ASUHAN KEPERAWATAN
CAISSON DISEASE
OLEH:
KELOMPOK IV
|
Anggi
anggraeni |
S.0017.P.004 |
|
Bangkit
astowin |
S.0017.P.011 |
|
Jeiren
crishtiana |
S.0017.P.020 |
|
Nurfita
|
S.0017.P.029 |
|
Tini
wahiyuni |
S.0017.P.038 |
SEKOLAH
TINGGI ILMU KESEHATAN
KARYA
KESEHATAN
KENDARI
2019
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur saya
panjatkan ke hadirat Allah SWT,Karena berkat rahmat-Nya kami dapat
menyelesaikan penyusunan makalah ini tepat pada waktunya. Terlantun solawat
serta salam buat untuk imam besar kita semua Nabi Muhammad SAW.
Kami menyadari bahwa
dalam penyusunan makalah ini masih banyak kekurangan, baik dari segi isi maupun
redaksinya. Makalah ini masih jauh dari kesempurnaan karena itu kami
mengharapkan kritik dan saran yang membangun agar dapat menyusun makalah yang
lebih baik di masa yang akan datang. Semoga makalah ini bermanfaat untuk
memberikan kontribusi bagi kita dalam memajukan ilmu keperawatan.
Kendari, 23 juli 2020
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar
belakang
Indonesia merupakan negara
kepulauan dengan daya tarik wisatawan yang tinggi. Sepanjang tahun banyak
wisatawan baik lokal maupun mancanegara yang datang untuk menikmati keindahan
laut Indonesia dengan menyelam. Selain wisatawan banyak juga masyarakat
Indonesia yang mencari ikan dengan cara menyelam pada laut dalam. Namun ternyata
aktivitas menyelam ini berisiko menyebabkan penyakit dekompresi(1).
Istilah Caisson sendiri
sebenarnya lebih dikenal dengan sebutan penyakit dekompresi namun pada saat ini
istilah Caisson lebih sering digunakan untuk membedakannya dengan penyakit
akibat tekanan udara rendah(2).
Penyakit dekompresi (DCI)
adalah istilah yang digunakan untuk mencakup cedera akibat emboli gas arteri
(AGE) dan penyakit dekompresi (DCS). AGE biasanya hasil dari kerusakan yang
disebabkan oleh barotrauma paru pada dinding alveolar dan masuknya gas ke dalam
sirkulasi arteri sistemik. DCS, hasil dari pelepasan gas yang tidak terkendali
dari jaringan selama atau setelah permukaan dengan waktu yang tidak memadai
untuk keseimbangan (dekompresi)(3).
prevalensi terjadinya penyakit dekompresi belum
diketahui secara pasti. Di Eropa, diperkirakan terdapat 10-100 orang penyelam
per-tahun yang mengalami cedera dan membutuhkan penanganan rekompresi akibat
penyakit dekompresi yang dialami(1).
Jumlah nelayan di Indonesia yang menunjukkan gejala
penyakit dekompresi adalah 15,3%. Tahun 2006 di Pulau Bungin NTB, sebanyak
57,5% nelayan penyelam menunjukkan gejala penyakit dekompresi berupa nyeri
persendian, sedangkan di Kepulauan Seribu, DKI Jakarta sebanyak 6,91% mengalami
kelainan dekompresi. Insiden penyakit dekompresi di Karimunjawa adalah 56,1%
pada penyelam nelayan(4).
Sulawesi Tenggara angka penyakit akibat gangguan
saluran pernafasan mencapai 75 % pada tahun 2012, yang termasuk di dalamnya TB
paru, ISPA dan gangguan pernafasan lainnya, termasuk penyakit dekompresi,
semantara distribusi kasus menurut Kabupaten/Kota menunjukan, kasus tertinggi
terjadi di Kabupaten Konawe Selatan (792 kasus) dimana 54 kasus diantaranya
adalah kasus penyakit akibat dekompresi(5).
tatalaksana yang dapat diberikan adalah memberikan
100% oksigen bertekanan tinggi atau hyperbaric oxygen therapy (HBOT). Sebagian
besar gejala penyakit dekompresi akan segera berkurang jika terapi dilaksanakan
dengan segera(1).
