 109) pada pemeriksaan fisik ditemukan:
1)
Adanya
“punuk dowager” (kifosis)
2)
Nyeri punggung:
thoracic dan lumbar
3)
Penurunan
tinggi badan
4)
Gaya
berjalan bungkuk
5)
Nyeri sendi
6)
Kelemahan
otot
7)
Masalah
mobilitas dan penafasan akibat perubahan postur
8)
Adanya
konstipasi yang disebabkan oleh aktivitas
B.
Diagnosa keperawatan
Diagnosis keperawatan yang dapat ditemukan
pada osteoporosis menurut (Asikin;dkk 2012: 109) dan (umi 2017: 125) :
3. Nyeri akut berhubungan dengan fraktur Kode
: D.0077
4. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan
Kerusakkan integritas struktur tulang D.0054
5. Resiko terhadap cedera: fraktu berhubungan
dengan tulang osteooporosis D.00136
C.
Kriteria hasil
6. Nyeri akut berhubungan dengan fraktur Kode : D.0077
kontrol
nyeri (L. 08063)
dengan kriteria hasil:
1. Mengenali kapan terjadi nyeri
2. Mengunakan factor penyebab
3. Mengunakan tindakan pencegahan
4. Mengunakan tindakan pengurangan nyeri
tanpa analgesic
5. Mengunaka sumber daya yang tersedia
6. Mengenali apa yang terkait dengan gejala
nyeri
7. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan
Kerusakkan integritas struktur tulang. D.0054
Ambulasi (L. 055038)
Dengan kriteria hasil :
1. Menompang berat badan
2. Berjalan dengan langkah yang efektif
3. Berjalan dengan pelan
4. Berjalan dengan kecepatan sedang
5. Berjalan mengeliling rumah
8. Resiko terhadap cedera: fraktu berhubungan
dengan tulang osteooporosis D.00136
Keseimbangan
(L.05039)
Dengan kriteria hasil:
1.
Mempertahankan
keseimbangan saat duduk tanpa sokongan
pada punggung
2.
Mempertahankan keseimbangan dari posisi duduk keposisi
berdiri
3.
Mempertahankan keseimbangan ketika berdri
4.
Mempertahankan
keseimbanga ketika berjalan
5.
Mempertahankan keseimbangan ketika berdiri
dengan satu kaki
D.
Rencana keperawatan
9. Nyeri akut berhubungan dengan fraktur
Manajemen nyeri (1.08238)
1. Lakukan pengkajian nyeri komprehensif yang
meliputi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi
2. Gali
pengetahuan dan kepercayaan pasien mengenai
nyeri
3. Berikan informasi men genai nyeri, seperti
penyebab nyeri
4. Ajarkan prinsipprinsip manajement nyeri
5. Dukung
istirahat dan tidur yang adekuat untuk membantu penurunan nyeri
10. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan
Kerusakkan integritas struktur tulang.
Dukungan ambulasi (1.06171)
1. Identifikasi adanya nyeri atau keluhan fisik
lainnya
2. Identifikasi toleransi fisik melakukan
ambulasi
3. Fasilitasi aktivitas ambulasi denga alat
bantu(mis. Tongkat, kruk)
4. Fasilitasi aktivitas ambulasi fisik
5. Jelasksan tujuan dan prosedur ambulasi
Ajurkan ambulasi sederhana yang harus dilakukan (mis. Berjalan dari tempat
tidur ke kursi)
11. Resiko terhadap cedera: fraktu berhubungan
dengan tulang osteooporosis
Pencegahan jatuh (1.14540)
1. Identifikasi perilaku dan faktor yang
mempengaruhi risiko jatuh
2. Monitor gaya keseimbangan dan tingkat kelelahan
3. Bantu ambulasi individu yang memiliki
ketidakseimbangan
4. Anjurkan adaptasi dirumah untuk meningkatkan
keamanan
5. Sarankan mengunakan alas kaki yang aman
6. Lakukan latihan fisik rutin yang meliputi
berjalan
BAB IV
ASUHAN KEPERAWATAN
A. Kasus
Seorang pasien
bernama NY.