Oksigen bertekanan tinggi mempercepat disolusi gas
mulia di dalam pembuluh darah dan memberikan perfusi yang baik untuk jaringan
yang rusak pada penyakit dekompresi. Tekanan udara 2 ATA (atmosphere absolute)
akan mengurangi volume gelembung gas sebesar 50% dan radius gelembung sebesar
21,7%. Selain itu oksigen bertekanan tinggi dapat mencegah penyerapan gas mulia
sehingga akan mempersingkat waktu pengobatan secara keseluruhan. Selain
memberikan oksigen bertekanan tinggi, penyakit dekompresi diatasi juga dengan
melakukan rekompresi(1).
Akibat rendahnya pengetahuan masyarakat tentang
metode penyelaman yang benar terutama pemahaman tentang hyperbarik dan penyakit
penyelaman, banyak penyelam yang kemudian mendapat cacat fisik seperti tuli,
lumpuh dan gangguan syaraf lainnya. Oleh karena itu, peran perawat sangat
dibutuhkan. Sebagai seorang perawat maritim disini kita harus sering memberikan
penyuluhan tentang metode penyelaman yang benar terutama pemahaman tentang
hyperbarik dan penyakit penyelaman guna mencegah terjadinya penyakit dekompresi
atau caisson disease ini pada masyarakat maritim.
B.
Tujuan
1. Mahasiswa
mengetahui proses terjadinya penyakit caisson disease
2. Mahasiswa
mengetahui cara mencegah caisson disease
3. Mahasiswa
mampu merumuskan rencana asuhan keperawatan pada penyakit caisson disease
C.
Manfaat
1. Bagi
mahasiswa, makalah ini dapat dijadikan sebagai bahan reverensi untuk materi
kasus caisson disease
2. Bagi
masyarakat, makalah ini dapat memberikan edukasi tentang penyebab serta
pencegahan caisson disease
3. Bagi
Ilmu pengetahuan keperawatan, makalah ini dapat dijadikan sebagai update
BAB
II
TINJAUAN
TEORI
A.
Definisi
Penyakit
dekompresi adalah suatu penyakit atau kelainan-kelainan yang disebabkan oleh
pelepasan dan mengembangnya gelembung- gelembung gas dari fase larut dalam
darah atau jaringan akibat penurunan tekanan disekitarnya(6).
Penyakit
dekompresi adalah penyakit dengan berbagai tingkat keluhan dan gejala, yang
dapat mengganggu seluruh sistem organ tubuh dengan penyebab yang sama yaitu
terbentuknya gelembung nitrogen dalam jaringan dan darah. Gelembung terjadi
akibat berkurangnya tekanan barometer yang menyertai penyembulan, tetapi
biasanya menjadi jelas setelah 24 jam(6).
Penyakit
dekompresi atau bisa juga disebut dengan caisson disiase merupakan penyakit
akibat kerja penyelaman yang disebabkan oleh pelepasan dan mengembangnya
gelembung gas dari fase larut dalam darah atau jaringan akibat penurunan
tekanan lingkungan yang mendadak.
B.
Etiologi
Penyakit
dekompresi disebabkan karena masuknya udara ke dalam sirkulasi darah atau
jaringan setelah atau selama terjadinya penurunan tekanan di lingkungan sekitar
Udara tersebut berasal dari gas mulia (umumnya gas nitrogen) yang secara normal
terlarut di dalam carian tubuh dan jaringan. Gas tersebut kemudian terlepas
dari cairan fisiologis dan membentuk gelembung udara pada lingkungan dengan
tekanan rendah. Berdasarkan hukum Henry, ketika tekanan gas pada cairan
berkurang maka gas yang terlarut dalam cairan tersebut juga berkurang.
Sedangkan apabila tekanan gas pada cairan meningkat, maka gas yang terlarut
dalam cairan juga meningkat(1).
C. Patofisiologi
Pembentukan
gelembung gas di jaringan atau dalam sirkulasi dianggap sebagai mekanisme untuk
semua jenis penyakit dekompresi.35 Selama menyelam, gas inert dilarutkan dalam
jaringan. Setelah berjam-jam, keadaan keseimbangan dapat dicapai antara gas
pernapasan dan jaringan, yang dikenal sebagai saturasi. Saat penyelam naik ke
permukaan, nitrogen berdifusi dari jaringan ke dalam darah dan dari darah ke
paru-paru. Karena tekanan parsial gas inert dalam darah dan jaringan melebihi
tekanan ambien, gelembung terbentuk di jaringan dan pembuluh darah, yang dapat
menyebabkan sindrom klinis penyakit dekompresi. Dalam kasus penyakit dekompresi
yang berat, menunjukkan adanya gelembung-gelembung gas dalam pembuluh darah dan
jaringan ekstravaskuler. Timbulnya gelembung-gelembung gas berhubungan dengan
timbulnya peristiwa supersaturasi gas dalam darah ataupun jaringan tubuh pada
waktu proses penurunan tekanan di sekitar tubuh (dekompresi).
Kondisi
supersaturasi gas dalam darah dan jaringan sampai suatu batas tertentu masih
bisa ditoleransi, dalam arti masih memberi kesempatan gas untuk berdifusi
keluar dari jaringan dan larut dalam darah, kemudian ke alveoli paru dan
diekshalasi keluar tubuh. Setelah melewati suatu batas kritis tertentu
(supersaturation critique), kondisi supersaturasi akan menyebabkan gas lepas
lebih cepat dari jaringan atau darah dalam bentuk tidak larut, yaitu berupa
gelembung gas. Gelembung-gelembung gas ada yang terbentuk dalam darah
(intravaskuler), jaringan (ekstravaskuler) dan dalam sel (intraseluler).
Setelah
penyelaman mungkin dideteksi dengan doppler detector adanya gelembung-gelembung
gas dalam darah, walaupun tidak ada gejala penyakit dekompresi (silent
bubbles). Dengan adanya fenomena seperti di atas, maka pengertian batas kritis
supersaturasi gas yang berbahaya untuk menimbulkan gejala penyakit dekompresi
sebetulnya tidak terletak pada kapan mulai timbul gelembung gas nitrogen,
melainkan pada kapan gelembung gas nitrogen tersebut membesar volume dan
jumlahnya. Ada korelasi antara jumlah gelembung gas yang terbentuk dengan
kemungkinan timbulnya atau berat ringannya penyakit dekompresi. Gelembung gas
ekstravaskuler menimbulkan distorsi jaringan dan kemungkinan kerusakan sel-sel
di sekitarnya. Ini bisa mengakibatkan gejalagejala neurologis maupun gejala
nyeri periartikuler. Gelembung gas intravaskuler akan menimbulkan sumbatan,
menyebabkan iskemia atau kerusakan jaringan sampai infark jaringan. Konsep
jaringan cepat dan lambat penting untuk memahami bentukbentuk klinis penyakit
dekompresi yang mungkin timbul. Darah adalah cairan tubuh yang tercepat
menerima dan melepaskan nitrogen. Darah menerima nitrogen dari paru dan
mencapai kejenuhan nitrogen dalam waktu beberapa menit. Otak termasuk jaringan
yang cepat karena mempunyai banyak suplai darah. Tulang rawan pada permukaan
sendi mempunyai suplai darah yang kurang, sehingga memerlukan waktu lebih lama
(sampai beberapa jam) untuk mencapai kejenuhan nitrogen. Penyelaman singkat dan
dalam akan menghasilkan pembebanan nitrogen yang tinggi pada jaringan-jaringan
cepat, sehingga bisa mengakibatkan gangguan pernafasan (chokes) atau gejala
neurologis. Penyelaman yang relatif dangkal tapi lama akan memberikan
pembebanan nitrogen yang kurang lebih sama antara jaringan cepat dan jaringan
lambat. Penyelaman seperti ini cenderung menimbulkan nyeri pada persendian
(bends), karena sendi adalah jaringan lambat dan tidak dapat melepas nitrogen
dengan cepat lewat darah.
D. Manifestasi klinis
Jika
penyelam melakukan penyelaman dalam kurun waktu yang cukup lama dan menghirup
gas inert maka penyakit dekompresi akan terjadi bersamaan dengan emboli udara
pada pembuluh arteri. Jika hal tersebut terjadi maka gejala utama yang akan
muncul adalah gangguan pada tulang belakang. Penyakit dekompresi hampir tidak
pernah terjadi setelah penyelaman pada kedalaman kurang dari 6 meter.Gejala
yang ringan seperti nyeri sendidan otot pada umumnya akan berkurang seiring
dengan berkurangnya kedalaman atau beberapa saat setelah selesai menyelam(1).
Penyakit
dekompresi adalah terkait dengan tingkat pembentukangelembung. Bila gelembung
yang larut hanya sedikit maka akan menimbulkan gejala yang ringan, namun bila
menghasilkan gelembung besar dapat mengakibatkan kegagalan multisistem dan
kematian(6).
E.
Klasifikasi
1. Tipe
I biasa disebut pain only bends dengan
gejala :
a. Nyeri
sendi dan sekitar, bertambah setelah 24 jam
b. 3-7
hari sembuh, jika tidak rekompresi
c.
Gatal-gatal, bercak kulit
d. Pusing,
mengantuk
e. Kelelahan
berlebihan.