Sdengan usia 54 tahun, datang kerumah sakit dengan keluhan
sakit punggu
bagib belakang dan sulit untuk bergerak. keluarga pasien yang mengantarkan Ny.S, mengakatakan pasien mengeluh sakit punggung
belakang karena hendak mengangkat meja dirumah.
B.
Pengkajian
1. Identitas pasien.
a.
Nama : Ny.S
b.
Umur : 54 tahun
c.
Jenis
kelamin : laki laki
d.
Tempat
tanggal lahir : Kolaka, 21 02 1964
e.
Alamat : Balandete, Kec. kolaka
f.
Pekerjaan
: Pensiunan/guru
g.
Agama
: islam
h.
Suku
bangsa/ras : tolaki/Mekongga
i.
Pendidikan
terakhir : Strata 1
j.
Diagnosa
medis : Osteoforosis
2.
Identitas
keluarga/wali
a.
Nama
: Tn. L
b.
Jenis
kelamin : Laki-laki
c.
Usia
: 50 Tahun
d.
Alamat
: Balandete, Kec. kolaka
e.
Hubungan
dengan pasien : suami
3.
Riwayat
kesehatanm
a.
Keluhan
Utama saat MRS : nyeri punggung bagian belakang
b.
Keluhan
utama saat pengkajian : nyeri punggung dan sulit untuk bergerak
c.
Riwayat
keluhan utama : klien mengatakan nyeri pada punggung dan
sulit bergerak dan riwayat sisa BAB > 1 minggu yang lalu.
d.
Riwayat
kesehatan sekarang : klien mengtakan nyeri pada saat hendak
beraktifitas , nyeri yang dirasakan hilang timbul (skala nyeri sedang 4) dan
merasa membaik pada saat beristirahat.
e.
Riwayat keluhan masa lalu
•
Riwayat
penyakit anak-anak sampai dewasa yang berhubungan dengan kesehatan saat ini : keluarga klien sebelumnya tidak ada
penyakit osteoporosis.
•
Riwayat
penyakit kronik dan trauma. : Klien
sudah mengalami osteoporosis sejak 3 tahun yang lalu.
•
Riwayat
perawatan di rumah sakit/fasilitas kesehatan lainnya.: Klien tidak pernah
dirawat dirumah sakit.klien hanya dirawat dirumah klien.
f. Riwayat
kesehatan keluarga
|
![]() |
Keteranan :
: Perempuan
:
Laki-laki
: Klien
X :
Meninggal
------ : Tinggal serumah
? : Tidak diketahui
G1 : Kakek dan nenek klien keduanya telah meninggal Karena faktor
ketuaan
G2 :
Bapak klien adalah anak pertama dari 4 bersaudara dan semuanya sudah meninggal
G3 :
Klien adalah anak pertama dari
5 bersaudara dan anak yang
ke 1 sudah meninggal karena demam.
Hea to toe.
a. Umum
Kesadaran
klien saat pengkajian adalah compos mentis, saat dilakukan pemeriksaan
tanda-tanda vital TD: 120/80, N:93x/menit, T:36,7OC,RR:22 dan nyeri
dibagian otot dan sendi, sakit punggung, skala nyeri 4 (1-10), klien tampak
sulit berjalan, nyeri saat bergerak, tampak pucat.
AKS klien mengalami nyeri
akut.
b. Kepala
Ny
L tidak mengalami sakit kepala,
tidak ada riwayat trauma kepala pada masa lalu, Ny.S tidak mengalami gatal
dikulit kepala, dan rambut berwarna putih sedikit hitam. AKS klien tidak
terganggu.
c. Mata : masih dapat melihat tapi tidak jelas (AKS klien tidak terganggu)
d. Telinga
: Klien masih mampu untuk mendengar (AKS klien tidak terganggu).
e. Hidung
pada penciuman Ny.S tidak
memiliki gangguan sehingga tidak mengalami terganggunya aktifitas sehari-hari
AKS klien tidak terganggu.
f. Mulut Dan
Tenggorokan
Tidak memiliki gangguan
pada mulut dan tenggorokan, AKS pencernaan tidak terganggu.