2. Tipe
II, serius dan menyerang SSP dan Kardiopulmoner. Dengan gejala :
a. Otak
: Penglihatan kabur, Lumpuh/lemah separuh badan, Tidak bisa bicara, Bingung,
kejang, dan koma
b. Serebellum
: Sempoyongan, Gemetar/tremor, dan Sulit berbicara.
c.
Medulla spinalis : Nyeri rujukan, Lumpuh
/ lemah kedua tungkai atau ke 4 anggota gerak, kram, dan gangguan BAK dan BAB
F. Komplikasi
Dapat berupa paralisisresidual,
nekrosismiokardial, dan beberapa komplikasi lainnya akibat iskemik
G. Pemeriksaan penunjang
1.
Laboratorium
Padapenderitayang
dicurigai
mengalamipenyakitdekompresiyangDisertaidenganperubahanstatusmental,makahal-halyangperludievaluasiadalah
kadarglukosadarah,darahlengkap,kadarnatrium,magnesium,kalsium,danfosfor,saturasioksigen,kadar
etanol dan skriningobat-obatan lainnya, level karboksihemoglobin.
2.
Radiologi
a.
Foto toraks, untuk mencari bukti adanya
pneumotoraks, pneumomediastinum, emfisema subkutis, pneumoperikardium,
perdarahanalveolar, dan menurunnya aliran darah pulmoner yang disebabkan oleh
emboli pulmoner nirogen.
b.
CTScan kepala,jika status mentaltidak
membaik dengan menggunakan terapi hiperbarik, pertimbangkan etiologi lain.
c.
MRI, untuk melihat ada tidaknya lesi
fokal medulla spinalis, atau kerusakan jaringan otak akibatembolisasi gas
arterial
3. Pemeriksaan
penunjanglainnya, meliputi EKGdan/atau evaluasi saturasi oksigen.
H. Penatalaksanaan
1.
Selamatkan pasien dari air dan lakukan
imobilisasi bila dicurigai terdapat trauma
2.
Berikanoksigen 100%, intubasibila perlu,
dan berikan larutan Ringer Laktat secara intravena
3.
Aspiletse bagaian tiplatelet dapat
diberikan jika pasien tidak mengalami perdarahan, tetapi belum ada bukti
tentang halini. Gelembung nitrogen berinteraksi dengan platelet, dan
menyebabkan adhesi dan aktivasi, yang diduga berkontribusi pada obstruksi vena-
venamikro dan menyebabkan iskemia pada penyakit dekompresi.
4.
Jugatidakadadatayangmendukungpemberianterapiadjunctive,sepert
I rekompresi dengan helium/oksigen dan OAINS.
5.
Lakukanresusitasikardiopulmoner jika
perlu, needletorakosentesis jika terdapat pneumotorak stension atauangan
memposisikan pasien pada posisi Trendelenburg. Menempatkan pasien pada posisi
kepala dibawah dulu dilakukan untuk mencegah terjadinya embolisasiudara ke
otak. Tetapisekarang prosedurini tidak dilakukan lagi karena dapat menyebabkan
peningkatan tekanan intrakranial dan menyebabkan rusaknyasawar darah otak.
6.
Segera transport ke rumah sakit yang
memiliki fasilitas hiperbarik.
BAB
III
KONSEP
KEPERAWATAN
A.
Pengkajian
1.
Identitas klien, meliputi:Nama pasien,
tanggal lahir,umur, agama, jenis kelamin, status perkawinan, pendidikan,
pekerjaan, No rekam medis.
2.
Keluhan utama: keluhan nyeri pada dada.
3.
Riwayat kesehatan sekarang: Biasanya
klien masuk ke RS dengan keluhan utama sesak atau tidak sadarkan diri
4.
Riwayat kesehatan dahulu: Penyakit yang
pernah diderita, Penggunaan obat-obatan Alergi, Riwayat MRS sebelumnya, berapa
lama. tujuannya untuk mengumpulkan data
penunjang masa lalu, data diagnostik, pembedahan dll.
5.
Riwayat kesehatan keluarga: ada atau
tidak adanya keluarga yang menderita penyakit yang sama dengan klien.
6.
Pemeriksaan Fisik
a.
Umum : lemas, atau syok
b.
Status mental : adatidaknyadisorientasi
c.
Mata :
defeklapanganpandang,perubahanpadapupil,adatidaknyagelombang udarapadapembuluh
darah retina, atau nystagmus
d.
Mulut :tandaLiebermeister (daerah
pucatyangberbatas tegaspadalidah)
e.
Pulmo : takipnea, gagalnapas, distres
pernapasan, hemoptisis
f.
Jantung : takikardia, hipotensi,
disritmia, atau Hamman sign
g.
Gastrointestinal : muntah
h.
Genitourinaria : distensikandungkemih,
menurunnya produksi urin
i.
Neurologi : hiperestesia,hipoestesia,
paresis, kelemahanspinchterani, menghilangnya reflex bulbocavernosus, deficit motorikdansensorik,kejangfokal,
kejangumum, atau ataksia
j.
Muskuloskeletal : menurunnyaROM
k.
Limfatik : limfadema
l.
Kulit : gatal, hiperemia,sianosis, atau
pucat
B. Diagnose keperawatan
1.
Hambatan mobilitas fisik b.d gangguan
neuromuscular (D.0054)
2. Pola
napas tidak efektif b.d gangguan neuromukular( D.0005)
C. Intervensi
1.
Hambatan mobilitas fisik b.d gangguan
neuromuscular
Dukungan ambulasi ( 1.06171)
a.
Identifikasi adanya nyeri atau keluhan
fisik lainnya
b.
Fasilitasi aktifitas ambulasi dengan
alat ( missal, tongkat)
c.
Jelaskan tujuan dan posedur ambulasi
2.
Pola napas tidak efektif b.d gangguan neuromukular
Manajemen jalan napas (
D.01011)
a.
Mengidentifikasi dan mengelola kepatenan
jalan napas.
b.
Monitor pola napas
c.
Berikan minum hangat
d.
Ajarkan tehnik batuk efektif
e. Kolaborasi
pemberian bronkodilator, jika perlu.
BAB IV
ASUHAN KEPERAWATAN
A.
Kasus
Pasien datang ke rumah sakit di
antar oleh rekannya dalam keadaan tidak sadar. Rekan pasien yang mengantar
mengatakan 30 menit yang lalu pasien menyelam di pantai dan setelah dipermukaan
tidak lama kemudian pasien pingsan. Setelah sadar pasien mengeluh mengalami
kelemahan ekstremitas bawah setelah menyelam, sesak, nyeri pada persendian, dan
nyeri kepala, dan mati rasa pada ekstremitas bawah. Hasil tanda-tanda vital
didapatkan, TD : 90/80mmHg, RR: 24x/mnt, N: 100x/mnt, S : 35,50C. Hasil lab
didapatkan, Leukosit 8.200/ul, Eritrosit: 5,10 juta/ul, Hb: 16%, Trombosit:
198.000/ul, Glukosa test: 111mg/Dl. Tampak parapharese inferior, aktivitas
pasien selalu dibantu keluarga, napas cepat. Hasil radiologi, foto thorax
terdapat emboli pada paru-paru. Hasil MRI, terdapat nekrosis iskemik metafisis
dan diafisis sum-sum tulang. Kekuatan otot :
Pengkajian
1.
Biodata
pasien
a.
Nama :
Tn. A
b.
Jenis kelamin : laki-laki
c.
Tempat, tanggal lahir/usia : Kendari, 30
januari196
d.
Alamat :
Kota kendari
e.
Pekerjaan : Nelayan
f.
Status
Perkawinan : Kawin
g.
Agama :
Islam
h.
Suku bangsa/ras : Bajo
i.
Pendidikan terakhir : SMP sederajat
j.
Diagnosa medis : caisson disease
2. Identitas keluarga/wali
a. Nama : Tn. R
b. Jenis
kelamin :
Laki-laki
c. Usia :
40 tahun
d. Alamat
:
Kota kendari
e. Hubungan
keluarga dengan pasien : Ayah
3. Riwayat kesehatan
a. Keluhan
utama saat MRS :
klien tidak sadarkan diri
b. Keluhan
utama saat pengkajian :pasien
mengeluh mengalami kelemahan ekstremitas bawah setelah menyelam, sesak, nyeri
pada persendian, dan nyeri kepala, dan mati rasa pada ekstremitas bawah
c. Riwayat
kesehatan dahulu :Pasien tidah pernah
mengalali sebelumnya
d. Riwayat
penyakit yang pernah diderita : Tidak
ada
e. Kebiasaan :
Minum kopi
f. Riwayat
alergi :
Tidak ada
g. Riwayat
kehamilan :
Tidak ada
h. Riwayat
kesehatan keluarga :
4. Keadaan umum dan tanda-tanda vital
5. TD
: 90/80mmHg, RR: 24x/mnt, N: 100x/mnt, S : 35,50C.
a. Td : 90/80 MmHg
b. N : 100 X/Menit
c. S : 36,5o C
d. R
: 24 X/Menit
6. Pengkajian fisik (integumen)
a.