g. Leher
Pada bagian leher Ny.S tidak
mengalami masalah leher masih dapat di gerakan AKS tidak terganggu.
h. Dada (Payudara)
Perubahan bentuk pada
dada,tidak ada gangguan untuk dalam proses bernafas
AKS tidak terganggu.
i. Alat Kelamin
Tidak ada masalah pada
alat kelamin, Ny.S mengatak sudah tidak lagi melakukan aktifitas sexual dengan
suami Tn. R mengatakan di karnakan faktor usia.
j. Aktremitas Atas dan Bawah
Ny.S mengatakan
tangan dan kaki sering kekakuan, ekstremitas atas kiri dan kanan mengalami
kekakuan saat dilakukan pengkajian kekuatan otot 3 (0-5), ekstrimitas bawah
terdapat kekakuan kaki (AKS mengalami gangguan mobiltas fisik, resiko cedera).
Pemeriksaan system tubuh
b. Haemopoetik
Tidak mengalami kelainan.
c. Integumen
Pada bagian sistem
integumen,rambut pada Ny.S mengalami perubahan warna,saat ini berubah menjadi
warna putih yang semula hitam dan berubah serta rontok.
d. Pernafasan
Dipengkajian pernafasan,
tidak adanya gangguan pada pola pernafasan Ny.S
e. Cardiovaskuler
Ny.S mengatakan tidak
pernah memeriksakan keluhan jantung nya karena tidak ada yang dirasakannya.
f.
Gastrointestinal
Klien tampak pucat dan
lemas, klien tidak mengkonsumsi susu dan sayur karena merasakan mual saat
dimakan, frekuensi makan klien 3x sehari.
g. Perkemihan
Untuk perkemihan, tidak
adanya keluhan yang dirasakan frekuensi berkemih 3x sehari warna dan bau khas
urine.
h. Moskuloskeletal
Di sistem musculoskeletal Ny.S
mengalami kekakuan dan kelemahan otot, nyeri pada otot dan sendi. Kekuatan otot
klien 3(1-5).
i.
Endokrin
pengkajian sistem endokrin
klien tidak terganggu.
j.
Sistem
Syaraf Pusat
Syaraf motorik klien tidak terganggu.
k.
Kondisi
Psikososial
Ny.S saat ini pada kondisi kurang baik
karena klien sulit melakukan aktivitas kegiatan nya sehari-hari.
Ny.S tampak sering sakit di daerah
punnggung kalau sedang melakuka aktifitas.
C.
Analisis Data
No
|
Data
|
Rasionalisasi
|
Masalah
|
1
|
Ds :
1. Ny.S mengatakan
a. Nyeri otot dan sendi
b. Nyeri dipunggung
Do :
1.
Skala nyeri 4 (1-10)
2.
Klien tampak menahan
nyeri
|
Agen pencedera fisik
|
Nyeri akut
|
2
|
Ds :
1. Klien mengatakan
Kaku dibagian kaki dan tangan
2. Klien merasakan
nyeri saat bergerak
Do :
1. Klien tampak lemah
2. Kekuatan otot klien
3 (0-5)
|
Kerusakkan integritas struktur tulang
|
Gangguan mobilitas fisik
|
3
|
Ds :
1. mengatakan
sulit berjalan
Do :
1. Klien tampak pucat
dan lemas
2. Klien sulit berjalan
|
Tulang osteoporosis
|
Resiko cedera
|
Tabel 1: analisa data
D. Diagnosa
12.
Nyeri
aku berhubungan dengan Agen pencedera fisik
Ds :
a. Ny.S mengatakan
1)
Nyeri
otot dan sendi
2)
Nyeri punggung
Do :
a.
Skala
nyeri 4 (1-10)
b.
Klien
tampak menahan nyeri
13.
Gangguan
mobilitas fisik berhubungan dengan Kerusakkan integritas struktur tulang
Ds :
a.
Klien
mengatakan kaku dibagia kaki dan tangan
b.
Klien
merasakan nyeri saat bergerak
Do :
a.
Klien
tampak lemah
b.
Kekuatan
otot klien 3
14.