Inspeksi
1) Edema :
2) Diaphoresis :
3) Kelembapan
kulit :
4) Warna
kulit :
5) Drainase :
6) Balutan : Tidak ada
7) Ulkus/luka : Tidak ada
8) Kelainan
rambut : Tidak ada
9) Kelainan
kuku : Tidak ada
b. Palpasi
1) Suhu : hangat
2) Turgor : Tidak ada
3) Nyeri
tekan :
DATA FOKUS
|
DATA OBJEKTIF |
DATA SUBJEKTIF |
|
1.
Rekan pasien yang mengantar mengatakan 30 menit yang lalu pasien menyelam di
pantai |
1. Hasil
tanda-tanda vital didapatkan, TD : 90/80mmHg, RR: 24x/mnt, N: 100x/mnt, S :
35,50C |
|
2.
dan setelah dipermukaan tidak lama kemudian pasien pingsan |
2.
Tampak parapharese inferior, aktivitas pasien selalu dibantu keluarga, napas
cepat. Hasil radiologi, foto thorax terdapat emboli pada paru-paru, |
|
3.
pasien mengeluh mengalami kelemahan ekstremitas bawah setelah menyelam, |
3. Hasil
radiologi, foto thorax terdapat emboli pada paru-paru. |
|
4.
sesak, |
4. Hasil
MRI, terdapat nekrosis iskemik metafisis dan diafisis sum-sum tulang |
|
5.
nyeri pada persendian, |
5. Hasil
lab didapatkan, Leukosit 8.2000/ul, Eritrosit: 5,10 juta/ul, Hb: 16%,
Trombosit: 198.000/ul, Glukosa test: 111mg/Dl |
|
6.
dan nyeri kepala |
6.
Kekuatan otot : |
|
7. dan mati rasa
pada |
|
ANALISIS DATA
1.
Nama :
Tn.A
2.
Dignosa :
caisson disease
3.
Umur :
30
thn
|
No |
Data |
Etiologi |
Problem |
|
1. |
DO: 1.
Rekan pasien yang mengantar mengatakan 30 menit yang lalu pasien menyelam di
pantai 2.
Setelah dipermukaan tidak lama kemudian pasien pingsan 3.
Setelah sadar pasien mengeluh mengalami kelemahan ekstremitas bawah setelah
menyelam 4.
Klien mengeluh nyeri pada persendian 5.
Klien mengeluh nyeri kepala 6.
Klien mengeluh mati rasa pada ekstremitas bawah DS : 1.
Hasil TTV : TD : 90/80mmHg, N: 100x/mnt, S : 35,50C 2.
Hasil lab didapatkan, Leukosit 8.2000/ul, Eritrosit: 5,10 juta/ul, Hb: 16%,
Trombosit: 198.000/ul, Glukosa test: 111mg/Dl. 3.
Tampak parapharese inferior 4.
Aktivitas pasien selalu dibantu keluarga, 5.
Hasil MRI, terdapat nekrosis iskemik metafisis dan diafisis sum-sum tulang 6.
Kekuatan otot : |
gangguan
neuromuskular |
Hambatan mobilitas fisik
b.d gangguan
neuromuskular |
|
2. |
DO : 1. Rekan
pasien yang mengantar mengatakan 30 menit yang lalu pasien menyelam di pantai 2.
Setelah dipermukaan tidak lama kemudian pasien pingsan 3.
Setelah sadar pasien mengeluh sesak DS: 1. Hasil
TTV: RR: 24x/mnt 2. Napas
klien tampak cepat. 3. Hasil
radiologi, foto thorax terdapat emboli pada paru-paru |
Gangguan
neuromuskular |
Pola napas tidak
efektif b.dgangguan neuromuskular |
INTERVENSI ASUHAN
KEPERAWATAN
Nama Inisial Pasien : Tn. A Diagnosa
Medis : Diabetes militus
Umur : 30 Thn No. Register :
|
NO |
Diagnosa
Keperawatan |
Tujuan & Kriteria
Hasil (NOC) |
Intervensi
(NIC) |
|
|
Kategori:fisiologis Subkategiri:aktivitas dan istrahat Kode:D.0054 Gangguan mobilitas fisik b.d gangguan neuromuscular ditandai
dengan : DO: 1.