Resiko
cidera ditandai berhubungan dengan Tulang osteoporosis
Ds :
a. Ny.S mengatakan sulit berjalan
Do :
a.
Klien
tampak pucat dan lemas
b.
Klien
sulit berjalan
E.
Intervensi
No
|
Diagnosa
|
Tujuan & kriteria hasil (NOC)
|
Intervensi (NIC)
|
1.
|
Kode : D.0077
Kategori : psikologis
Sub Kategori : nyeri dan kenyaman
Nyeri akut berhubungan dengan Agen pencedera fisik
Ds :
1. Tn.L mengatakan
Nyeri otot dan sendi
2. Tn.L mengatakan Nyeri punggung
Do :
1. Skala nyeri 4 (1-10)
Klien tampak
menahan nyeri
|
Setelh dilakukan tindakan keperawatan selama
3x8 jam/menit
Tingkat nyeri ( L. 08066)
Skala
1. Meningkat
1.
Cukup
meningkat
2.
Sedang
3.
Cukup
menurun
4.
Menurun
Dengan
kriteria :
1.
Keluhan
nyeri (skala 3 menjadi 5)
2.
Meringis
(skala 2 menjadi 4)
|
Intervensi keperawat
Manajemen nyeri (1.08238)
1. Identifikasi skala nyeri, lokasi,
karakteriksik, durasi, frekuensi, kualitas, dan intensitas nyeri
2. Berikan teknk nonarmakologis untuk
mengurangi rasa nyeri (mis: TENS, hypnosis, akupuntur , terapi music,
biofeedback, terapi pijit, aromaterapi , teknik imajinasi terbimbing ,
kompres air hanyat / dingin dan terapi bermain
3. Monitori keberhasil terapi komplementer
yang sudah diberikan
|
2.
|
Kode : D.0054
Kategori : fisiologis
Sub Kategori : Aktivitas/istrahat
Gangguan
mobilitas fisik berhubungan dengan Kerusakkan
integritas struktur tulang
Ds :
1. Klien mengatakan
kaku dibagia kaki dan tangan
2. Klien merasakan nyeri saat bergerak
Do :
1. Klien tampak lemah
2. Kekuatan otot klien 4
|
Setelh dilakukan tindakan keperawatan
selama 3x8 jam/menit
Tingkat nyeri ( L. 08066)
Skala
:
1.
Meningkat
2.
Cukup
meningkat
3.
Sedang
4.
Cukup
menurun
5.
Menurun
Dengan
kriteria :
1.
Kekuatan
otot (skala 2 menjadi 5)
|
Intervensi keperawat
Dukungan Ambulasi (1.086171)
1.
Identifikasi
adanya nyeri atau keluhan fisik lainnya
2.
Monitor
kondisi umum selama melakukan ambulasi
3.
Fasilitasi
mobilisasi fisik, jika perlu
|
3.
|
Kode : D.00136
Kategori : lingkungan
Sub Kategori : keamanan dan prokteksi
Resiko
cedera berhubungan dengan tulang osteoporosis
Ds :
Ny.S mengatakan sulit berjalan
Do :
1.
Klien tampak pucat
2.
Klien sulit berjalan
|
Setelh dilakukan tindakan keperawatan
selama 3x8 jam/menit
Tingkat cidera ( L. 14136)
Skala :
1.
Meningkat
2.
cukup meningkat
3.
sedang
4.
cukup menurun
5.
menurun
Dengan
kriteria :
1.
Kejadian
cidera (skala 4 menjadi 4)
2.
Luka/lecet(skala
3 menjadi 1)
|
Intervensi keperawat
Manajemen keselamatan lingkungan (1.114513),
1.
Identifikasi
kebutuhan keselamatan (mis. Kondisi fisik, fungsi kognitif, dan riwayat
prilaku)
2.
Modifikasi
lingkungan untuk meminimalkan bahaya dan resiko
3.
Ajarkan
individu, keluarga dan kelompok resiko tinggi bahaya lingkungan
|
Tabel 2 : intervensi
F.
Implementasi
Hari
/ tanggal
|
implementasi
|
evaluasi
|
senin
13
uni
2020
|
1.