Rekan pasien yang mengantar mengatakan 30 menit yang lalu pasien menyelam di
pantai 2.
Setelah dipermukaan tidak lama kemudian pasien pingsan 3.
Setelah sadar pasien mengeluh mengalami kelemahan ekstremitas bawah setelah
menyelam 4.
Klien mengeluh nyeri pada persendian 5.
Klien mengeluh nyeri kepala 6.
Klien mengeluh mati rasa pada ekstremitas bawah DS : 1.
Hasil TTV : TD : 90/80mmHg, N: 100x/mnt, S : 35,50C 2.
Hasil lab didapatkan, Leukosit 8.2000/ul, Eritrosit: 5,10 juta/ul, Hb: 16%,
Trombosit: 198.000/ul, Glukosa test: 111mg/Dl. 3.
Tampak parapharese inferior 4.
Aktivitas pasien selalu dibantu keluarga, 5.
Hasil MRI, terdapat nekrosis iskemik metafisis dan diafisis sum-sum tulang 6.
Kekuatan otot : |
Setelah di
lakukan tindakan keperawatan Selama 1 X 24
jam: mobilitas fisik (L.05042) skala 1
(meningkat), 2 (cukup meningkat ), 3. (sedang ),4 (cukup menurun), 5 (menurun
). Kriteria hasil
: a.
Pergerakan
ekremitas (dari skala 3 menjadi 4) b.
Kekuatan oton
(dari skala 2 menjadi 4) c.
Rentang gerak
(ROM) (dari skala 3 menjadi 5) |
Intervensi Keperawatan Dukungan
ambulasi (1.06171) a.
Indentifikasi
adanya nyeri atau keluhan fisik lainnya b.
Fasilitasi
aktifitas ambulasi dengan alat bantu (misal, tongkat) c.
Jelaskan
tujuan dan prosedur |
|
|
Kategori:fisiologis Subkategiri:respirasi Kode:D.0005 Pola napas tidak efektif b.d gangguan neuromuscular ditandai
dengan : DO : 1.
Rekan pasien yang mengantar mengatakan 30 menit yang lalu pasien menyelam di
pantai 2.
Setelah dipermukaan tidak lama kemudian pasien pingsan 3.
Setelah sadar pasien mengeluh sesak DS: 1.
Hasil TTV: RR: 24x/mnt 2.
Napas klien tampak cepat. 3.
Hasil radiologi, foto thorax terdapat emboli pada paru-paru |
Setelah di
lakukan tindakan keperawatan Selama 1 X 24
jam: pola napas (L.01004) skala 1 (memburuk), 2 (cukup memburuk ), 3.
(sedang ),4 (cukup memburuk), 5 (membaik ). Kriteria hasil
: a.
Frekuensi
napas (dari skala 3 menjadi 4) b.
Kedlaman napas
(dari skala 2 menjadi 4) |
Intervensi Keperawatan Manajemen
jalan napas ( 1.01011) a. Mengidentifikasi
dan mengelola kepatenan jalan napas. b. Monitor
pola napas c. Berikan
minum hangat d. Ajarkan
tehnik batuk efektif e. Kolaborasi
pemberian bronkodilator, jika perlu. |
IMPLEMENTASI
DAN EVALUASI
Nama Inisial Pasien : Tn.
A Diagnosa
Medis : Caisson
diseasse
Umur : 30 Thn No.
Register :
|
Diagnosa Keperawatan |
Implementasi |
Evaluasi |
|
|
Jam |
Tanggal : 1 Februari 2020 |
Hari/tanggal: 3
Februari 2020 Jam : 06.10 |
|
|
Kategori:fisiologis Subkategiri:aktivitas
dan istrahat Kode:D.0054 Gangguan mobilitas
fisik b.d gangguan neuromuscular |
07.10 |
a.
Indentifikasi
adanya nyeri atau keluhan fisik lainnya Hasil : klien sedikit meraskan nyeri b.
Fasilitasi
aktifitas ambulasi dengan alat bantu (misal, tongkat) Hasil : klien akan di bantu dengan
alat bantu c.