Mengidentifikasi
skala nyeri, lokasi, karakteriksik, durasi, frekuensi, kualitas, dan
intensitas nyeri
2.
memberikan
teknk nonarmakologis untuk mengurangi rasa nyeri (mis: TENS, hypnosis,
akupuntur , terapi music, biofeedback, terapi pijit, aromaterapi , teknik
imajinasi terbimbing , kompres air hanyat / dingin dan terapi bermain
3.
memonitori
keberhasil terapi komplementer yang sudah diberikan
|
S: klien mengatakan nyeri pada bagian punggung
O: Nampak menahan sakit
A: intervensi belum teratasi
P: lanjutkan
|
senin
13 juni 2020
|
1.
mengdentifikasi
adanya nyeri atau keluhan fisik lainnya
2.
Memonitor
kondisi umum selama melakukan ambulasi
3.
memfasilitasi
mobilisasi fisik, jika perlu
|
S: klien mengatakan sulit bergerak
O: Nampak kesulitan bergerak
A: intervensi belum teratasi
P: lanjutkan
|
senin
13 juni 2020
|
1.
mengdentifikasi
kebutuhan keselamatan (mis. Kondisi fisik, fungsi kognitif, dan riwayat
prilaku)
2.
Memodifikasi
lingkungan untuk meminimalkan bahaya dan resiko
3.
mengajarkan
individu, keluarga dan kelompok resiko tinggi bahaya lingkungan
|
S: klien mengatakan sulit berjalan
O: Nampak berhati-hati ketika berjaln
A: intervensi belum teratasi
P: lanjutkan
|
Tabel 3: implementasi
BAB V
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Osteoporosis
merupakan penurunan masa tulang yang disebabkan ketidak seimbangan resorpsi
tulang dan pembentukkan tulang. Pada osteoporosis terjadi peningkatan
resorporsi tulang atau penurunan pembentukan tulang (Asikin;dkk 2012: 101).
Osteoporosis
yang lebih dikenal dengan keropos tulang menurut WHO adalah penyakit sekeletal
sistemik dengan karakteristik masa masa tulang yang rendah dan perubahan
mikroarsitektur dari jaringan tulang dengan akibat meningkatnya fragilitas
tulang dan meningkatnya kerentanan terhadap patah tulang (Lukman, ningsih 2013: 141).
B.
Saran
1.
Untuk mahasiswa diharapkan agar memahami segelah
penjelasan dalam makalah ini dan menjadi salah sau referensi pembelajaran
2.
Untuk dosen diharapkan segalah kritik dan saran agar
kedepanya bisa membua makalah asuhan keperawatan Osteoforosis bisa lebih baik
lagi.
DAFTAR PUSTAKA
1. Ramadani M. Faktor-Faktor Resiko Osteoporosis Dan Upaya
Pencegahannya. J Kesehat Masy Andalas. 2010;4(2):111-115.
2. Rosenfeld JA. Osteoporosis. Handb Women’s Heal Second Ed.
2009;1:319-324. doi:10.1017/CBO9780511642111.028
3. Sain BI, Kp S. ASKEP pada Klien dengan gangguan Metabolisme
Tulang : OSTEOPOROSIS. :42-52.
4. Marjan AQ, Marliyati SA. Hubungan Antara Pola Konsumsi Pangan
Dan Aktivitas Fisik Dengan Kejadian Osteoporosis Pada Lansia Di Panti Werdha
Bogor. J Gizi dan Pangan. 2014;8(2):123.
doi:10.25182/jgp.2013.8.2.123-128
5. Goemmel R. Legal and Societal Responses to Threats
Resulting from Modern Science and Technology. Vol 13.; 2009.






osteoporosis merupakan penyakit yang sering terjadi pada lansia semoga dengan adanya makalah ini banyak yang membaca dan menyerap ilmunya sehingga dapat melakukan pencegahan terjadinya osteoporosis
BalasHapusAminn...🙏
HapusIMPLEMENTASI jenis evaluasinya formatif S&O
BalasHapusbuat kolom lain untuk evaluasi sumatif SOAP
Iye bu🙏
BalasHapus