Jelaskan
tujuan dan prosedur Hasil : klien memhapi apa yg telah di
jelaskan |
S:klien
mengatakan pas sadar meneluh bagian ekremitas bawah kesakitan O:pasien
tidak sadarkan diri TTV TD : 90/80mmHg, N: 100x/mnt, S : 35,50C R : 20 X/Menit |
|
Kategori:fisiologis Subkategiri:respirasi Kode:D.0005 Pola napas tidak
efektif b.d gangguan neuromuscular |
|
a. Mengidentifikasi
dan mengelola kepatenan jalan napas. Hasil : pasien mengatakan merasa
sesak b. Monitor
pola napas Hasil : pasien mengatakan sudah
membaik c. Berikan
minum hangat d. Ajarkan
tehnik batuk efektif e. Kolaborasi
pemberian bronkodilator, jika perlu. |
S:klien
mengatakan sesak bernapas O:klien
sudah membaik |
|
No |
Diagnosa |
Evaluasi |
|
1. |
Kategori:fisiologis Subkategiri:aktivitas dan istrahat Kode:D.0054 Gangguan
mobilitas fisik b.d gangguan neuromuscular |
S:klien mengatakan pas sadar
meneluh bagian ekremitas bawah kesakitan O:pasien tidak sadarkan diri TTV TD : 90/80mmHg, N: 100x/mnt, S : 35,50C R : 20
X/Menit A:masalah belum teratasi P:
pasien
msih di rawat |
|
2. |
Kategori:fisiologis Subkategiri:respirasi Kode:D.0005 Pola
napas tidak efektif b.d gangguan neuromuscular |
S:klien mengatakan sesak bernapas O:klien sudah membaik A:masalah sudah teratasi P:
intervensi
dihentikan pasien pulang |
BAB
V
PENUTUP
A. kesimpulan
Penyakit dekompresi merupakan suatu penyakit yang
timbul setelah kegiatan rekreasional, bersifat fatal, namun dapat dicegah.
Setelah melakukan penyelaman maka seorang penyelam tidak boleh naik ke
permukaan secara cepat, namun harus perlahan untuk memberikan waktu eleminasi
gas inert di dalam tubuh. Semua pasien yang menunjukkan gejala penyakit
dekompresi setelah menyelam harus dianggap mengalami penyakit dekompresi sampai
terbukti bukan.
Rumusan asuhan keperawatan keperawatan pada kasus caisson disiasedari makalah ini, umumnya sama pada asuhan keperawatan
lainnya yang terdiri dari pengkajian, diagnosa, intervensi, implenentasi dan
evaluasi, dengan buku nanda nic noc sebagai bahan acuan.
B.
Saran
1.
Bagi mahasiswa,
intervensi yang dilakukan diatas dapat diterapkan untuk kasus caisson disiase. Namun, intervensi dapat lebih berkembang lagi dengan
menyesuaikan masalah tingkat keparahan dan masalah kesehatn yang menyertai
sehingga dibutuhkan pengembangan materi selanjutnya.
2.
Makalah ini juga dapat
dijadikan referensi untuk menambah pengetahuan masyarakat kususnya pada
lansia tentang caisson disiase.
3.
Bagi ilmu keperawatan,
makalah ini juga dapat dijadikan sebagai referensi tambahan mengenai caisson disiase pada
lansia
DAFTAR
PUSTAKA
1. Linggayani NMA, Ramadhian
R. Penyakit Caisson pada Penyelam. Fak Kedokt Univ Lampung. 2017;4(2):1–6.
2. Aziz andi azidah. STUDI KASUS SINDROMA CAISSON
PADA PENYELAM KOMPRESSOR DI PULAU BARRANG LOMPO MAKASSAR. 2010;19(2):47–59.
3. Pollock NW, Buteau D.
Updates in Decompression Illness. Emerg Med Clin North Am. 2017;35(2):301–19.
4. Widyastuti SR, Hadisaputro
S, Munasik M. Berbagai Faktor yang Berpengaruh Terhadap Kualitas Hidup Penyelam
Tradisional Penderita Penyakit Dekompresi. J Epidemiol Kesehat Komunitas.
2019;4(1):45.
5. Sukbar S, Dupai L, Munandar
S. Hubungan Aktivitas Penyelam Dengan Kapasitas Vital Paru Pada Pekerja Nelatan
Di Desa Torobulu Kecamatan Laeya Kabupaten Konawe Selatan Tahun 2016. J Ilm Mhs
Kesehat Masy Unsyiah. 2016;1(2):186995.
6. Nura FLA. IDENTIFIKASI
TANDA DAN GEJALA PENYAKIT DEKOMPRESI PADA PENYELAM TRADISIONAL DI DESA BOKORI
KECAMATAN SOROPIA KABUPATEN KONAWE. Identifikasi Tanda Dan Gejala Penyakit
Dekompresi Pada Penyelam Tradis Di Desa Bokori Kec Soropia Kabupaten Konawe
Karya. 2017;1–94.